Khutbah Jumat Pentingnya Ilmu agar Amal Ibadah Kita Diterima

Khutbah Pertama

الحَمْدُ لِلَّهِ ثم الحمدُ للّهِ الحمدُ للّهِ خَلَقَ الخَلْقَ، وأبْدَعَ الكائناتِ، الحَمْد للَّهِ عَلَّمَ القرآنَ، خَلَقَ الإنسانَ علَّمَهُ البَيَانَ، الحمد لِلَْهِ باعِثِ الرُّسُلِ بِالآيَاتِ والبراهينَ، وأشهد أن لَا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرّيْكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمّدًا عبدُهُ ورسولُهُ .خيرُ مُعلِّمِ وإمَامٍ بَعَثَهُ اللّهُ-سبحانه وتعالى- بالعلمِ النافِعِ والعَمِلِ الصَّالِحُ؛ لِيُخرِجَ النَّاسَ مِنَ الظّلُمَاتِ إلى النُّورِ صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عليه وعلى آلِه وأصْحَابِهِ الغُرِّ المَيَامِيْنَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْنِِ ...
عِبَادَ اللَّهِ... أُوْصِيكُم ونَفسي المقَصِّرَةِ بتَقْوَى اللّهِ -عز وجل- بفِعْلِ أوامِرِهِ واجتِنابِ نَوَاهِيهِ، قال الله -سبحانه وتعالى- فِي كتابِِهِ العَزِيْزِِ: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا* يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا).

Hadirin yang dirahmati Allah...

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, berkat iradat dan inayah-Nya hari ini kita masih bisa melaksanakan kewajiban salat Jumat dalam keadaan sehat wal afiat.

Sebagai hamba, sudah seharusnya kita beribadah kepada Allah SWT sebagai bentuk pengabdian kita atas nikmat yang telah diberikan kepada kita, nikmat yang tidak terhingga. Malu rasanya, jika kita menikmati makanan, kesehatan, dan segala nikmat yang kita rasakan ini namun enggan dan malas beribadah kepada Allah SWT. Padahal sejatinya manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah untuk beribadah. Sebagaimana firman Allah SWT:

﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ﴾ [سورة الذاريات: ٥٦]

Artinya: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (Surah Adz-Dzariyat: 56)

Namun, beribadah kepada Allah tidak boleh dengan sembarang ibadah. Tidak akan menjadi ibadah yang diterima oleh Allah, jika ibadah kita tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan oleh Allah SWT.

Dari mana kita bisa tahu kriteria-kriteria tersebut? Tentu dari Rasulullah SAW. Artinya, Rasul menyampaikan kembali tata cara ibadah yang diterima dari Allah SWT melalui malaikat Jibril itu kepada para Sahabat, lalu para sahabat kembali menyampaikan ilmu tersebut kepada generasi para tabiin, dan para tabiin menyampaikan kembali ilmu itu kepada generasi setelahnya yang disebut atba' tabi'in. Hal itu terus berlangsung sehingga sampailah ilmu tersebut kepada kita melalui para guru kita. Inilah yang dinamakan dengan sanad, mata rantai keilmuan, sehingga ilmu dikatakan sebagai warisan para Nabi. Rasulullah SAW bersabda:

“Dan sesungguhnya para Nabi tidak pernah mewariskan uang emas dan tidak pula uang perak, akan tetapi mereka telah mewariskan ilmu (ilmu syar’i) barang siapa yang mengambil warisan tersebut maka sungguh ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Ahmad).

Apa yang dimaksud ilmu di sini?

Ilmu yang dimaksud adalah ilmu dalam definisi Imam Al-Ghazali, yaitu:

اَلْعِلْمُ نُوْرٌ يَقْذِفُهُ اللهُ عَلَى قَلْبِ الْعَبْدِ

Ilmu adalah cahaya yang terpatri dalam diri seorang hamba.

Cahaya yang terpatri dalam diri seorang hamba itulah yang akan membawa ke dalam keyakinan yang benar mengajak untuk melakukan amal saleh dan menjadi penyebab faktor seseorang takut kepada Allah SWT. Cahaya yang menerangi langkah seseorang mengenal hakikat hidup dan harus bagaimana menjalankan tugas sebagai manusia yang sesungguhnya. Bukanlah ilmu yang hanya mengetahui  sesuatu namun terhalang dari mengenal Sang Pencipta alam semesta yang sesungguhnya. Tapi ilmu yang menyampaikan kepada Allah dan menambah rasa takut kepada Allah SWT.

Hadirin Rahimakumullah..

Ilmu yang telah ketahui itu harus diamalkan. Artinya ilmu dan amal itu saling berhubungan satu sama lain. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Karena ilmu tanpa amal adalah kegilaan yang nyata. Dan amal tanpa ilmu itu tidak mungkin dan hanyalah kesia-siaan, sebagaimana orang yang arif berkata:

العلمُ بلَا عَمَلٍ جُنُونٌ والعَمَلُ بلَا عِلمٍ لَا يَكُونُ

Maka artinya seorang yang mempunyai ilmu mengenai tata cara ibadah, tapi tidak pernah mau mengamalkan ilmunya, maka orang itu adalah orang yang sudah gila, stres. Dan bagi orang yang rajin melakukan ibadah tapi tidak tahu ilmunya, itu adalah kesia-siaan belaka, sesuatu yang tidak bernilai. Maka, banyak amalnya tidak diterima karena tidak tahu ilmunya.

Syekh Ahmad bin Raslan dalam kitab Zubad-nya mengatakan:

وَكُلُْ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ ۞ أَعْمَالُهُ مَرْدُودَةٌ لَا تُقْبَلُ
فَعَالِمٌ بِعِلْمِهِ لَم يَعْمَلَنْ ۞ مُعَذَّبٌ مِنْ قَبْلِ عُبَّادِ الوَثَنْ

“Orang yang beramal tanpa (didasari) ilmu, maka amal-amalnya tertolak, tidak akan diterima”

“Orang berilmu yang tidak beramal dengan ilmunya, maka akan disiksa sebelum para penyembah berhala.”

Maka, kita harus terus berusaha mencari ilmu itu agar ibadah kita tetap bernilai. Dan, bagi yang sudah tahu ilmunya, harus mengamalkan ilmu tersebut, sehingga menjadi mulia. Karena Allah angkat derajat orang yang berilmu yang mengamalkan ilmunya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿ يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ ﴾ [سورة المجادلة: ١١]

Artinya: ...niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. ... (Surah Al-Mujādalah: 11)

Semoga kita menjadi manusia yang berilmu yang mengamalkan ilmunya sehingga ibadah kita dihadapan Allah menjadi bernilai dan berkualitas. Amieen ya Rabbal 'alamien.

بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْانِ العَظٓيم ونَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالأيَاتِ والذِّكرِ الحَكِيم وتَقَبَّلْ مِنِّي ومِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيم

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للّٰهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ لَهُ اَلْوَاقِفِيْنَ عَلَى بَابِهِ حَتَّى يَرْضَى وَيَفْتَحَ عَلَيْنَا فُتُوْحَ الْعَارِفِيْنَ بِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَنَبِيُّهُ وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ بَلَغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ لِلْأُمَّةِ وَجاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ حَتَّى أَتَاهُ الْيَقِيْنَ، فَصَلَّى اللّٰهُ عَلَيْكَ وَسَلَّمَ يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ!
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ … اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهَوا عَمَّا نهى وَاعْلَمُوْا أنَّ اللّٰهَ أمَرَكُمْ بِأمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَى بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى أنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيّ يَا أيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
نَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ بِحُرْمَةِ بَابِكَ كُلِّهِ أَنْ تُنَزِّلَ النَّعِيْمَ وَالْخُلْدَ عَلَى أَرْوَاحِ الشُّهَدَاءِ وَضَحَايَا الْإِرْهَابِيِّ فِيْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا وَأَنْ تُنَزِّلَ الْعَافِيَةَ وَالشِّفَاءَ عَلَى الْجُرْحَى وَالْمُصَابِيْنَ وَأَنْ تُنَزِّلَ الْأَمَانَ وَالْعَافِيَةَ عَلَى بِلَادِنَا وَأَوْطَانِنَا كُلِّهَا وَعَلَى بِلَادِ الْعَالَمِيْنَ، وَنَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ لِأَهْلِ أَرْضِ إِنْدُوْنِيْسِيَا عَلَى وَجْهِ الْخُصُوْصِ أَنْ تَحْفِظَهُمْ، اَللَّهُمَّ احْفَظْ إِنْدُوْنِيْسِيَا وَشَعْبَهَا الْعَظِيْمَ وَاحْفَظْ عُقُوْلَهُمْ وَزَكِّ نُفُوْسَهُمْ وَوَسِّعْ أَرْزَاقَهُمْ وَجَمِّلْ أَخْلَاقَهُمْ وَابْسُطْ بَيْنَهُمْ بِسَاطَ الرَّخَاءِ وَالْعَافِيَةِ وَالْوَفْرَةِ وَالسَّعَةِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

💡
Baca juga khutbah lain di rubrik KHUTBAH atau tulisan menarik Irfan Rifqi Fauzi