Kepulauan Nusantara telah lama dikenal oleh dunia, termasuk dunia Islam. Sebab, secara geografis kawasan ini terletak di persimpangan jalur perdagangan barat dan timur. Hampir seluruh pedagang yang datang dari kawasan Benua Eropa, Benua Afrika, dataran Arab, Persia dan India, jika berdagang ke Cina, bisa dipastikan melintas dan singgah di kepulauan ini, begitupun sebaliknya. Apalagi kawasan ini juga dikenal dengan kekayaan komoditas perdagangannya.
Dalam literatur Arab, Kepulauan Nusantara sudah terekam dalam catatan perjalanan semenjak abad-abad awal Hijriah. Dalam kitab Rihlah As-Sirafi yang ditulis oleh Abu Zaid As-Sirafi disebutkan rute jalur pelayaran dari Siraf menuju Cina. Siraf sendiri sekarang merupakan sebuah kawasan di Republik Islam Iran yang terletak tidak jauh dari Syiraz atau lebih dekat dengan Fairuz Abad. Biasanya dari Siraf berlayar menuju Muskat (sekarang wilayah Oman), lalu ke Gujarat, lalu ke selat antara India dan Srilanka, lalu menuju ke Kepulauan Andaman dan Nikobar melalui Teluk Benggala. Setelah itu memasuki kepulauan Nusantara dan kemudian menuju ke Cina melalui Khmer (Kamboja) dan Champa (Vietnam).
Hal yang perlu dicatat disini adalah bagian pertama dari kitab Rihlah As-Sirafi ditulis pada tahun 237 H (852 M) dari keterangan Sulaiman At-Tajir dan Ibnu Wahb. Sementara pada bagian kedua yang disampaikan langsung oleh As-Sirafi terdapat keterangan menarik terkait Kota Zabaj (Sriwijaya). Salah satu penjelasan tentang Zabaj adalah jarak pelayaran antara kawasan ini dengan Cina adalah perjalanan satu bulan. Selain itu, As-Sirafi juga menyebut bahwa raja di kawasan ini terkenal dengan nama Maharaja.
※ Hunian Orang-orang Jawi di Masjid Al-Azhar
Dalam kitab ‘Ajaib Al-Hind karya Buzurk bin Syahriyar Ar-Ramahurmuzi terdapat keterangan tambahan mengenai kerajaan Maharaja ini. Perlu dicatat bahwa kitab ini ditulis berdasarkan keterangan yang terjadi antara tahun 288 H (901 M) dan 342 H (954 M). Sebab kitab ini ditulis berdasarkan wawancara dari beberapa nakhoda dan juru mudi kapal (Rabban) yang biasa melintas di rute pelayaran Persia dan Cina. Meski kadang beliau juga tidak menyebut nama narasumber ceritanya. Tapi yang jelas, penulis sendiri juga merupakan nakhoda. Catatan tambahan yang memperjelas identitas Zabaj adalah adanya kebiasaan برسيلا (Bersila) tatkala menghadap sang raja. Bersila, kata Buzurk bin Syahriyar, adalah At-Tarabbu’. Kata bersila adalah kosakata bahasa Nusantara yang dituliskan dalam aksara Arab.
Selain catatan di atas, Buzurk bin Syahriyar juga menceritakan keberadaan jerapah aneh di dekat Fansur (Barus) yang berada di Pulau Lamuri (Sumatera). Ini menunjukkan bahwa para pelayar dan pedagang yang menuju ke Cina atau sebaliknya, menuju ke dataran India, Persia, dan Arab, di samping melintas juga singgah di Kepulauan Nusantara. Bahkan juga mencari komoditas perdagangan sekaligus menjajakan barang dagangannya di kepulauan ini.
Rute pelayaran di atas masih terus difungsikan sampai pada masa Ibnu Baththuthah (w. 779 H/ 1377 M). Ketika melintas di Kepulauan Nusantara untuk menuju Cina, beliau sempat singgah di Kerajaan Samudera Pasai. Beliau memberikan informasi jika rajanya beragama Islam dan bermazhab Syafi’i dalam fikih.
Tujuan paparan panjang ini adalah untuk melandasi asumsi kuat bahwa para pedagang yang berlayar dari dataran Arab dan Persia menuju ke Cina –pada masa antara Sulaiman At-Tajir dan Ibu Baththuthah- bisa dipastikan melintas dan singgah di Kepulauan Nusantara. Jika hal ini sudah jelas, kita masuk pada pokok bahasan inti, yaitu menyibak sosok murid Imam Al-Ghazali (w. 505 H/ 1111 M) yang melintas dan singgah di Kepulauan Nusantara.
Sosok yang dimaksud di sini adalah Syekh Abulhasan Sa’d Al-Khair bin Muhammad bin Sahl bin Sa’d Al-Anshari Al-Balansi Al-Andalusi Ash-Shini. Al-Anshari menandakan bahwa beliau merupakan keturunan Anshar. Sementara Al-Balansi dan Al-Andalusi menunjukkan bahwa beliau berasal dari Kota Valencia, Andalus. Sedangkan kata Ash-Shini menjadi nisbah yang sangat menarik untuk diamati. Karena berarti beliau dinisbahkan juga pada Negeri Cina.
Menurut Ibnu Al-Jauzi dalam kitab Al-Muntazham fi Tarikh Al-Muluk wa Al-Umam bahwa Syekh Sa’d Al-Khair melakukan perjalanan dari Andalusia sampai ke Negeri Cina. Beliau melakukan pelayaran dan menemui banyak rintangan dalam pelayarannya. Penggalan keterangan ini barangkali yang mendasari nisbah Ash-Shini yang disematkan di belakang nama tokoh ini. Alasan ini dinyatakan dengan tegas oleh Adz-Dzahabi dalam kitab Tarikh Al-Islam wa Wafayatu Al-Masyahir wa Al-A’lam. Beliau juga memberinya julukan Al-Faqih. Dalam pelayarannya, tentu beliau melintas dan singgah di Kepulauan Nusantara.
Masih dalam keterangan kitab Al-Muntazham, Syekh Sa’d Al-Khair memasuki Kota Baghdad dan belajar kepada Syekh Abu Hamid Al-Ghazali dan meriwayatkan hadits dari Ibnu Al-Bathir, Thirad bin Muhammad, dan masih banyak lagi. Penggalan ini juga sangat menarik, mengingat masa belajar beliau kepada Imam Al-Ghazali bertempat di Baghdad. Ini artinya terjadi sebelum Imam Al-Ghazali melakukan perjalanan spiritual ke berbagai kawasan. Karena perjalanan itu dilakukan oleh Sang Imam setelah berhenti mengajar di Baghdad.
Di samping belajar di Baghdad –lanjut Ibnu Al-Jauzi- Syekh Sa’d Al-Khair juga belajar di Khurasan dan belajar sastra kepada Syekh Abi Zakariyya At-Tibrizi (w. 502 H/ 1109 M), sastrawan dan ahli bahasa kondang yang juga murid dari Abul’Ala Al-Ma’arri. Syekh Sa’d Al-Khair dikenal juga sebagai pakar hadits (Muhaddits). Ibnu Al-Jauzi menyatakan bahwa ia belajar dan meriwayatkan banyak dari sosok ini.
Selain Ibnu Al-Jauzi, Adz-Dzahabi dalam Tarikh Al-Islam menyebutkan bahwa Ibnu ‘Asakir dan Ibnu As-Sam’ani, penulis kitab Al-Ansab, juga belajar kepada Syekh Sa’d Al-Khair. Sampai di sini kita bisa mengetahui daftar sejumlah guru dan murid sang Syekh, meski tidak terdapat informasi tahun kelahirannya. Beliau wafat pada hari sabtu, 10 Muharram tahun 541 H (1147 M).
※ Kehidupan Istimewa Para Syuhada’
Lantas, apa tujuan Syekh Syekh Sa’d Al-Khair berlayar ke Cina?
Dalam kitab Syadzarat Adz-Dzahab fi Akhbar Man Dzahab, Ibnu Al-‘Imad Al-Hanbali memberikan tambahan keterangan tentang motif pelayaran Syekh Sa’d Al-Khair. Di dalam kitab ini dikatakan bahwa beliau berlayar ke Cina untuk keperluan berdagang. Sehingga data ini menjadi sangat menarik. Karena memberikan informasi bahwa di samping sebagai ulama pakar hadits dan pakar ilmu fikih, beliau juga seorang saudagar. Bahkan sampai kata Ash-Shini melekat di belakang namanya. Kemungkinan besar beliau berulang-kali mendatangi negeri ini untuk misi dagang.
Baik dalam Al-Muntazham, Tarikh Al-Islam, maupun Syadzarat Adz-Dzahab, ketiganya sama-sama menyebutkan bahwa Syekh Sa’d Al-Khair bernisbah Ash-Shini dan belajar kepada Imam Abu Hamid Al-Ghazali. Sehingga, berdasarkan keterangan panjang di atas, Kepulauan Nusantara pernah dilintasi dan disinggahi oleh murid Imam Al-Ghazali. Setidaknya tanahnya pernah menjadi tempat sujud Syekh Sa’d Al-Khair, murid sang Hujjatul Islam. Semoga Kepulauan Nusantara senantiasa diisi dan dihuni oleh orang-orang saleh. Amin…