Skip to content

Dunia Itu Hanya Untuk Empat Golongan

Di Majalah Al-Azhar, terdapat tulisan terbaru ulama sepuh di Al-Azhar Syekh Ahmad Umar Hasyim. Beliau berbicara tentang prototipe manusia di dunia.

FOTO Syekh Ahmad Umar Hasyim di pengajian Masjid Al-Azhar. (AzharTV)
FOTO Syekh Ahmad Umar Hasyim di pengajian Masjid Al-Azhar. (AzharTV)

Di antara para masyayikh Al-Azhar yang cukup produktif menulis di Majalah Al-Azhar, adalah Syekh Ahmad Umar Hasyim. Sang profesor hadits yang dikenal dengan sebutan “Singa Podium Al-Azhar” itu memiliki kolom tersendiri di majalah tersebut yang berisikan tema-tema reflektif tentang syariat Islam dan penerapannya di kehidupan kita hari ini. Tulisan beliau memiliki ciri khas tersendiri: menghadirkan perspektif baru dari hadits Nabi yang bermakna mendalam dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Majalah Al-Azhar edisi terbaru bulan Rajab, terdapat kolom menarikberisi tulisan beliau dengan judul “Innama Ad-Dunya li Arba’ati Nafarin.”, “Dunia itu Hanya Untuk Empat Golongan”. Dalam tulisan ini saya akan mengulas secara reflektif tulisan tersebut sebagai bentuk istifadah dari samudra ilmu ulama sepuh Sang Singa Podium Al-Azhar dengan pendekatan ilmu haditsnya yang jernih, moderat, dan mencerahkan.

Mula-mula Syekh Ahmad Umar Hasyim berangkat dari filosofi hidup manusia. Manusia pada dasarnya diciptakan sebagai makhluk sosial oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, ketika manusia merasa egois dengan menganggap dunia ini hanya untuk dirinya,  sebenarnya dia telah menjauh dari kodratnya sebagai manusia. Bahkan dia telah menyimpang dari dasar syariat Islam yang mengajarkan untuk bersikap sosial. Syekh Ahmad Umar Hasyim dalam tulisannya menggambarkan: “Termasuk kesalahan berpikir sebagian manusia, bahwa mereka yang merasa orang lainlah yang butuh pada dirinya, sedang ia tidak butuh. Bagaimana mungkin? Sedang kodrat kehidupan manusia itu berdasar pada sikap mengambil (al-akhdzu) dan memberi (al-’atha). Begitu juga kehendak ilahi menuntut adanya hierarki dalam manusia, sehingga mereka akan selalu saling membutuhkan. Liyattakhidza Ba’dhuhum Ba’dhan Sukhriya. (Surah Az-Zukhruf ayat 32).”

Perangkat Ilmu Bahasa Arab yang Wajib Dikuasai Dai
Apa jadinya jika seorang dai tidak menguasai bahasa Arab dan perangkatnya?

Dari penjelasan di atas, saya menggaris bawahi kalimat Al-Akhdzu wal-Atha’. Dua kalimat tersebut, bisa saya bahasakan dengan konsep “Take and Gift” yang lebih kita kenal dalam konsep sosial. Dengan dasar konsep ini, menurut Syekh Ahmad Umar Hasyim, tatanan pola hidup manusia bisa berlangsung harmoni. Baik dalam skala ekonomi, politik, sosial dan sebagainya. Dalam politik misalnya: butuhnya rakyat pada pemimpin dan sebaliknya, dalam ekonomi: butuhnya para pekerja pada pemodal, begitupun sebaliknya. Dalam sosial, akan lebih bisa kita pahami hubungan antara tetangga, keluarga, hingga lapisan besar masyarakat lainnya.

Fenomena manusia sebagai makhluk sosial tersebut, jika dipahami lebih lanjut dalam konteks filsafat manusia, menurut Syekh Ahmad Umar Hasyim, akan mengantarkan kita pada hierarki perbedaan manusia. Yakin sejatinya terdapat hierarki dan pluralitas pada tiap-tiap manusia dari satu ke yang lain. Kemudian, menurut Syekh Ahmad Umar Hasyim hierarki ini dibagi menjadi empat golongan: Pertama, manusia yang diberi anugerah ilmu dan harta. Kedua, manusia yang diberi anugerah ilmu tidak harta. Ketiga, manusia yang diberi anugerah harta tidak ilmu. Keempat, manusia yang tidak dianugerahi keduanya (ilmu dan harta) sekaligus.

Empat golongan ini bukan pembagian yang tidak berdasar. Dalam hal ini, Syekh Ahmad Umar Hasyim merujuk kepada diskursus hadits yang berbicara penggolongan manusia di dunia. dari sekian riwayat, berikut riwayat Abi Kabsyah Al-Anshari yang secara tegas berbicara empat golongan tersebut:

Nabi bersabda, “Dan aku akan menceritakan padamu sebuah hadits, maka ingatlah: sesungguhnya dunia itu hanya bagi empat golongan: 1) seorang hamba yang Allah beri rezeki harta dan ilmu, sedang ia bertakwa pada Allah di dalam kedua rezeki itu, serta menyambung silaturrahim dan mengetahui betul hak Allah di dalam keduanya. Maka, Rasul berkomentar, bahwa inilah golongan yang paling utama. 2)  seorang hamba yang Allah beri rezeki ilmu, tidak harta. Iapun berkata aku memiliki rezeki, sehingga aku bisa bersedekah sebagaimana fulan bersedekah. Lalu, Nabi berkomentar, maka pahala kedua macam orang ini sama. 3) seorang hamba yang Allah beri rezeki harta, tidak ilmu. Maka, ia mengelola hartanya dengan tanpa ilmu, lalu ia tidak bertakwa kepada Allah di dalamnya, tidak menyambung tali silaturrahim dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya, maka golongan ini ialah yang paling buruk. 4) seorang hamba yang tidak diberi rezeki, baik ilmu maupun harta. Ia pun berkata andaikan aku memiliki harta sebagaimana si fulan, niscaya aku bisa melakukan hal yang sama. Maka, kesalahan mereka berdua (gol ketiga dan keempat) sama.” (Riwayat Imam Ahmad di dalam Al-Musnad)

Pemikiran

Kumpulan tulisan bertopik pemikiran dan keislaman bisa teman-teman temukan

di sini

Bagaimana kemudian kita melihat dan menganalisis empat golongan ini di kehidupan kita? Syekh Ahmad Umar Hasyim memberikan jawaban yang menarik. Bahwa sejatinya empat hierarki manusia ini kemudian melahirkan 2 prototipe manusia dalam hidup: Pertama, manusia yang mengarahkan orientasi hidupnya pada dunia: materi berupa harta, kedudukan, dan status sosial. Mereka adalah orang yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk nilai-materi ini. Maka, kedudukan mereka sebagai manusia akan setara dengan apa yang mereka cari. Syekh Ahmad Umar Hasyim mengibaratkan prototipe manusia ini seperti orang yang mengejar bayangannya sendiri: ia tidak akan puas dan tidak akan mencapai tujuannya.

Kedua, manusia yang mengarahkan orientasi hidupnya pada akhirat: rida Allah, spiritualitas dan kemurnian hidup. Mereka menggenggam dunia di tangganya, bukan di dalam hati. Sehingga segala aktivitas hidupnya walaupun duniawi, sejatinya diarahkan hanya untuk akhirat. Maka, merekalah hamba Allah sejati, hamba pilihan yang akan Allah jamin keselamatan hidupnya di dunia maupun akhirat.

Syekh Ibrahim Bushailah, Tokoh Maliki Bersahaja nan Disiplin
Sosok alim kabir di Al-Azhar yang bermazhab Maliki dan dikenal bersahaja. Ialah Syekh Ibrahim Bushailah yang menjadi teladan dalam kedisiplinan.

Syekh Ahmad Umar Hasyim kemudian menambahkan bahwa kekayaan dan kemiskinan itu hanya persoalan hati, bukan soal materi. Sebab banyak orang yang sudah kaya, tetapi ia sejatinya masih miskin. Yaitu terletak pada sikap mereka yang tidak pernah puas pada kekayaan dirinya. Mereka yang menumpuk dan mengakumulasi harta pribadinya, tanpa berderma pada orang-orang yang lebih membutuhkan. Mereka sejatinya telah diperbudak oleh dirinya, oleh dunia yang berada pada dirinya. Begitu juga mereka diliputi rasa takut yang besar akan kehilangan harta tersebut. Rasa takut yang akan terus mengitari hati dan pikirannya bahkan dalam setiap diam dan gerak hidupnya.

Selain golongan di atas, menurut Syekh Ahmad Umar Hasyim untuk menjadi manusia paripurna (prototipe pertama) itu membutuhkan proses dan usaha yang terus menerus. Sebab kita sebagai umat Islam, tidak ada jaminan apapun akan hal itu kecuali dengan usaha dan amal kita. Islam adalah agama yang mengajak pada usaha dan berproses. Walhasil, tulisan Syekh Ahmad Umar Hasyim ini menurut saya bisa kita jadikan bentuk muhasabah diri dan refleksi secara mendalam pada keberislaman kita hari ini. Terletak di manakah orientasi kita dalam hidup dan berislam? Wallahu a’lam. Tabik!

💡
Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim

Simak video pidato Syekh Ahmad Umar Hasyim berkenaan Isra Miraj

Latest