Skip to content

Hakikat Akal dalam Beragama (1): Pilar Utama dalam Islam

Serial ulasan peran akal dalam Islam, dimulai dengan pandangan Imam Al-Ghazali tentang akal sebagai pilar keimanan dan moralitas.

FOTO Ilustrasi (Unsplash/Alim)
FOTO Ilustrasi (Unsplash/Alim)

Mungkin masih ada anggapan di sebagian masyarakat bahwa beragama akan bertentangan dengan akal sehat. Mereka masih menganggap bahwa sikap religius akan selalu berseberangan dengan akal sehat. Benarkah demikian?

Seseorang yang merasa agama akan bertentangan dengan akal bisa jadi ia belum benar-benar memahami dan mendalami agamanya. Seperti seorang muslim misalnya, ketika ia merasa bahwa ajaran Islam yang ia anut bertentangan dengan akal sehat, hakikatnya ia belum benar-benar berislam.

Fenomena di sebagian masyarakat muslim yang tidak rasional atau tidak semakin terbuka akal pikirannya, itu menunjukkan bahwa ia masih belum merepresentasikan ajaran Islam. Dalam tulisan ini saya ingin menunjukkan bahwa hakikat agama itu adalah akal. Islam dalam banyak hal menjunjung tinggi akal dan mengedepankan ilmu pengetahuan sebagai pondasi seorang muslim.

Untuk lebih memahami secara baik persoalan ini, saya mengutip bagaimana Imam Al-Ghazali meletakkan peran dan urgensitas akal dalam Islam. Imam Al-Ghazali sendiri adalah sosok ideal ulama yang merepresentasikan dirinya selain sebagai seorang sufi, juga seorang yang menjunjung tinggi rasionalitas dalam beragama.

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin—karya terbaik Imam Al-Ghazali— yang umumnya dikenal sebagai kitab akhlak-tawasuf, Imam Al-Ghazali turut membicarakan urgensitas akal dalam beragama. Bahkan ia meletakkan bab tersendiri yang membahas kemuliaan dan hakikat akal.

Mari kita bahas lebih jauh. Bagaimana akal yang dipahami oleh Imam Al-Ghazali? Sejauh apa maknanya dan yang membedakan dengan rasionalitas murni?

Imam Al-Ghazali Menerjemahkan Akal

Dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali berhasil memotret—melalui pilihan hadits-hadits dan atsar— bagaimana Nabi dan para Sahabat melihat dan mendefinisikan akal. Melalui penelusuran sumber-sumber utama tersebut, seolah Imam Al-Ghazali memahami betul bahwa Islam adalah agama yang tidak memisahkan antara peran hati dan akal. Tidak heran kemudian dalam pembenahan moralitas dan akhlak, akal juga berperan penting.

Dalam sub-bab yang ia beri judul “Penjelasan tentang kemuliaan akal”, Imam Al-Ghazali memulai dengan menegaskan bahwa urgensitas dan kemuliaan akal seluruh umat manusia secara alamiah mengakuinya. Bahkan pada masyarakat yang tak terjamah agama dan peradaban, mereka secara alami dan kodrati menghormati tetua mereka yang lebih berakal.

Akal dalam Al-Quran memiliki beragam penamaan menurut Imam Al-Ghazali. Dalam Surah An-Nur, Allah menamai akal sebagai “cahaya”. Sehingga setiap kali ada permisalan kalimat cahaya dan kegelapan dalam Al-Quran (Nur wa Zhulmah), Allah bermaksud di baliknya pada makna ilmu dan kebodohan.

Rasulullah

Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan

di sini

Hadits yang dikutip Imam Al-Ghazali banyak secara eksplisit berbicara akal. Seperti redaksi hadits, “Wahai manusia, pahamilah Tuhanmu dan saling berpesan kebaikanlah dengan akal.. engkau akan tahu apa yang diperintahkan untukmu dan dilarang... dan ketahuilah orang yang berakal itu adalah orang yang taat pada Allah sekalipun ia buruk rupa... dan orang yang bodoh itu adalah orang yang bermaksiat kepada-Nya sekalipun ia rupawan, berkedudukan tinggi”.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah juga menyebut bahwa hanya melalui akal-lah iman dan akhlak seseorang akan sempurna. Seperti dalam redaksi, “Tidaklah sempurna akhlak seseorang sampai akalnya sempurna”. Redaksi yang lain, Rasul menyebut akal sebagai tonggaknya seorang mukmin. “Setiap sesuatu memiliki tonggaknnya, akal adalah tonggaknya seorang mukmin, berdasarkan akalnya ibadah seorang mukmin diukur”.

Bahkan mari kita simak hadits ini, “Paling sempurnanya akal kalian adalah yang paling takut kepada Allah”. Juga hadits, “Sesungguhnya orang yang berakal itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasulnya dan beramal dengan taat pada-Nya”.

Dalam hadits-hadits di atas, Rasulullah SAW secara eksplisit menyandingkan akal dan orang yang berakal (rasionalitas) dengan ketaatan kepada Tuhan. Begitu pula kejahilan disandingkan dengan kedurhakaan. Hal ini semakin menguatkan bahwa hakikat ajaran Islam itu justru mengantarkan seseorang untuk semakin berakal.

Akal dan aktivitas berakal kemudian dalam konteks ini bermakna tidak sebatas aktivitas nalar manusia. Melainkan segala aktivitas manusia dalam agama yang berseberangan dengan hawa nafsu. Seperti ketika Rasulullah mendefinisikan orang yang berakal sebagai orang yang berada dalam ketaatan. Hal ini berarti menunjukkan akal yang dimaksud adalah pengendalian hawa nafsu.

Hemat saya kemudian, Islam tidak meletakkan akal semata-mata rasionalitas belaka sebagaimana di Barat. Sebab akal dalam makna ini akan dikendalikan oleh hawa nafsu sehingga rasionalitas tidak berjalan seimbang dengan etika. Sebaliknya, dalam Islam akal seharusnya juga dapat mengontrol hawa nafsu. Oleh sebab itu, beragama adalah berakal karena akan mengantarkan manusia mengendalikan hawa nafsunya. Wallahu a’lam. Bersambung..


💡
Baca juga artikel lain di rubrik OPINI atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim

Latest