Selama bulan Ramadan, banyak kita temui aktivitas konsumsi. Menariknya, konsumsi di era ini tampaknya bukan sekedar pemenuhan kebutuhan biologis, seperti makan dan minum, akan tetapi tentang pemenuhan kebutuhan tanda. Belanja tak sekedar membeli sesuatu karena kegunaan dan skala prioritas, melainkan status, anggapan, dan strata. Hal ini ditopang dengan kecanggihan teknologi digital.
Sudah menjadi rahasia umum apabila kebiasaan konsumsi di bulan Ramadan mengalami peningkatan. Dari situ kemudian menimbulkan kesan seakan umat Islam hanya sibuk mementingkan kepuasan nafsu. Menurut Jean Baudrillard, seorang sosiolog Postmodern, dalam bukunya The System of Objects menyatakan bahwa “masyarakat konsumerisme mengidentifikasi diri dengan barang-barang yang ia konsumi. Dalam nuansa Ramadan ini, misalnya iklan-iklan disajikan dengan bumbu “berbuka dengan yang manis-manis”, yang melegitimasi kesunnahan di ajaran Islam. Maka, seakan-akan kita mengikuti kesunnahan, padahal bisa jadi itu adalah jebakan yang mengarah pada perilaku konsumerisme.

Kebiasaan konsumtif saat Ramadan sebetulnya tidak otomatis salah. Akan tetapi, hal itu adalah tantangan yang bisa membuat banyak dari kita terlena. Rupa-rupanya ingin menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk, kita seringkali terjebak pada perilaku memuaskan diri, serta lupa bahwasanya puasa kita perlu untuk sering dievaluasi, apakah sudah berkualitas atau masih sekedar formalitas.
Jebakan Berkedok Religius
Sudah kita ketahui, pada era digital ini terjadi pergeseran paradigma, dari budaya teks ke budaya visual. Belum lagi kecanggihan teknologi dengan dukungan internet menambah laju percepatan informasi. Misalnya, komunikasi bisa dipermudah dengan bantuan sosial media. Hampir segala aspek kehidupan bisa menjadi instan dan cepat. Termasuk dalam hal ini adalah kecanggihan teknologi marketplace (pasar online).
Pasar yang dulunya jauh, sekarang menjadi dekat dengan teknologi marketplace. Akrab ditelinga kita “spesial harga Ramadan, diskon puasa, potongan khusus dalam menyambut bulan suci”. Sepintas begitulah bunyi iklan-iklan yang bertebaran di berbagai marketplace. Semarak bulan Ramadan ini, kita digenjot dengan iklan-iklan yang menggiurkan. Istilah “Ramadan dan Islami” menjadi citra dalam menopang iklan-iklan. Alhasil, bukan tidak mungkin seseorang akan terdikte oleh barang. Karena barang itu dinuansakan Islami, bermerek Ramadan, dan dicitrakan religius.
Banyak di antara kita kemudian disetir oleh imaji populer, citra-citra, dan bujuk rayu iklan bernuansakan Ramadan, yang orientasinya menjadi masyarakat konsumeris. Maka, keberpuasaan tak lagi ditentukan oleh niat, komitmen, dan kesungguhan, melainkan dengan citra-citra populer, sesuatu yang sifatnya viral (iklan). Puasa bukan lagi aktivitas yang profetik, melainkan aktivitas konsumsi yang sifatnya kekinian. Padahal dengan puasa itulah sudah seharusnya kita menahan bukan hanya yang membatalkan puasa, melainkan nafsu dalam diri.
Alhasil, selama bulan Ramadan kita dapati iklan-iklan bernuansa sunnah. Produk-produk simbol merajalela yang didukung dengan dunia simulasi (iklan, TV, media sosial, marketplace, dan seterusnya). Inilah jebakan yang tanpa sadar bisa menghegemoni banyak dari kita untuk menjadi masyarakat konsumsi. Ada permainan tanda, persilangan tanda, ketidaksinkronan antara penanda dengan petanda.
Gejala seperti di atas tampaknya memang sudah menjadi kewajaran. Jika kita cermati, agenda-agenda di bulan Ramadan ini bisa jadi menjadi ajang eksistensi tentang ke-aku-an. Boleh jadi yang dikejar selama Ramadan bukanlah makna, melainkan gaya, yang diburu bukan lagi isi, namun kulit. Inilah yang patut diwanti-wanti. Itu juga menjadi kritikan kepada kita semua, apakah keberpuasaan ditentukan dengan merek belanjaan?
Peluang dan Tantangan
Puasa sendiri bermakna menahan dan mengekang. Sebetulnya, hal ini menjadi kritik sosial terhadap budaya konsumerisme, jikalau Ramadan diidentikkan dengan makan dan berbelanja seenaknya, maka seakan-akan kontradiksi dengan arti menahan. Hal itu menjadi tantangan bagi umat Islam yang dituntut dalam kemajuan era digital, terutama di bulan Ramadan ini. Pada satu sisi memang teknologi mendukung dan mempermudah kehidupan manusia, namun pada saat yang sama, teknologi dapat mengancam religiositas manusia.
Citra iklan berkedok Ramadan seperti yang telah disebut, adalah efek bagaimana kecanggihan teknologi bisa menduplikasi sesuatu yang sifatnya religius. Ramadan dijadikan instrumen sebagai yang kekinian. Para pemain memanfaatkan sentimen dan momentum Ramadan yang dikomodifikasikan sebagai bentuk perayaan. Puasa Ramadan yang hanya berjumlah 30 hari, bila tidak kita sadari dalam diri, maka bukan tak mungkin yang kita dapati hanyalah menjadi masyarakat konsumsi. Perayaan semacam inilah yang perlu kita hindari. Islam sendiri jelas melarang umatnya untuk berlebih-lebihan.
Agar di bulan Ramadan, kita, utamanya sebagai umat Islam tak terjebak dalam keberagamaan yang sifatnya simbol dan konsumtif, maka kita perlu memaknai bulan suci ini. Dengan cara melek terhadap teknologi, khususnya bagaimana mengelola jebakan-jebakan sponsor. Dalam hal lain, kita juga bisa menjadi produsen, kita bisa memproduksi nilai-nilai Islam ke dalam media, serta berperan aktif dalam ranah ritual maupun sosial.

Setelah kita melihat bagaimana kecanggihan teknologi marketplace dapat mengikis religiositas, maka membaca ulang bulan suci ini dirasa perlu, agar kita tetap dapat menemukan makna Ramadan. Puasa sendiri memiliki ketentuannya, salah satunya ialah menahan makan, minum, dan sesuatu yang membatalkan puasa, dimulai dari Subuh hingga Maghrib. Dengan ketentuan itu, kita bisa asumsikan jika menahan lapar, haus, dan dahaga puasa itu cenderung mudah, karena kita tahu kapan waktunya untuk berbuka. Oleh sebab itu, puasa mengindikasikan bahwa dengan merasakan rasa lapar yang sifatnya sementara itu, diharapkan mampu merasakan rasa lapar dari mereka yang benar-benar kelaparan.
Poinnya adalah membuka mata hati untuk peduli dan saling menolong satu dengan lainnya. Inilah salah satu hikmah puasa yang perlu disadari. Puasa tidak hanya sekadar berburu pahala, tapi juga tentang nurani kita kepada sesama. Lagi-lagi, sebenarnya ibadah ritual sangat terkait dengan ibadah sosial. Dengan berpedoman seperti itu, sudah seharusnya sebagai umat Islam untuk melek, dan tidak terjebak dengan kesenangan semu (false happiness). Semoga Tuhan merahmati kita semua.
