Dai kenamaan kelahiran Jeddah, Habib Ali Al-Jufri dalam satu kesempatan, memberikan pertanyaan yang mengkritik tradisi tasawuf umat Islam. Beliau berkata, “Hari ini, harusnya (pertanyaannya) bagaimana tasawuf juga merambah pada supir, pilot, kernet, buruh? Bagaimana mereka juga bisa bertasawuf? Inilah tanggung jawab kita hari ini.” Hal itu menunjukkan bahwa di dalam masyarakat muslim, tasawuf masih dianggap sebagai tradisi yang elitis, hanya kalangan tertentu saja yang bisa mengamalkannya. Bagi saya pernyataan ini begitu menarik untuk kita renungkan bersama. Bahwa krisis kita hari ini adalah bagaimana membumikan tasawuf pada khalayak umum, bagaimana tasawuf bisa benar-benar diterima masyarakat secara luas.
Keawaman masyarakat terhadap tasawuf juga jauhnya mereka dari sentuhan-sentuhan tasawuf saya kira pertama-tama disebabkan oleh absennya tasawuf dalam dunia dakwah Islam. Terutama era dunia digital revolusi 4.0 hari ini, ketika hampir delapan puluh persen dari dakwah Islam digital dikuasai oleh kelompok-kelompok kanan yang—dalam bahasa Habib Husein Ja'far—bernuansa "fikih oriented", maka faktor itulah yang membuat tasawuf tidak mengemuka. Pengajian tasawuf hanya ada pada majelis-majelis pengajian tarekat di berbagai daerah, yang notabenenya offline. Padahal masyarakat digital hari ini menaruh lebih banyak perhatiannya kepada dakwah digital. Masyarakat maya lebih dekat dengan video-video pendek instagram, Tik-tok, berikut kutipan-kutipannya daripada majelis para kiai yang durasinya dua jam.

Faktor selanjutnya adalah pemahaman masyarakat bahwa tasawuf hanya simbol-simbol sakral saja, bukan substansinya. Bertasawuf identik dengan tasbih, pakaian putih, dan hanya dilakukan di masjid saja. Bertasawuf seolah-olah bertentangan dengan kegiatan sehari-hari orang awam karena kegiatan mereka itu duniawi. Sehingga bertasawuf seolah-olah menjauhkan mereka untuk beraktivitas seperti biasa sehari-hari. Akhirnya, mereka merasa tidak pantas, merasa jauh dan tidak bisa menjangkau dunia tasawuf. Kegelisahan inilah yang ingin disampaikan Habib Ali Al-Jufri di atas, bahwa sudah saatnya bagi kita hari ini untuk membumikan tasawuf. Baik dalam dakwah Islam digital, maupun dalam dunia nyata.
Kalau kita ingin kembali memahami tasawuf, sebenarnya tidaklah tepat pemahaman bahwa tasawuf itu menuntut simbol-simbol dan sakralitas yang seolah-olah jauh dari ‘keseharian’ orang awam. Sebab sejatinya, sebagaimana pendapat para ulama dalam kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah bahwa substansi tasawuf adalah “shidqu at-tawajjuh ilalllahi” yang artinya “upaya menghamba kepada Allah dengan sebenar-benarnya”. Maka kunci tasawuf adalah hati dan niat, bukan pada simbol berupa pakaian, tasbih, bahkan bukan pada ibadah yang seseorang lakukan. Sebabibadah dan amal seseorang bukan kunci keberhasilan seorang salik dalam menggapai Tuhannya.
Hal itu dikuatkan oleh Sayidi Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam hikmah pertama di karangannya yang begitu masyhur, kitab Al-Hikam Al-'Athaiyyah, yakni “Min 'alamat al-I’timad 'ala al-'amali nuqshanu ar-raja’i 'inda wujudi az-zalali” yang artinya, “termasuk tanda seseorang itu berpegang pada amalnya, ialah hilangnya harapan dia (akan ampunan Allah) ketika ia tengah tergelincir”. Lebih lanjut, Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi dalam kitab Al-Minah Al-Qudsiyyah 'ala Al-Hikam Al-'Athaiyyah menjelaskan bahwa seorang hamba amatir —dalam sebutan saya— memiliki dua orientasi ketika ia beribadah. Pertama, seseorang yang beribadah dalam bentuk ibadah apapun, lalu ibadah mereka ditujukan agar masuk surga dan selamat dari neraka dengan berpegang pada amalnya. Kedua, seseorang yang berpegang pada ibadahnya untuk sampai pada Allah SWT. Serta untuk memperoleh derajat-derajat tertentu (maqam dan ahwal) baik berupa rahasia-rahasia maupun kasyaf. Kedua orientasi ini sama-sama tercela (mazhmum). Sebab menurut Syekh Asy-Syarqawi, dalam ibadah mereka itu terdapat motif nafsu (ru’yah an-nafs) sehingga menjadi tidak murni hanya kepada Allah SWT.
Sedang seorang yang telah mengenal Allah (al-‘arif billah) itu, sama sekali tidak memandang atau memihak pada motif nafsunya. Sebab ia telah fana’ bersama Tuhan sehingga ia sadar bahwa hanya Allahlah yang melakukan semua itu, sedang dirinya hanya tempat dari perbuatan tersebut. Bagi seorang Waliyullah, kemaksiatan ataupun ketaatan tidak akan berpengaruh kepada ahwal dirinya. Sehingga rasa takut (khauf) dan harap (raja’) itu tetap sama pada dirinya, tidak berkurang karena kemaksiatan ataupun bertambah karena ketaatan. Itulah maksud yang menurut Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi menjadi konteks dari hikmah pertama ini.

Dari sini kita dapat memahami apa itu esensi dari tasawuf. Amal, bahkan dalam bentuk ibadah pun tidak menjamin seseorang untuk bisa sampai pada Allah SWT. Lebih-lebih hanya simbol dan hiasan semacam tasbih atau pakaian seseorang. Sebaliknya, orang yang tidak berpenampilan sufi sama sekali, jika hatinya telah bersih, ia akan bisa sampai kepada Allah SWT. Tasawuf adalah gerak hati, bukan gerak anggota badan. Selebihnya, hanya pernak-pernik dan bungkus saja yang terlihat dari luar. Pemahaman inilah yang perlu disebarkan kepada orang awam yang ‘takut’ untuk bertasawuf.
Di samping kesadaran jernih akan tasawuf, upaya membumikan tasawuf juga harus dimulai dari dakwah Islam kita di era digital hari ini. Kegelisahan inilah yang disampaikan oleh Habis Husein Ja’far dalam acara seminar internasional bertema “Dakwah Islam dan Perubahan Masyarakat Era Digital” oleh lembaga CARIUSTADZ.ID. Dalam penyampaiannya, beliau berkata “Sudah seharusnya sekarang kita menanamkan tasawuf di dalam setiap dakwah kita, agar umat Islam tidak melulu didakwahi orang kelompok kanan yang bersifat fikih-oriented. Sehingga ibadah-ibadah mereka menjadi bernilai, tidak hanya sebagai ritual-formal saja.”
Saya mengamini betul pembacaan beliau ini. Kita sebagai pembawa syiar Ahlussunnah, sudah saatnya mulai menyebarkan dan menanamkan tasawuf dalam dunia dakwah digital Islam. Dengan gerakan itu, kita bisa mengimbangi dakwah kelompok ‘sebelah’ beserta pengaruh mereka dalam laku keberagamaan masyarakat. Kabar baiknya, hari ini sosial media kita sudah ramai dengan figur Gus Baha'. Beliau dalam banyak momen dan tema menyertakan ajaran para sufi melalui cerita-cerita para wali. Selain pencerahan syariat yang didapatkan oleh umat di dalamnya, mereka juga mendapat siraman-siraman hati. Seperti halnya saya pribadi, ketika mendengarkan ceramah beliau hati ini begitu adem ayem.
Di samping itu, dalam pengamatan saya, tasawuf yang dijelaskan oleh Gus Baha' adalah tasawuf yang banyak membela orang awam. Tasawuf membumi yang bisa menjangkau masyarakat dari berbagai kelasnya: pekerja, petani, intelektual, hingga pejabat. Misalnya yang begitu populer, bahwa tidur yang diniatkan untuk tidak maksiat itu bernilai ibadah. Dan masih banyak lagi. Pemahaman semacam inilah yang akan menepis anggapan bahwa tasawuf itu elitis, sakral. Selain figur Gus Baha', masih banyak lagi para ulama yang perlu kita angkat di dalam sosial media, bahkan terlampau banyak kiai-kiai di pelosok desa, kiai-kiai pondok pesantren kecil, yang tak tersorot media. Padahal dakwah Islamnya begitu dahsyat, meluruhkan banyak hati para santri dan masyarakat. Oleh sebab itu, mari kita bersama melakukan tindakan perubahan walau itu hanya membagikan (share) melalui gawai masing-masing. Wallahu a’lam.
*Foto: KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha (Muslim Obsession)
Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim
