Skip to content

Memahami Hijab-hijab Menuju Allah dalam Kitab Misykah Al-Anwar

Imam Al-Ghazali melalui Misykah Al-Anwar menggambarkan lapisan hijab cahaya dan kegelapan yang menghalangi manusia dari cahaya-Nya.

FOTO Ilustrasi dan sampul kitab Misykah Al-Anwar karangan Imam Al-Ghazali (Unsplash/Emre)
FOTO Ilustrasi dan sampul kitab Misykah Al-Anwar karangan Imam Al-Ghazali (Unsplash/Emre)

Misykah Al-Anwar adalah kitab yang ditulis atas permintaan murid Imam Al-Ghazali yang ingin mengetahui hakikat dari Surah An-Nur ayat 35 dan hadits mengenai hijab-hijab (penghalang) menuju Allah SWT. Dalam pembukaan kitabnya, Imam Al-Ghazali mengutip sebuah hadis yang artinya:

“Allah memiliki tujuh puluh hijab dari cahaya dan kegelapan; jika Dia menyingkapkannya, niscaya cahaya wajah-Nya akan membakar siapa pun yang terjangkau oleh penglihatannya.”

Sebelum Imam Al-Ghazali benar-benar menjelaskan apa saja penghalang tersebut, beliau turut menghadirkan teks-teks hadis lain yang menyatakan bahwa jumlah penghalang yang sebenarnya bisa mencapai tujuh ratus atau tujuh puluh ribu. Sama seperti bagaimana beliau mentakwil Surah An-Nur ayat 35 yang tidak secara literal, angka-angka ini juga tidak boleh dipahami secara literal sebagai batas numerik, melainkan sebagai bentuk taktsīr (hiperbolisasi) untuk menunjukkan betapa banyak dan berlapisnya penghalang antara manusia dari tajalli (penampakan) Allah. Ia menegaskan bahwa Allah pada hakikatnya tidak pernah berhenti menampakkan diri-Nya; justru ketidaknampakan-Nya berasal dari ketidakmampuan makhluk untuk menerima dan menangkap pancaran cahaya-Nya. Oleh sebab itu, yang disebut “hijab” sesungguhnya bukan dari sisi Allah, melainkan dari sisi manusia sebagai makhluk yang terbatas. Menariknya, penghalang menuju Allah bukan hanya berupa kegelapan (kesyirikan dan buta hati) namun juga penghalang berupa cahaya (ilmu pengetahuan).

Imam Al-Ghazali mengklasifikan golongan-golongan yang terhalang dari tajalli Allah menjadi tiga bagian; mereka yang terhalang oleh kegelapan murni, mereka yang terhalang oleh cahaya murni dan mereka yang terhalang oleh campuran berupa kegelapan dan cahaya. Pertama, golongan manusia yang disebut oleh Al-Ghazali sebagai al-mahjubun bi mahdi al-zulmah (orang-orang yang tertutup oleh kegelapan murni) ialah Mereka terjebak dalam berbagai bentuk kegelapan batiniah, baik berupa kekeliruan intelektual, syahwat jasmani, maupun kebutaan hati oleh dunia. Al-Ghazali membaginya menjadi empat tipe utama: pertama, para naturalis atau materialis yang menafikan Tuhan dan hari akhir, serta menganggap alam ini adalah satu-satunya realitas murni. Kedua, para pengejar kenikmatan jasmani, baik yang memandang syahwat sebagai tujuan hidup maupun yang menilai kebahagiaan tertinggi ada pada kekuasaan dan dominasi. Ketiga, para pemburu harta yang rela menderita demi menimbunnya. Keempat, para pencari popularitas, kehormatan, dan pengaruh yang menjadikan pandangan manusia sebagai kiblat hidup. Golongan-golongan tersebut, meskipun berbeda orientasi lahirnya, namun disatukan oleh satu hal yang sama: ketiadaan cahaya keimanan yang murni dalam hati mereka. Kegelapan akidah, nafsu, tamak, dan riya’ membentuk tirai yang menghalangi mereka dari mengenal Allah. Inilah bentuk hijab paling gelap, yang tidak hanya menghalangi pandangan terhadap kebenaran, tetapi bahkan menyesatkan dari kebenaran itu sendiri.

Golongan kedua yang terhijab oleh campuran cahaya dan kegelapan terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah mereka yang terhijab oleh cahaya dan materi akibat kegagalan memahami transendensi Tuhan, sehingga memandang-Nya sebagai entitas materi. Al-Ghazali menguraikan enam kelompok dalam kategori ini: penyembah berhala yang menganggap patung dari emas atau perak sebagai wujud Tuhan, masyarakat primitif yang memuja keindahan lahiriah (pohon, gunung, angin) tanpa memahami hakikat di baliknya, penyembah api yang meyakini Tuhan sebagai sosok bercahaya dan agung, lalu menganggap api sebagai perwujudan-Nya, penyembah bintang yang menilai benda-benda langit lebih layak disembah karena tinggi dan bersinar,  penyembah matahari yang menganggap Tuhan harus paling besar dan terang; dan, kaum Tsanawiyyah yang menuhankan cahaya murni dan menolak mengaitkan Tuhan dengan keburukan, sehingga menciptakan dualisme cahaya-kegelapan. Meski ada pencarian spiritual di dalamnya, semua terjebak pada keterikatan inderawi dan tetap tertutup dari cahaya hakiki.

Biografi

Sepilihan riwayat hidup para tokoh dapat teman-teman temukan

di sini

Bagian kedua dari golongan kedua adalah mereka yang terhijab oleh cahaya bercampur kegelapan berupa khayalan. Mereka telah melampaui dunia indera dan mengakui realitas transenden, tetapi masih membayangkan Tuhan dengan ciri makhluk: bertempat, mengarah, atau duduk di singgasana. Kelompok ini mencakup mujassimah yang menisbatkan tubuh kepada Tuhan, dan sebagian kelompok Karrāmiyyah yang meski menolak jasad bagi Tuhan, tetap menempatkan-Nya di arah tertentu, khususnya ‘atas’. Bagi mereka, wujud yang tak terikat arah dianggap mustahil karena tak dapat dibayangkan. Pandangan ini menunjukkan keterkungkungan pada imajinasi, padahal puncak pemahaman intelektual dimulai dengan melepaskan Tuhan dari segala bentuk ruang, arah, dan batasan inderawi maupun khayali.

Bagian ketiga dari golongan kedua adalah mereka yang terhijab oleh cahaya tinggi namun tercampur kegelapan penalaran yang keliru. Mereka telah menempuh jalan rasional, menisbatkan sifat-sifat agung kepada Tuhan, dan menolak keberadaan-Nya dalam ruang atau arah. Namun, mereka tetap menyamakan sifat-sifat ilahi dengan sifat manusia, seperti memahami kalam Tuhan sebagai suara atau huruf, atau mengibaratkannya dengan ucapan batin manusia. Sifat mendengar dan melihat Tuhan pun mereka tafsirkan secara analogis dengan persepsi manusia, dan kehendak Tuhan dianggap muncul secara temporal seperti kehendak makhluk. Meskipun secara verbal menolak penyerupaan (tasybih), cara berpikir mereka tetap berada dalam jerat antropomorfisme yang lebih halus. Dengan demikian, seluruh golongan kedua ini, meski lebih dekat pada cahaya dibanding golongan pertama yang terhijab kegelapan murni, tetap tertahan pada lapisan hijab. Ada yang terperangkap oleh materi, ada yang terjebak pada khayalan, dan ada pula yang tersandung pada kesalahan nalar. Bagi Al-Ghazali, kegelapan mereka lebih halus, namun justru lebih berbahaya, karena dibungkus cahaya yang dapat menipu—membuat mereka merasa telah mencapai kebenaran, padahal masih terhalang dari hakikat Tuhan yang murni.

Golongan ketiga adalah mereka yang terhijab oleh cahaya murni—terhalang bukan karena kegelapan, melainkan karena intensitas cahaya yang melampaui kapasitas penerimaan mereka. Dalam Misykah Al-Anwar, Al-Ghazali membaginya menjadi tiga kelompok. Pertama, mereka yang memahami sifat-sifat Tuhan secara mendalam, menyadari bahwa istilah seperti kalam, iradah, dan qudrah tidak serupa dengan sifat manusia. Mereka memilih mendeskripsikan Tuhan melalui hubungan-Nya dengan makhluk, sebagaimana Nabi Musa menjawab Firaun dengan menyebut Tuhan sebagai Pengatur semesta, bukan dengan definisi esensial. Kedua, mereka yang meyakini struktur langit bertingkat, masing-masing digerakkan oleh malaikat yang berbeda, sementara Tuhan adalah penggerak langit tertinggi (al-jirm al-aqshā) yang meliputi seluruh kosmos. Karena Tuhan Mahasatu, mereka menolak atribusi banyak gerakan langsung kepada-Nya. Ketiga, mereka yang memandang Tuhan tidak menggerakkan alam secara langsung, tetapi melalui amr (perintah) yang dilaksanakan para malaikat sebagai pelaksana kehendak-Nya, bagaikan rembulan yang memantulkan cahaya matahari. Rincian mekanisme ontologis dan epistemologis perintah ini, menurut Al-Ghazali, terlalu kompleks untuk dijelaskan di sini. Golongan ini menempati puncak spektrum hijab: terhalang bukan karena menjauh dari kebenaran, melainkan karena cahaya itu sendiri terlalu terang untuk dapat ditangkap secara langsung.

Lantas siapakah orang yang tidak termasuk keadalam tiga golongan di atas? Di akhir kitab ini, Imam Al-Ghazali menjelaskan puncak dari perjalanan spiritual ini adalah para washilun—yakni orang-orang yang benar-benar “sampai” kepada Tuhan. Mereka adalah segolongan kecil dari manusia yang mampu menembus bukan hanya hijab kegelapan (materi, khayal, atau logika rusak), tapi juga hijab cahaya ilahiah itu sendiri. Mereka tidak terjebak menyembah penampakan Tuhan seperti malaikat, langit, atau penggerak langit, melainkan terus menanjak secara eksistensial kepada Tuhan yang mutlak. Dalam proses ini, ada yang masih menyisakan pandangan terhadap dirinya sebagai subjek penyaksian (yakni yang memandang Tuhan dan dirinya sebagai dua entitas), sementara ada pula yang larut sepenuhnya dalam fana’, musnahnya diri dalam kehadiran Tuhan, sehingga yang tersisa hanyalah “Al-Wahid Al-Haqq” (Yang Maha Esa, Yang Nyata).


💡
Baca juga ulasan lain di rubrik RESENSI atau tulisan menarik Makkis Fuadatal Qodisiyiah

Latest