Skip to content

Forum Kajian Masjid Al-Azhar: Nabi Menganjurkan Berobat, Bukan Menyerah pada Penyakit

Forum Fikih di Masjid Al-Azhar tegaskan berobat dan mencari kesembuhan adalah bentuk iman dan kesadaran, bukan sikap menolak takdir.

FOTO Forum Kajian Fikih ke-18 bertajuk "Fikih Pengobatan antara Syariah dan Kedokteran". (Al-Azhar)
FOTO Forum Kajian Fikih ke-18 bertajuk "Fikih Pengobatan antara Syariah dan Kedokteran". (Al-Azhar)

TAWAZUN.ID — Masjid Al-Azhar kembali menyelenggarakan kegiatan ilmiah dalam rangkaian Forum Kajian Fikih ke-18 bertajuk "Fikih Pengobatan antara Syariah dan Kedokteran", pada Senin (13/5/2025), sesaat setelah salat Magrib di serambi utama Masjid Al-Azhar, Kairo.

Kegiatan ini digelar atas arahan langsung Syekhul-Azhar Prof. Dr. Ahmad Ath-Thayyib dan bimbingan Wakilul-Azhar Prof. Dr. Muhammad Adh-Dhuwaini. Hadir sebagai pembicara Prof. Dr. Ahmad Rabi’, Guru Besar Ilmu Bahasa di Universitas Al-Azhar dan mantan Wakil Dekan Fakultas Bahasa Arab untuk Pascasarjana, serta Prof. Dr. Islam Syawqi Abdul’aziz, Kepala Departemen Kardiologi Fakultas Kedokteran Al-Azhar Kairo. Acara ini dimoderatori oleh Syekh Ahmad Ath-Thabbakh, Direktur Kantor Teknis Masjid Al-Azhar.

Al-Quran sebagai Penyembuh Jiwa

Prof. Ahmad Rabi’ membuka forum dengan menyoroti cara Rasulullah ﷺ menangani persoalan sakit dan pengobatan. Menurutnya, siapa yang menelaah akhlak dan praktik Nabi akan mendapati bahwa beliau memiliki pendekatan yang penuh kesadaran dan kelembutan dalam mengatasi penyakit, dengan berpijak pada cahaya wahyu dan tuntunan Allah SWT.

Ia merujuk pada ayat: "Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman" (Surah Al-Isra: 82), sebagai bukti bahwa Al-Quran memiliki dimensi pengobatan spiritual. “Al-Quran diperlakukan sebagai salah satu sarana penyembuhan, dan Nabi sendiri menggunakannya demikian,” jelasnya.

Prof. Rabi’ menekankan bahwa Allah-lah Sang Penyembuh sejati. Sementara pengobatan medis, ruqyah, maupun usaha lain adalah sebab-sebab yang dibolehkan secara syar’i. Ia mengutip doa Nabi ﷺ ketika meruqyah orang sakit: “Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit. Sembuhkan, Engkau-lah Sang Penyembuh. Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit.”

Ia juga menyampaikan kisah seorang perempuan yang mengalami epilepsi hingga tubuhnya tersingkap. Saat meminta doa kepada Nabi ﷺ, beliau memberikan pilihan: bersabar dan mendapat surga, atau berdoa untuk kesembuhan. Wanita itu memilih agar tidak disingkap auratnya, dan Nabi pun mendoakannya.

Mengakhiri pemaparannya, Prof. Rabi’ menyoroti kontribusi para ilmuwan muslim seperti Ibnu Sina dan Ibnu Nafis dalam dunia kedokteran. “Buku-buku mereka pernah menjadi rujukan utama di universitas-universitas Eropa selama berabad-abad. Al-Azhar masih mewarisi semangat ini dalam melayani ilmu pengetahuan dan kemanusiaan,” ujarnya.

Rasulullah

Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan

di sini

Menolak Berobat Bukanlah Bentuk Tawakal

Sementara itu, Prof. Dr. Islam Syawqi menegaskan bahwa pengobatan merupakan hal yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan kesehatan dan kehidupan manusia. Ia mengutip definisi para ulama bahwa pengobatan adalah segala hal yang ditempuh untuk meraih kesembuhan dengan izin Allah—baik berupa obat, ruqyah, pengaturan pola makan, maupun terapi fisik seperti olahraga.

Ia merujuk pada hadis sahih riwayat Al-Bukhari: “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia juga menurunkan obatnya.” Dan dalam riwayat Muslim: “Jika obat itu tepat mengenai penyakit, maka akan sembuh dengan izin Allah.” Nabi ﷺ menambahkan, “Orang yang mengetahuinya, mengetahuinya. Dan yang tidak mengetahuinya, tidak mengetahuinya.”

Prof. Islam juga menyebut hadis riwayat Abu Dawud dari Usamah bin Syarik bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Berobatlah, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya, kecuali al-haram (usia tua).”Ini menunjukkan bahwa setiap penyakit memiliki obat, dan satu-satunya pengecualian adalah proses menua yang bersifat alami dan tidak dapat dicegah.

Ia menanggapi pula pandangan sebagian orang—dulu maupun kini—yang menolak pengobatan karena dianggap menentang takdir. “Rasulullah ﷺ menjawab hal ini dengan sangat bijak. Saat ditanya apakah ruqyah, pengobatan, atau tindakan pencegahan dapat menolak takdir, beliau menjawab: 'Itu bagian dari takdir Allah.'”

Menurutnya, jawaban ini mencerminkan pemahaman yang mendalam bahwa usaha untuk sembuh tidaklah bertentangan dengan tawakal, melainkan menjadi bagian dari kesempurnaannya.

Misi Al-Azhar: Merawat Manusia Seutuhnya

Menutup forum, Syekh Ahmad Ath-Thabbakh menyatakan bahwa kajian ini adalah wujud nyata dari misi Al-Azhar dalam menjaga manusia secara utuh—baik jasmani maupun rohani. Ia menekankan bahwa syariat Islam hadir untuk memelihara fitrah manusia, membimbingnya kepada jalan kebaikan, dan menguatkannya dengan kesadaran serta ikhtiar.

“Rangkaian diskusi seperti ini membangun kesadaran rasional yang mampu menyikapi hukum-hukum alam, tetap berpegang pada prinsip tawakal, sekaligus maksimal dalam mengambil sebab-sebab,” ujar Syekh Ath-Thabbakh. Ia juga mendorong agar forum serupa terus digelar untuk menguatkan hubungan antara ilmu keislaman dengan realitas kehidupan, serta menjaga martabat manusia dalam segala keadaannya.


💡
Baca juga warta lain di rubrik BERITA atau pilih ragam tulisan lain di Situs Tawazun ID

Latest