Skip to content

Keikhlasan Syekh Mahmud Syaltut dalam Membimbing Muridnya

Alumnus Al-Azhar dari Yaman, Habib Hamid bin Abu Bakar Al-Muhdhar menulis sebuah memoar. Ia bersaksi betapa ikhlas sosok Syekh Mahmud Syaltut.

FOTO Syekh Mahmud Syaltut (paling kanan) bersama sejumlah syekh.
FOTO Syekh Mahmud Syaltut (paling kanan) bersama sejumlah syekh.

Kala membaca perseteruan antara Ahmad Surkati dan para syarif satu abad silam dalam buku Tarjamah Az-Za’im As-Sayyid Al-Habib Husain ibn Hamid Al-Muhdhar wa As-Salthanah Al-Qa’ithiyyah, saya menemukan sebuah memoar indah mengenai kepribadian Imam Akbar Syekh Mahmud Syaltut (wafat pada malam Isra Mi’raj, 27 Rajab 1383 H/1963 M) yang direkam langsung oleh penulis buku di atas, yakni Habib Hamid bin Abu Bakar Al-Muhdhar, cucu dari sosok yang kisahnya ia kumpulkan dalam buku tersebut sekaligus alumni Al-Azhar yang pernah berguru kepada Syekh Mahmud Syaltut. Memoar yang jarang didapatkan dalam buku biografi yang bercerita tentang Syekhul-Azhar satu ini.

Dalam bukunya, Habib Hamid bin Abu Bakar Al-Muhdhar mengisahkan, “Syekh Syaltut, di samping terkenal sebagai sosok yang pemberani, agung, dan berwibawa, ia adalah sosok yang terpandang di kalangan ulama. Aku pribadi memiliki memoar bersama beliau yang menunjukkan betapa agungnya sosok ini.

Suatu hari, aku berkeinginan untuk mengajukan diri mengikuti imtihan Al-‘Alimiyyah di Al-Azhar (Kala itu, jika ingin mengikuti imtihan di Al-Azhar, mesti mengajukan diri). Sejumlah sahabatku menyarankan agar terlebih dahulu meminta bantuan dari salah seorang alim yang piawai untuk memurajaah hal-hal penting sebelum imtihan. Aku pun mulai mencari. Hanya saja, meski di sekitarku terdapat banyak alim ulama, namun aku belum menemukan mereka yang dapat membantuku, karena mereka telah disibukkan dengan murid lain yang lebih penting dariku.

Aku pun mulai galau. Hingga suatu hari, Syekh Syaltut lewat di hadapanku setelah baru saja keluar dari Masjid Al-Azhar. Aku lalu mendekatinya, menyalaminya, mencium tangannya, meminta doanya, seraya memohon mengenai permasalahanku. Aku mengatakan kepadanya, ‘Aku dalam keadaan baik, hanya saja diriku telah mengajukan diri untuk mengikuti imtihan, namun belum menemukan mereka yang mau membantuku dalam memurajaah hal-hal yang mesti diulang.’

Ia memperhatikanku dengan seksama sembari menjawab, ‘Tidak ada seorang pun yang tidak sibuk. Aku pun juga disibukkan dengan memurajaah pelajaran untuk anak Syekh Muhammad Al-Maraghi. Kalaulah bukan karena itu, niscaya aku akan membantumu.’ Ia lalu melanjutkan, ‘Nanti akan kucoba menghubungimu kembali jika sudah ada kesempatan. Beritahu saja padaku di mana kamu tinggal beserta nomor rumahnya.’ Aku kemudian menyebutkan lokasi tempat tinggalku sembari mengucapkan terima kasih atas waktunya.

Aku tidak pernah menyangka, bahkan mungkin orang selainku, jika Syekh Syaltut dengan kedudukannya yang tinggi dalam segala hal akan menerima dengan tangan terbuka ajakan orang sepertiku. Salah satu hal yang lebih mengejutkanku adalah saat Syekh Syaltut justru benar-benar datang ke rumahku, lalu kembali berulang kali datang mengunjungi rumahku sepanjang masa persiapan imtihan Al-‘Alimiyyah. Kala itu, rumahku berada di Jalan Faruq di Gedung Syekh Bakri Qazzaz.

Biografi

Sepilihan riwayat hidup para tokoh dapat teman-teman temukan

di sini

Saat itu, kebetulan adalah masa di mana Syekhul-Azhar memecat lebih dari 60 ulama atas perintah istana Mesir. Di antara mereka yang dipecat adalah guru kami, Mahmud Syaltut.

Di masa itu, aku pergi ke rumahnya untuk pertama kali. Ternyata rumahnya selalu penuh dengan para pembesar ulama. Pada kunjungan ini, aku bertekad untuk memberikan hadiah sederhana. Aku terus duduk di sana hingga semua tamu pergi. Setelah sepi, kuberikan hadiahku dalam bentuk amplop. Namun ia tidak membukanya. Ia justru melemparkan amplop itu ke wajahku seraya menegur dengan keras, ‘Semoga Allah melaknat para ulama busuk yang berperilaku sedemikian rupa, sehingga memberi kesan kepada orang-orang seperti kamu bahwa tidak ada lagi ulama Mesir yang membimbing para murid tanpa berharap upah dan ganjaran (ikhlas).’

Teguran Syekh Syaltut semakin menjadi-jadi. Ia lalu mengusirku, menyuruhku untuk keluar dari rumahnya. Aku berusaha meminta maaf kepadanya. Ia pun meninggalkan rumahnya. Aku terus mengikutinya hingga ke jalan sembari terus memohon maaf kepadanya sampai ia memaafkanku. Ia akhirnya memaafkanku, sembari menaiki angkutan umum. Peristiwa itu benar-benar membuatku sedih dan menyesal. Aku pun kembali ke rumah, dengan semua kegundahan atas situasi yang telah terjadi.

Dari kisah ini, aku tidak mau menyembunyikan fakta bahwa aku sangat menganggap besar sosok Syekh Syaltut, meski ia telah melayangkan teguran keras kepadaku demi menjaga martabatnya yang tinggi. Waktu berlalu, aku akhirnya selesai mengikuti imtihan. Dua bulan kemudian, hasil imtihan keluar. Alhamdulillah, aku menjadi salah satu murid yang lulus.”

Membaca kisah ini, sangat banyak intisari dan pelajaran yang bisa kita dapatkan. Meski dalam cerita ini, penulis tidak ingin menyimpulkan banyaknya hikmah di dalam memoar ini. Karena terkadang, memoar indah justru menjadi sempit jika diringkas; justru luas jika dibiarkan. Biarlah para pembaca yang mengambil ibrah dari kisah ini. Semoga Allah senantiasa merahmati para alim ulama Al-Azhar, terkhusus kepada Imam Akbar Syekh Mahmud Syaltut.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BUDAYA atau tulisan menarik Amirul Mukminin

Latest