Hikmah Sufi dari Kisah Seorang Sahabat Badar yang Berkhianat

Ahli badar adalah para sahabat yang ikut dalam perang badar. Mereka adalah orang-orang yang terpilih untuk membela agama Allah dalam sebuah pertempuran mulia. Banyak pertolongan yang Allah berikan saat itu, bahkan di antaranya disebut dalam Al-Quran. Seperti ketika Allah SWT menurunkan ribuan malaikat untuk ikut membunuh para musuh, mengembalikan kekuatan para sahabat dengan membuat mereka tidur sekejap dan menurunkan hujan sebelum perang untuk menyegarkan para sahabat dan menyulitkan medan musuh. Seakan Allah langsung ikut andil dalam perang ini.

“Maka, (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, melainkan Allah yang melempar.” (Surah Al-Anfal: 17)

Ibnu Abbas mengisahkan bahwa saat perang Badar berkecamuk, Nabi Muhammad SAW berkata kepada Ali RA, “Ambilkan aku segenggam pasir!” Lalu segeralah ia mengambilkan segenggam pasir dan menyerahkannya kepada Nabi Muhammad SAW. Seketika Nabi pun melemparkan pasir itu ke muka para musuh sehingga tidak seorang pun yang matanya luput darinya.

Kemukjizatan Al-Quran di Balik Rasm ’Utsmani
Penulisan Al-Quran berbeda dengan penulisan bahasa Arab secara umum. Di balik Rasm ’Utsmani tersimpan mukjizat Al-Quran serta kedalaman maknanya.

Mereka, para ahli badar, adalah orang-orang terpilih. Mereka berani mati. Dan benarlah kematian sangat dekat dengan mereka. Bagaimana tidak? Ribuan musuh yang jumlahnya berlipat-lipat menghampiri mereka dengan niat menghancurkan. Mereka membela Islam di saat para pemeluknya masih sedikit. Jika tanpa mereka, Islam mungkin tidak pernah dikenal.

Dengan ini, sudah sepantasnya mereka mendapat kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Bahkan nama-nama mereka banyak disebut, untuk menjadi wasilah (perantara) meminta pertolongan pada Allah SWT, sebagaimana Allah menolong ahli Badar. Di antara kitab yang secara khusus menyebutkan nama-nama ahli Badar dengan tujuan menjadikannya sebagai wasilah adalah Jaliyatul Kadar, kasidah gubahan Syekh Muhammad Alawi Al-Maliki dan Ashlul Qadar, kasidah anggitan KH. Muhammad Dimyathi Al-Bantani.

Kisah Hathib, Sahabat Badar yang Berkhianat

Dengan kemuliaan seperti disebutkan, ternyata terdapat sebuah kisah dari salah seorang sahabat Badar yang berkhianat pada Rasulullah SAW. Kisah ini mengandung hikmah apabila ditilik dari sudut pandang para sufi. Sebelum masuk pada hikmah tersebut, berikut saya kutip kisah Hathib bin Abi Balta’ah dari Shahih Al-Bukhari. Kisah seorang sahabat Badar yang berkhianat.

Terjemah Pidato Syekh Ahmad Umar Hasyim di Peringatan Isra Mi’raj
Pidato Syekh Ahmad Umar Hasyim hampir selalu menggelegar. Inilah terjemah khutbah alim nan saleh yang pernah menjabat rektor Universitas Al-Azhar.

Diriwayatkan dari Sayidina Ali. Ia berkata, "Rasulullah SAW mengutus saya, Abu Martsad Al-Ghanawiy, dan Az-Zubair bin Al-Awwam. Saat itu kita semua berkuda.

Rasulullah SAW bersabda, 'Pergilah kalian ke kebun Khakh. Di sana ada seorang perempuan dari kelompok musyrik. Ia membawa surat dari Hathib bin Abi Balta’ah untuk orang-orang musyrik.'

Kami pun menemukan perempuan terebut sedang menaiki untanya, seperti yang disebutkan Rasulullah SAW.

Kami berkata kepadanya, 'Surat!'

Perempuan itu berkata, 'Saya tidak membawa surat.'

Lalu kami pun menderumkan untanya dan memeriksanya. Kami tidak menemukan surat itu.

Kami berkata, 'Rasulullah SAW tidak akan berbohong, keluarkan surat itu atau kami geledah pakaianmu.'

Karena melihat keseriusan para sahabat. Ia pun menjulurkan tangannya ke tali pinggangnya. Ia mengikat pinggangnya dengan kain. Lalu, Ia mengeluarkan surat tersebut.

Kami pun membawa surat itu kepada Rasulullah SAW."

Rasulullah

Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan

di sini

Sayidina Umar berkata, “Wahai Rasulullah, Ia (Hathib) telah berkhianat pada Allah, Rasulullah dan orang-orang mukmin. Biarkan saya memotong lehernya.”

Rasulullah SAW bersabda kepada Hathib, “Apa yang membuatmu melakukan perbuatanmu?”

Hathib menjawab, “Saya hanyalah orang yang beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Saya tidak berubah dan berganti. Saya ingin punya pengaruh di sisi kaum (musyrikin), di mana dengan pengaruh itu Allah akan menjaga keluarga dan harta saya. Sementara, tidak ada dari sahabat engkau kecuali mereka memiliki seseorang, yang dengannya Allah melindungi keluarga dan harta mereka.”

Rasulullah SAW bersabda, “Dia jujur, janganlah kalian berkata kepadanya kecuali dengan baik.”

Sayidina Umar pun kembali berkata, “Wahai Rasulullah, dia telah berkhianat pada Allah, Rasulullah, dan orang-orang mukmin. Biarkan saya memotong lehernya.”

Rasulullah SAW bersabda, “Bukankah dia adalah ahli Badar? Apa yang membuatmu tahu tentangnya? Bukankah Allah telah memandang mereka, lalu Allah berkata, 'Berbuatlah semau kalian, Aku pastikan kalian masuk surga.' Dalam riwayat lain, 'Aku telah memaafkan kalian.'

Kedua mata Sayidina Umar pun mengalir air mata. Lalu ia berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Lantas Apa Hikmah yang Dapat Dipetik dari Kisah Hathib bin Abi Balta’ah?

Tindak laku Nabi Muhammad dan para sahabatnya merupakan gudang penuh makna. Itu adalah tempat bagi para pencari petuah menemukan hikmah. Makna-makna itu adalah milik Allah yang Ia berikan pada orang terdekatnya. Merekalah para sufi yang senantiasa mendekat kepada Allah, dan Allah pun menghampirinya.

Syekh Prof. Dr. Mahmud Abdurrahman mengatakan bahwa kisah Hathib di atas adalah salah satu contoh bagi hikmah ke-50 dari hikmah Ibnu Athaillah As-Sakandari. Dalam hikmah tersebut disebutkan:

“Tidak ada dosa yang kecil jika Allah memandangmu dengan sifat adil-Nya, dan tidak ada dosa yang besar jika Allah memandangmu dengan pandangan kasih-Nya.”

Artinya jika engkau dicintai oleh Allah maka Allah akan mengampuni sebesar apa pun dosa yang engkau perbuat dan memberimu anugerah yang lebih dari setimpal. Syekh Abdulmajid Asy-Syarnubi mengatakan, “Anugerah adalah pemberian tanpa imbalan.”

Kisah Kedermawanan Syekh Salim Al-Bisyri
Banyak kisah menarik dari kehidupan para ulama. Salah satunya kisah Syekhul-Azhar Salim Al-Bisyri, alim yang dikenal murah hati nan penderma.

Sementara itu, apabila ditimbang dengan sifat adil-Nya, maka tidak akan berarti kebaikan yang dilakukan para makhluk dibanding dengan apa yang Allah berikan dan akan menjadi besar dosa yang mereka lakukan sekecil apa pun itu. Allah berhak membalas dengan hukuman seberat-beratnya pada orang yang Allah benci, sekecil apa pun kesalahannya. Allah berhak menolak kebaikan yang ia lakukan sebesar apa pun itu.

Kisah Hathib ini menunjukkan betapa besar anugerah Allah untuk orang yang dicintai-Nya. Hathib yang melakukan kesalahan berupa pengkhianatan, sampai berhak dibunuh menurut Sayidina Umar, itu pun dimaafkan oleh Allah SWT, bahkan dimaafkan pula seluruh dosa-dosa lainnya yang telah dan akan ia lakukan. Kebesaran rahmat dan anugerah Allah inilah yang membuat Sayidina Umar mengeluarkan air mata.

“Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah. Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. Dia menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah memiliki karunia yang besar.” (Surah Ali Imran: 73-73)

Hathib adalah contoh kekasih Allah. Dan beruntunglah mereka yang menjadi kekasih Allah. Dalam doa Imam Abu Al-Hasan Asy-Syadzuli disebutkan, “Ya Allah, jadikanlah keburukan kami sebagai keburukan dari orang yang Engkau kasihi, dan janganlah Engkau jadikan kebaikan kami sebagai kebaikan orang yang Engkau benci.”

Membumikan Tasawuf di Era Digital
Tasawuf hari ini belum merambah sektor dakwah Islam dan masyarakat secara luas. Hal itu karena dakwah Islam masih dikuasai nuansa Fikih-Oriented.

Selain hikmah rabbani, kisah Hathib di atas rupanya juga memiliki hikmah akhlaqi dan fiqhi. Sebagian ulama fikih berpendapat bahwa memang sudah selayaknya bagi orang yang memiliki track record yang baik, ia diberi hukuman yang lebih ringan. Dan bagi pemangku keputusan sebaiknya memaafkannya, meniru Nabi Muhammad SAW dalam kisah Hathib di atas. Mengenai hal ini, secara lebih jelas Nabi Muhammad bersabda:

“Cabutlah dari pemilik tingkah laku yang baik, kesalahan-kesalahan mereka.” (Riwayat Imam An-Nasa'i)

Track record atau tingkah laku baik yang dimaksud di sini adalah akhlak yang baik dan kepatuhan kepada perintah dan larangan Allah SWT. Tidaklah cukup apabila ia hanya baik saja kepada manusia namun bermaksiat kepada Allah SWT.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik M Ali Arinal Haq