Skip to content

Belajar Bagaimana Para Sufi Mengimani Hari Akhir

Iman kepada akhirat tak hanya sekedar bayangan surga dan neraka. Tulisan ini mengajak kita belajar bagaimana para sufi memandang akhirat.

FOTO Ilustrasi
FOTO Ilustrasi

Ada sebuah ayat yang begitu mendasar untuk kita renungi bersama. Yaitu, “Wama Hadzihil Hayat ad-Dunya illa Lahwun wa Laibun, wa inna ad-Dar al-Akhirata lahiya al-Hayawan. Lau Kanu Ya’lamun” artinya, “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui” (Surah Al-Ankabut: 64). Namun, banyak dari kita yang belum mengerti maksud dari “akhirat” sebagai kehidupan yang sebenarnya dari ayat tersebut.

Lazimnya, ketika disebut kata akhirat, yang muncul dalam benak kita acapkali sebuah kekhawatiran, “Masuk Surga atau Neraka ya?”. Perasaan kita pada surga adalah harapan akan balasan kenikmatan yang tanpa batas. Sedang neraka sebaliknya, perasaan ancaman akan siksaan muncul. Inilah kelemahan kita: iman akan akhirat masih terjebak pada logika surga-neraka saja, padahal tanpa sadar di saat itulah iman tersebut telah syirik: melupakan apa di balik surga dan neraka, yaitu Allah SWT. Maka bagaimana sejatinya iman pada hari akhir?

Pada dasarnya, Allah SWT kerapkali menyertakan akhirat sebagai syarat pasca iman terhadap diri-Nya. Dalam Al-Quran, iman kepada Allah SWT yang digandengkan dengan iman pada hari akhir tertulis sebanyak 15 kali: tujuh kali di dalam Surah Al-Baqarah, lima di An-Nisa’, sekali di Ali 'Imran, Al-Ma'idah, dan At-Taubah. Tentu dengan konteks makna yang berbeda-beda. Tak hanya di dalam Al-Quran, dalam hadits Nabi juga acapkali menyebut iman kepada Allah SWT dan hari akhir sebagai pra-syarat berbagai perintah pada seorang mukmin. Sebagaimana redaksi, “Man Kana Yu’minu Billahi wal Yaum al-Akhir, Fal-Yaqul Khairan Au Liyasmut,” dan hadits-hadist lainnya.

Jika demikian, apa sebenarnya makna di balik Al-Yaum Al-Akhir itu? Hari Akhir  atau Al-Yaum Al-Akhir secara etimologi adalah kata umum yang mencakup segenap ajaran-ajaran eskatologis (as-sam'iyyat) dalam Islam seperti hari kiamat, kebangkitan, hisab hingga surga dan neraka. Kata akhirat yang kita ucapkan sehari-hari sebenarnya merujuk kepada diksi Al-Akhir  tersebut dengan arti, “batas dari dunia” atau “dunia pasca kematian”. Menurut jumhur ahli tafsir, konteks dari berbagai redaksi iman kepada hari akhir dalam Al-Quran adalah untuk menyanggah dan mengkritik orang-orang kafir yang tidak mengingkarinya. Mereka menolak kebangkitan pasca kematian dengan argumen Tuhan tidak bisa menghidupkan kembali sesuatu yang telah mati. Sebagaimana terangkum dalam Surah Al-An’am ayat 29, Surah Al-Mu’minun ayat 37 dan 82.

Dengan demikian, jika memang maksudnya adalah untuk beriman pada hari akhir, iman seperti apakah itu? Di sinilah letak permasalahannya. Iman sebagian dari kita masih terbatas pada “percaya”, namun absen dalam menyentuh kesadaran-kesadaran spiritual. Keimanan muncul sebatas karena cemas ataupun mengharap akan bayang-bayang surga dan neraka. Maka dari itu, saya ingin mengajak pembaca untuk belajar dari para sufi dalam memandang hari akhir, termasuk dalam hal ini surga dan neraka.

Hari Akhir Itu Sekarang Bukan Nanti

Iman pada level inilah yang disebut oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumi Ad-Din bisa terwujud dengan belajar Ilm Al-Mukasyafah—kadang disebut Ilm Thariq Al-Akhirah, Ilm Al-Bathin. Tiga term tasawuf yang dimaknai pada kondisi seseorang yang telah mendapatkan cahaya ilahi dalam hatinya setelah dibersihkan kotoran dan sifat-sifat yang terhina. Itulah fase ketersingkapan (Kasyaf) seorang salik dari hijab yang selama ini menghalanginya. Pada kondisi itu, ia tidak lagi terhijab oleh simbol-simbol syariat: dosa dan pahala, maksiat dan ketaatan, surga dan neraka, melainkan mereka mampu melihat maksud di baliknya: kesadaran dan kondisi hati (Ahwal Al-Qalb) dengan Tuhan. Dengan itu, menurut Imam Al-Ghazali akan tersingkap seluruh hakikat dari realitas: ketuhanan dengan segenap sifat dan tindakan-Nya, kenabian dan fungsinya, rahasia-rahasia dunia dan akhirat, hingga seluruh rahasia-rahasia hari akhir: surga-neraka, siksa kubur, shirat, mizan, dan perhitungan amal.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Tentang apa hakikat akhirat, Imam Al-Qusyairi menjelaskan pandangan atau isyarat-isyarat sufistik dalam tafsirnya, Lathaif Al-Isyarat. Dalam menafsirkan ayat dari Surah Al-Baqarah, “Wabil akhirati Hum Yuqinun”, “dan kepada akhirat mereka meyakini”, Imam Al-Qusyairi menyebut alasan mengapa mereka meyakini akhirat adalah karena mereka menyaksikan langsung perkara ghaib tersebut. Beliau mengutip hadits Haritzah bin Badr, ketika ditanya oleh Nabi, “Bagaimana engkau memasuki waktu pagi?” ia menjawab, “Aku masuk waktu pagi dengan sebenar-benarnya iman kepada Allah SWT, seolah aku (melihat) dengan para penduduk surga mereka saling mengunjungi, aku (melihat) dengan para penduduk neraka mereka saling berteriak, aku (melihat) dengan Arsy Tuhanku tampak secara jelas”. Lalu Rasulullah menjawab, “Engkau benar, menetaplah (pada iman itu)!.”

Dalam ayat yang lain yang berbicara Surga, “Dan berilah kabar gembira pada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa mereka akan mendapatkan surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.”(Surah Al-Baqarah: 25), Imam Al-Qusyairi menafsirkan ada dua macam surga yang dibuat berita gembira oleh ayat ini: pertama, surga di akhirat kelak (muajjalah) yang kenikmatannyya diberikan pada umumnya umat Islam. Ini adalah level surga yang kenikmatannya dipahami secara materiil: surga sebagai gudang balasan, tempat bertamasya, kebun-kebun keutamaan, diangkatnya derajat, tempat beristirahatnya manusia, dan sebagainya. Dengan bahasa lain, surga ini dipahami secara leterlek dari kata Al-Jannah sebagai balasan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh di ayat tersebut.

Namun, surga macam kedua berbeda dari pemahaman di atas, yakni surga yang disegerakan (Mu’ajjalah) oleh Allah SWT di dunia, tetapi hanya dapat dirasakan oleh orang-orang khusus. Yakni surga yang kenikmatannya, dalam tuturan Imam Al-Qusyairi adalah: surga kedekatan (Jinan Al-Qurbah, Riyadh Az-Zulfah), surga hakikat-hakikat wusul (Haqaiq Al-Wishal), surga tersingkapnya rahasia-rahasia Nuzhat Al-Asrar, Kasyf Al-Ghita’ An As-Sarair, Kasyf Jamalihi wa Jalalihi. Dengan bahasa lain, kenikmatan dalam surga tersebut bukan kenikmatan materiil yang masih dibayang-bayangi kelak, melainkan kenikmatan-kenikmatan spiritual yang dirasakan seorang salik selama mereka beribadah. Walaupun itu di dunia. Itulah kabar gembira bagi orang-orang yang melihat bahwa di balik akhirat—khususnya surga dan neraka— adalah Allah SWT.

Dengan demikian para sufi tak tertipu dikotomi dunia dan akhirat. Melainkan mereka menganggap keduanya hadir bersamaan saat ini, dalam ahwal hati-nya dengan Allah SWT. Maka tak berlaku hukum surga dan neraka, yang ada hanya ridha dan kemurkaan Allah SWT. Surga ia rasakan dalam keintiman, kedekatan, dan ketenangannya bersama Allah SWT walaupun di dunia. Sebaliknya, neraka adalah simbol kekacauan dan hitamnya hati akibat jauh dari Allah SWT dan mendapatkan kemurkaan-Nya. Demikian, Wallah a’lam.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim

Latest