Syekh Ali Jumu’ah pernah ditanya tentang nasihatnya yang kerap mengajak umat untuk menempuh jalan cinta. Sebagian orang kemudian bertanya, apakah jalan cinta berarti tidak perlu lagi berjuang dan bersusah payah.
Beliau menjawab dengan tegas, tidak. Cinta itu sendiri adalah perjuangan. Bahkan, ia adalah perjuangan yang tidak ringan. Cinta menuntut pengorbanan, kesungguhan, dan kemampuan menundukkan ego.
Menurut Syekh Ali Jumu’ah, hakikat cinta bukanlah sekadar perasaan atau ungkapan lisan. Cinta adalah memberi, yaitu memberi waktu, perhatian, dan kepentingan diri kepada orang lain. Karena itu, cinta selalu menuntut keberanian untuk mendahulukan yang lain atas diri sendiri.
Beliau kemudian menguatkan penjelasannya dengan firman Allah SWT: “Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka mempunyai keperluan yang mendesak.” (QS. Al-Hasyr : 9)
Ayat ini, menurut beliau, adalah gambaran paling jernih tentang cinta dalam pandangan Islam. Cinta bukan sekadar kata, melainkan tindakan nyata yang tampak dalam pengorbanan dan kepedulian.
“Cinta itu sendiri adalah perjuangan. Cinta adalah memberi.” — Syekh Ali Jumu’ah
Penjelasan Syekh Ali Jumu’ah ini mengingatkan bahwa jalan cinta bukan jalan yang mudah, melainkan jalan yang menuntut kesungguhan.
Cinta sejati lahir ketika seseorang mampu memberi, bahkan saat dirinya sendiri berada dalam kebutuhan. Inilah cinta yang memerdekakan jiwa dan mendekatkan hamba kepada Allah SWT.
