Islam dan Perintah untuk Berpikir Kritis

Dalam artikelnya yang berjudul Islam Progressif dan Revolusi Hak, Muhammad Al-Fayyadl mengatakan bahwa berislam tidaklah cukup dengan modal perasaan semata, jika hanya bermodalkan perasaan, artinya keberislaman kita adalah keberislaman yang sentimentil. Dan corak keberislaman semacam ini tak akan pernah mampu menjawab persoalan yang tengah dihadapi dan dialami oleh masyarakat muslim hari ini seperti persoalan kemiskinan atau kerusakan lingkungan. Oleh sebab itu, agar kita tidak terjatuh pada keberislaman yang sentimentil, masyarakat muslim hari ini harus mau bersikap kritis. Indikator seseorang yang telah benar-benar berislam adalah dengan memiliki sikap kritis, atau mampu berpikir kritis, bukan hanya mengedepankan perasaan semata, atau cenderung sentimentil.

Ironisnya, keberislaman yang sentimentil ini masih saja menjamuri sebagian besar masyarakat muslim hari ini. Sebagai contoh akan hal itu adalah pada saat menjelang lebaran munculnya suatu fenomena yang dianggap unik hingga ramai diperbincangkan di media sosial, yaitu daun-daun, pepohonan, atau tumbuhan yang berhenti bergerak saat malam hari raya sampai menjelang salat id. Kemudian ketika memasuki momen lebaran, terutama saat hendak melakukan salat id, sebagian besar netizen beramai-ramai membuktikan fenomena tersebut dengan perasaan takjub dan terharu. Akhirnya, mereka pun mengunggah dan menyebarkan pengalamannya itu dalam bentuk rekaman video singkat. Mereka percaya dengan keharuan yang membuncah bahwa peristiwa ini merupakan bagian dari keberkahan hari raya Idul Fitri yang diliputi kedamaian dan ketenangan serta tanda-tanda dari kebesaran Allah.

Pada saat yang sama, sebelum hari raya lebaran, telah terjadi banjir bandang yang melanda di berbagai daerah, khususnya di Morowali, Sulawesi Tengah, akibat proyek hilirisasi nikel dari pemerintahan Jokowi terdahulu. Sayangnya, peristiwa ini minim sekali mendapatkan engagement dari netizen, khususnya sebagian besar masyarakat muslim kita, hingga mampu membuahkan perbincangan yang ramai dan berbobot di media sosial. Kalau pun ada, tanggapan mereka atas peristiwa tersebut masih bernuansa sentimentil. Minim sekali, atau bahkan tak ada, yang mampu menyikapinya dengan kritis, semisal, sampai mempertanyakan dan mencari tahu lebih jauh tentang penyebab utama dari peristiwa banjir yang melanda di berbagai daerah itu. Berbanding terbalik dengan fenomena daun-daun dan pepohonan yang berhenti bergerak di hari raya lebaran.

Dengan penuh antusias, mereka mau mencari penjelasan lebih lanjut akan fenomena itu. Walaupun, pada kenyataannya, setelah saya coba telusuri kembali, sebenarnya tak ada dalil yang menjelaskan tentang fenomena tersebut, baik dari ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits sahih, selain Surah Al-Isra ayat 44 yang beramai-ramai dikutip oleh sebagian besar masyarakat muslim di media sosial: "Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun."

Melalui Surah Al-Isra itulah mereka pun meyakininya tanpa perlu repot-repot bertanya bagaimana memahami dan menafsirkan suatu ayat Al-Quran. Bagaimana para ulama terdahulu, para ahli tafsir yang terpercaya, para sarjana atau kalangan intelektual muslim dalam memahami ayat dari Surah Al-Isra tersebut. Apa yang dimaksud dengan semua yang ada di alam semesta ini bertasbih kepada Allah. Bagaimana dengan fenomena dedaunan dan pepohonan yang berhenti bergerak di hari raya lebaran, apakah diamnya pepohonan dan dedaunan itu adalah tasbih. Tapi, bukankah kita tidak mengetahui bagaimana mereka bertasbih, dan seterusnya.

Selain itu, pertanyaan sederhananya adalah adakah bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa dedaunan dan pepohonan tersebut benar-benar berhenti bergerak pada hari raya Idul Fitri? Tentu, tidak ada bukti ilmiah tentang hal ini. Dalam hal ini, bukan berarti saya meragukan kebenaran dan kemuliaan atas Surah Al-Isra itu, melainkan hanya ingin membuktikan kenaifan dari sebagian besar masyarakat muslim medsos hari ini. Seandainya mereka, sebagian besar masyarakat muslim medsos itu, mau sedikit bersabar dan berpikir secara ilmiah, bisa jadi diamnya dedaunan dan pepohonan merupakan fenomena alam biasa. Sebab, secara ilmiah, pergerakan dedaunan dan pepohonan tersebut bergantung pada faktor lingkungan seperti ada atau tidaknya angin serta perubahan suhu udara di sekitarnya.

Lebih menyedihkannya lagi, di momen yang sama saat menjelang salat id, terjadi peristiwa mengenaskan di daerah Pemalang, Jawa Tengah. Sebuah pohon beringin besar tiba-tiba ambruk dan menimpa beberapa orang yang hendak melakukan salat Idul Fitri. Korban pun berjatuhan, dikabarkan dua orang tewas dan lima belas orang lainnya mengalami luka ringan dan serius. Dua peristiwa yang berbeda di waktu yang bersamaan ini tentu sangat mengejutkan dan mengecewakan hati sebagian orang, karena ketika khalayak netizen beramai-ramai membicarakan fenomena unik tersebut, di sisi lain terjadi peristiwa pohon tumbang yang mengakibatkan korban jiwa di hari raya lebaran. Bukankah hal ini sangatlah kontradiktif?

Pada akhirnya, bagi saya, rangkaian dari peristiwa itu menandai suatu hal yang tengah dialami oleh sebagian besar masyarakat muslim kita; keberislaman yang sentimentil dan hilangnya kemampuan untuk berpikir kritis dari corak keberislaman kita hari ini. Keberislaman yang sentimentil ini sangatlah dominan dan cenderung berbahaya. Karena berislam hanya dengan bermodalkan perasaan akan mengarah—meminjam kembali istilah dari Muhammad Al-Fayyadl—pada keberislaman yang borjuistik, yakni keberislaman yang hanya memupuk kebanggaan pada diri kita sendiri. Atau, dalam istilah saya, keberislaman yang narsistik dan individualistik, yang kehilangan kecerdasan intelektual dan spiritual, serta kepekaan sosial dan keberpihakan akan kalangan lemah. Itulah alasannya mengapa kita harus mau berpikir kritis agar terbebas dari kecenderungan yang semacam ini.

Namun, sebelum melangkah lebih jauh lagi, ada baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan bepikir kritis? Bagaimana berpikir kritis dalam pandangan Islam? Secara sederhana, berpikir kritis (critical thinking) merupakan kemampuan dalam mendayagunakan akal atau pemikiran kita untuk melakukan analisis dan suatu penilaian atas suatu informasi secara objektif, serta dalam membangun argumen secara rasional sebelum membuat keputusan atau kesimpulan. Kemampuan ini tentu sangatlah dibutuhkan oleh seseorang atau masyarakat kita di abad ke-21 ini, di saat informasi membanjiri kehidupan keseharian kita.

Lingkungan

Kumpulan tulisan yang menyoroti isu lingkungan dapat teman-teman baca

di sini

Sampai sini kita pun dapat memahami bahwa dampak dari hilangnya kemampuan untuk berpikir kritis dari masyarakat muslim hari ini sebenarnya tidaklah main-main dan cukup masif. Munculnya fenomena intoleran, fanatisme buta, sektarianisme, ekstremisme agama, egoisme, atau penggunaan agama oleh segelintir orang demi kepentingan politik dan ekonomi yang cenderung koruptif dan destruktif, salah satu faktornya adalah karena hilangnya kemampuan untuk berpikir kritis dari sebagian besar masyarakat muslim kita. Di samping disebabkan karena persoalan ideologi-politik dari agenda-agenda liberalisme seperti War on Terror dan sekularisasi berbagai ruang publik, serta agenda ekonomi yang kapitalisitik.

Dalam konteks ini pula, yakni konteks kapitalisme-neoliberal, sebagian besar dari masyarakat muslim kita pun kelimpungan untuk memahami dan mempertanyakan lebih jauh atas problem material yang dihadapinya akibat hilangnya sikap kritis dalam keberislaman mereka: Apa yang menyebabkan kemiskinan dari suatu negara atau masyarakat? Atau sederhananya, kenapa seseorang itu menjadi miskin? Kemudian, apa yang menyebabkan pemanasan global dan kerusakan lingkungan terjadi? Sejauh mana keberislaman kita dapat berkontribusi dalam mengatasi kerusakan lingkungan? Dst.

Lalu bagaimana pandangan Islam dalam persoalan berpikir kritis? Islam sendiri sebagai agama paripurna telah memerintahkan kita untuk berpikir kritis. Dalam bukunya Nalar Kritis Muslim Abad XXI (2017), Ahmad Rizky M. Umar berargumen bahwa Islam punya cara berpikir kritis yang fondasinya telah dibangun di dalam Al-Quran itu sendiri. Ada banyak ayat-ayat Al-Quran yang menganjurkan dan memerintahkan manusia menggunakan akalnya dan merenungkan tanda-tanda kebesaran Tuhan semesta alam. Misalnya, klausa atau ungkapan seperti afala ta'qilun (apakah kalian tidak berpikir?), afala tubshirun (apakah kalian tidak memperhatikannya?), serta afala tatafakkarun (apakah kalian tidak memikirkannya?), muncul berulangkali sebagai seruan bagi manusia untuk menggunakan akalnya dalam memahami ajaran agamanya dan realitas kehidupan.

Hal ini diperkuat pula oleh pernyataan salah satu mufasir masyhur di Indonesia, yakni Prof. M. Quraish Shihab. Dalam bukunya Logika Agama: Kedudukan Wahyu dan Batas-Batas Akal dalam Islam (2005), Prof. M. Quraish Shihab mengatakan bahwa berpikir kritis sangatlah penting agar manusia, melalui perenungan atas alam dan fenomena yang terjadi, semakin mampu memahami kebesaran Tuhannya dan makna kehidupan (seperti dalam Surah Ali Imran: 190-191). Artinya, Islam sendiri tidak pernah melarang kepada umatnya untuk berpikir kritis. Sejarah pun telah membuktikannya bagaimana para tokoh besar Islam turut berkontribusi dalam membangun peradaban Islam melalui pemikiran dan karya-karyanya dalam menjelaskan agamanya, bahkan secara kritis, serta perdebatan intelektual di antara mereka seperti perdebatan antara Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.

Dengan demikian, betapa pentingnya berpikir kritis dalam keberislaman kita, terutama di abad informasi dan digital seperti saat ini. Bersikap kritis menjadi syarat utama jika kita ingin membangun kembali masyarakat muslim yang berkemajuan, bijaksana, adil, dan egaliter, bukan hanya membuat agama menjadi relevan kembali di abad ini. Tanpa sikap kritis, kita akan terjerumus pada keberislaman yang egoistik dan narsistik, atau keberislaman yang sentimentil.

Akan tetapi, yang perlu digaris bawahi di sini, bahwa kemampuan untuk berpikir kritis inipun tidaklah jatuh dari langit begitu saja, melainkan perlu suatu ikhtiar, perlu dilatih, dan terus dipertajam. Salah satu ikhtiar dan pelatihan dalam mempertajam pemikiran kita adalah dengan membaca. Sebagaimana ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW: Iqra! (bacalah!). Ya, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan (Al-Alaq: 1). Sebab membaca adalah syarat utama dalam hal memahami dan membangun nalar kritis. Maka, mulai saat ini, jika kita ingin memiliki kemampuan untuk bersikap kritis, mulailah membaca dengan tekun, baik membaca ayat-ayat Al-Quran ataupun ayat-ayat kehidupan, baik membaca kitab-kitab keagamaan atau buku-buku pengetahuan.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik OPINI atau tulisan menarik Dedi Sahara