Khutbah Jumat Mari Merawat dan Mengisi Kemerdekaan

Khutbah I

اْلحَمْدُ للهِ... اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ:
فَيَايُّهَا الإِخْوَان أوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم}، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Di hari yang mulia dalam bulan Agustus bersejarah yang indah ini, khatib ingin berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita semua kepada Allah SWT. Marilah, dalam kondisi apapun, dalam keadaan sesulit apa pun dan dalam kondisi bagaimana pun kita senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita dengan cara melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan-larangan Allah SWT. Sebab hanya dengan modal peningkatan kualitas iman dan takwa, kita semua bisa menjadi hamba yang “merdeka” di dunia dan akhirat. Sebagaimana dikatakan dalam Al-Quran, Surah Al-Baqarah, tidak ada bekal terbaik yang layak untuk kita bawa menuju akhirat selain ketakwaan:

﴿ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ ﴾ [سورة البقرة: ١٩٧]

Artinya: Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat. (Surah Al-Baqarah: 197)

Bahkan Allah SWT telah bersabda, keberkahan dan kejayaan negeri akan tercapai apabila para penduduknya beriman dan bertakwa. Allaah ta'aala berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 96:

﴿ وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ ﴾ [سورة الأعراف: ٩٦]

Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Surah Al-A’raf ayat 96)

Jamaah Jum’ah yang berbahagia, sebentar lagi kita akan memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79. Hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang dalam meraihnya penuh dengan tetesan darah dan air mata para pejuang kita. Kemerdekaan Indonesia bukanlah pemberian dari siapa pun, apalagi hadiah dari penjajah. Kemerdekaan bangsa Indonesia adalah karunia serta rahmat Allah SWT yang diperjuangkan bahkan hingga mengorbankan nyawa para pendahulu kita. Sungguh benar apa yang dinyatakan dalam pembukaan UUD 1945, bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia adalah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Para pahlawan dan pejuang kemerdekaanlah yang mengerahkan daya upaya dan ikhtiar, sementara Allah menentukan dengan memberikan kemenangan bagi kita. Allah adalah pencipta segala sesuatu. Tatkala Allah menghendaki terjadinya segala sesuatu, maka mudah bagi Allah mencurahkan dan menganugerahkan rahmat berupa kemerdekaan kepada kita semua.

وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Artinya: Allahlah sendirian yang mengalahkan semua musuh

Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah…

Tepat 79 tahun yang lalu, melalui perjuangan yang tidak mengenal lelah dan berdarah-darah, Indonesia akhirnya menjadi negara merdeka yang utuh dan berdaulat penuh terhadap wilayahnya. Kemerdekaan tersebut merupakan rahmat dari Allah dan merupakan nikmat bagi kita semua. Oleh karenanya, jika kita harus terus bersyukur atas nikmat kemerdekaan itu ataupun atas nikmat-nikmat Allah lainnya, supaya Allah akan menambahkan nikmat-nikmat-Nya. Hal ini sebagaimana yang Allah SWT telah firmankan dalam ayat berikut:

﴿ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ﴾ [سورة إبراهيم: ٧]

Artinya: Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian, tapi jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat. (Surah Ibrahim: 7)

Tasawuf

Kumpulan tulisan bertema tasawuf dapat teman-teman baca

di sini

Adapun cara mensyukuri nikmat adalah dengan tidak menggunakan nikmat itu dalam bermaksiat kepada Allah. Begitu juga kita syukuri nikmat kemerdekaan ini dengan melakukan berbagai kebaikan dan berbuat baik kepada orang lain. Kita syukuri kemerdekaan ini dengan melaksanakan semua kewajiban dan menjauhi seluruh larangan Allah. Termasuk melakukan tugas dan kewajiban kita sebagai ayah, ibu, anak, sebagai suami, istri, sebagai guru, murid, sebagai pejabat, rakyat, hingga kewajiban sebagai orang yang hidup bertetangga, ataupun bermasyarakat sebagai orang yang hidup berdampingan dengan umat agama lain. Jika masing-masing dari kita telah mengetahui, memahami dan melakukan tugas dan kewajibannya sebagaimana mestinya, maka niscaya negara ini akan senantiasa aman dan sentosa.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Kemerdekaan adalah rahmat Allah yang Maha Kuasa, sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Sejarah mencatat bila para pejuang kemerdekaan mayoritasnya adalah para ulama, kiai, santri, dan masyarakat yang berjuang dengan penuh keikhlasan li-i’laai kalimatillah (demi tegaknya nilai-nilai Islam) di negeri tercinta Indonesia. Mereka mengorbankan tenaga, jiwa, raga, harta, bahkan nyawa untuk melepaskan diri dari belenggu negara-negara penjajah. Berkat kesabaran, keistikamahan dan keteguhan para pejuang, Allaah SWT menolong mereka dengan memberikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Oleh karena kemerdekaan adalah nikmat berupa karunia dan rahmat Tuhan yang telah diberikan ke warga negara Indonesia, maka kita harus merawat dan melestarikannya dengan mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai nikmat yang agung ini terlepas dari kita. Lantas bagaimana cara merawat dan melestarikannya? Yakni dengan cara terus membangun negeri ini dan memperbaikinya. Yang paling pertama adalah dengan kita mulai memperbaiki diri, keluarga kita hingga masyarakat kita. Ibarat sebuah bangunan, maka Indonesia terdiri dari banyak sekali batu-bata dan komponen-komponen lainnya.

Kita dan keluarga kita adalah salah satu dari batu-bata negeri ini. Jika semua batu-bata dan komponen lainnya baik dan kuat, maka bangunan negeri ini akan kuat. Sebaliknya, jika ada satu saja atau beberapa batu-bata yang rapuh, maka bisa jadi hal itu akan berakibat rapuhnya bangunan seluruh negeri, bahkan bisa menjadikan seluruh bangunan menjadi runtuh.

Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah…

Mensyukuri, merawat, dan mengisi nikmat kemerdekaan tidak-lah cukup dengan sekadar melakukan seremoni artifisial berupa upacara, mengadakan berbagai macam lomba atau mengadakan pawai karnaval besar-besaran, tetapi butuh lebih lebih dari itu. Yakni dengan tidak menggunakan kenikmatan berupa kemerdekaan untuk kemaksiatan dan kufur kepada Allaah. Kemerdekaan harus kita gunakan dengan sebesar-besarnya dalam meningkatkan keimanan dan ketaatan serta ibadah kepada Allah SWT. Sebaliknya, kemerdekaan dan kebebasan jangan digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Karena yang demikian itu adalah salah satu bentuk kufur nikmat yang oleh Allah diancam dengan azab yang pedih. Allah SWT berfirman:

وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinys: Dan apabila kalian kufur (atas nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.

Oleh karenanya, mari jangan biarkan kemaksiatan dan kekufuran merajalela di negeri kita tercinta ini. Oleh karena jika itu dibiarkan akan mengancam dan menjadi penyebab kehancuran bangsa kita. Begitu pula jangan sampai paham-paham yang menyimpang berkembang di negeri tercinta Indonesia. Sebab Indonesia menganut paham Ahlussunah Waljamaah yang berhaluan moderat (wasathiyyah), tidak melampaui batas (ghuluw) dan tidak ceroboh (taqshir), tidak ekstrem kanan, tidak pula ekstrem kiri. Paham keagamaan yang moderat adalah paham yang diajarkan dan disampaikan oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dan diyakini oleh mayoritas umat Islam dari masa ke masa.

Paham inilah yang harus selalu kita junjung tinggi jika kita ingin membangun negeri ini. Karena fakta sejarah membuktikan bahwa pemikiran dan paham yang ekstrem (ghuluw, taqshir, dan ta’ashshub) telah meluluhlantakkan berbagai negara di Timur Tengah. Contoh konkretnya di masa sekarang adalah Irak, Suriah, Afghanistan, dan lain-lain. Jangan sampai Indonesia menjadi Irak atau Suriah kedua. Paham-paham ekstrem (takfir syumuli) pengafiran menyeluruh kepada semua orang yang tidak sepaham, paham pengafiran terhadap pemerintah yang tidak berdasar hukum Islam, paham pengafiran dan pemusyrikan terhadap para pelaku tawasul dan tawasul, semua itu telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara berbagai belahan dunia. Hal itu juga telah merenggut kemerdekaan dari banyak orang. Akibat paham-paham ekstrem tersebut, banyak orang yang tidak bisa lagi menikmati kebebasan dan kemerdekaan dalam banyak hal.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Jika kita memang mencintai negeri ini, maka mari buktikan cinta itu dengan senantiasa mendorong untuk terus membangun, mengisi, dan memperbaiki negeri ini. Kita rawat dan isi kemerdekaan negeri ini dengan mempersiapkan diri kita menjadi pribadi-pribadi yang saleh, berilmu, dan penuh dedikasi tinggi untuk membangun negeri. Sebab dari pribadi-pribadi yang saleh nantinya akan melahirkan keluarga-keluarga yang saleh. Dan dari keluarga-keluarga yang saleh itu yang nanti akan mewujudkan masyarakat yang saleh. Wabakdu, nantinya dari kesalehan individu itu akan mewujudkan kesalehan sosial. Kesaalehan sosial itulah yang akan menjadikan negeri ini aman, sejahtera dan menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا،ـ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

💡
Baca juga beragam teks khutbah Jumat di KHUTBAH atau tulisan menarik Ahmad Muhakam Zein