Skip to content

Syekh Shalih Al-Ja’fari, Sang Wali Besar dari Al-Azhar

Biografi alim nan saleh yang merantau demi menuntut ilmu di Al-Azhar sedari muda. Syekh Shalih Al-Ja'fari, sang wali besar, guru dari para guru.

FOTO Syekh Shalih Al-Ja'fari di ruang terbuka Masjid Al-Azhar, Kairo, Mesir.
FOTO Syekh Shalih Al-Ja'fari di ruang terbuka Masjid Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Ia bernama Shalih bin Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Rifa’i Al-Ja’fari Al-Husaini As-Sudani Al-Asy’ari Al-Maliki Al-Ahmadi Al-Idrisi Al-Azhari. Nasabnya bersambung kepada Sayid Al-Hadi bin Sayid Muhammad Al-Jawwad bin Sayid Ali Ridha bin Sayid Musa Al-Kazhim bin Sayid Ja’far Ash-Shadiq. Dari nasab terakhir inilah ia dinisbahkan dengan Al-Ja’fari.

Pada awalnya, ia tidak menampakkan nisbah Al-Ja’fari atas dirinya, karena ia belum merasa —kala itu— bahwa ia adalah keturunan Imam Ja’far Ash-Shadiq, lalu pada suatu ketika beliau melihat secarik kertas yang bertuliskan bahwa ayahnya dinisbahkan kepada marga Al-Ja’fari. Pada suatu malam, ia bermimpi bertemu Sayidah Zainab binti Imam Ali bin Abu Thalib yang ketika itu berdiri di balik layar (hijab), ia pun mengucapkan salam kepadanya. Sayidah Zainab menjawab salam dan berkata, “Bagaimana kabarmu dan kabar keluargamu Al-Ja’afirah?” Terbangun dari mimpi itu, ia semakin yakin atas nisbah dirinya kepada marga Al-Ja’fari.

Khutbah Jumat Penyebutan Rasulullah dalam Al-Quran
Terdapat berbagai macam redaksi penyebutan Rasulullah SAW dalam Al-Quran. Teks khutbah Jumat ini menekankan adab memanggil Sang Nabi Akhir Zaman.

Ia juga bercerita bahwa Nabi Muhammad SAW juga membenarkan bahwa ia adalah keturunan Sayid Ja’far Ash-Shadiq. Ia pun berkisah, ‘Sesungguhnya saya bermimpi melihat Rasulullah dan bersamanya pula keempat Khalifah Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali). Saya menyalami beliau dan keempat Khalifah. Ketika saya menyalami Sayidina Ali, saya pegang erat tangannya dan berkata, “Saya termasuk hitunganmu, saya termasuk keturunanmu, saya dari keturunan Sayidina Ja’far Ash-Shadiq.’

Lalu yang menjawab langsung adalah Baginda Nabi, ‘Benar!’ Jawab beliau, sembari disusul anggukan oleh Sayidina Ali yang membenarkan perkataan Baginda Nabi. Ketika saya tersadar, mimpi ini lebih saya cintai daripada dunia dan seisinya,” kisahnya.

Kelahiran

Syekh Shalih Al-Ja’fari lahir di Daerah Dongola, Sudan pada hari Jumat, 15 Jumadilakhir 1328 H, bertepatan dengan tanggal 24 Juni 1910 M. Kelahirannya merupakan nikmat terbesar bagi kedua orang tuanya yang bertani dan berkebun. Ayahnya, Muhammad, ketika beristri dengan ibundanya selama masa delapan tahun belum dikaruniai keturunan hingga keluarganya berkeinginan untuk menikahkan sang ayah kembali dengan wanita yang lain.

Hal tersebut diketahui oleh istrinya. Istrinya sedih, lalu pergi ke makam Sayid Abdul’ali bin Sayid Ahmad bin Idris di Masjid Dongola, berdoa memohon kepada Allah di sisi makam agar dikaruniai seorang anak. Sang ibu juga berjanji jika diberikan seorang anak akan berpuasa selama enam hari dan menghadiahkan pahalanya kepada Shahibul Maqam serta bersedekah kepada semua fakir miskin.

Hukum Nikah Siri dan Tajdid Nikah
Pernikahan pesohor Lesti Kejora dan Rizky Billar berujung ancaman pelaporan. Bagaimana sebaiknya kita menyikapi nikah siri & akad dua kali ini?

Allah mengabulkan permintaan tersebut. Istrinya pun melahirkan. Sang ayah membawa anak tersebut kepada ayahnya, Shalih (kakek Syekh Shalih Al-Ja’fari) dalam keadaan bergembira ria dan berkata kepada ayahnya bahwa ia ingin menamai sang anak dengan nama yang sama dengan kakeknya.

“Jika engkau benar-benar ingin menamainya dengan namaku, maka engkau harus menghibahkan anak ini kepada Allah dan engkau tidak boleh mengambil manfaat darinya sedikit pun untuk semua pekerjaanmu,” kata Shalih, sang kakek.

Muhammad, sang ayah pun menjawab, “Aku akan menghibahkannya kepada Allah.”

Masa Kecil

Dididik oleh keluarga yang baik dan lingkungan yang baik, masa pun berlalu hingga Shalih kecil akhirnya berumur enam tahun. Sang ayah yang melihat perkembangan anaknya, ingin mulai mengajarinya cara berdagang. Ia mengajaknya ke toko pamannya dan lupa akan perkataannya dulu. Akan tetapi, tiap kali disuruh menjaga toko sang paman, si Shalih kecil selalu lari dan pergi menuju halakah Tahfiz Al-Quran di Masjid Dongola.

Ia terus menerus dalam keadaan demikian, lari dari menjaga toko dan pergi ke Masjid Dongola. Ayahnya selalu menghukumnya karena meninggalkan toko dan menyuruh Shalih agar belajar berdagang dari pamannya. Untungnya sang paman selalu membelanya dan berkata, “Biarkan ia seperti itu.”

Ketika ia sedang menjaga toko dan melihat fakir miskin, ia senantiasa memberikan makanan dan jajanan yang ada di toko tersebut kepada fakir miskin.

Melihat kelakuan anaknya, sang ayah mengadukan hal tersebut kepada Sayid Muhammad Syarif, anak Sayid Abdul’ali, Shahibul Maqam. Sayid pun berkata, “Apakah engkau lupa bahwa engkau telah menghibahkan anakmu kepada Allah? Kirimlah anakmu ke Al-Azhar.”

Munakahat

Kumpulan tulisan dengan topik pernikahan dan keluarga islami dapat teman-teman temukan

di sini

Setelah kejadian itu, sang ayah memfokuskan sang anak agar belajar di Kuttab. Pada umur 14 tahun Shalih kecil menyempurnakan hafalan Al-Qurannya di Masjid Dongala dengan bimbingan Syekh Abu ‘Auf As-Sanhuri dan Sayid Hasan Efendi. Di umur tersebut pula, ia dinikahkan sebelum kepergiannya ke Negeri Kinanah, Mesir.

Salah satu sebab lain Shalih muda ingin menuntut ilmu di al-Azhar ialah, bahwasanya seseorang datang dengan membawa juz pertama Syarh Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi. Ia meminjam kitab tersebut darinya dan membacanya hingga terlelap.

Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu Sayid Abdul’ali, Shahibul Maqam, sedang duduk di atas kursi. Di sisinya sudah siap perbekalan untuk safar, lalu Shalih muda mendengar ada yang berkata, “Sang Sayid akan safar ke Mesir menuju Al-Azhar!”

Bahaya Belajar Agama Islam Tanpa Guru
Mempelajari agama Islam menjadi berbahaya jika dilakukan secara autodidak tanpa guru. Para ulama di Al-Azhar masih menjaga betul sanad keilmuan.

Mendengar hal itu, Shalih langsung mendatangi beliau, menyalaminya, dan mencium tangannya. Sayid berkata kepadanya dengan kalimat yang sama dan mengulanginya beberapa kali, “Ilmu itu diambil dari sanubari para ulama, bukan dari kitab.” Shalih terbangun. Dari situ, akhirnya keinginan untuk pergi ke Al-Azhar semakin kuat.

Para Guru

Pada umur kurang lebih 20 tahun, Shalih muda akhirnya pergi menuju Al-Azhar, dengan meninggalkan anak laki-laki beliau, Sayid Abdulghani dan anak perempuan bernama Fathiyyah. Di sini, ia mulai berguru dengan ulama-ulama Al-Azhar pada masanya, seperti:

- Syekh Mahmud Khaththab As-Subki. Ia mulai belajar dan bermulazamah kepadanya setelah dua bulan berada di Kairo. Ia berkisah:

Saya menghadiri dars (pengajian) Syekh Mahmud Khaththab As-Subki. Kala itu, di hadapan beliau ada lima puluhan orang murid. Ketika pelajaran telah selesai dan Syekh Mahmud ingin keluar, saya menghampiri beliau dan ingin mencium tangannya, tapi ia melarang saya akan hal tersebut. Maka saya katakan kepada beliau, “Imam Abu Daud meriwayatkan dalam Sunan-nya pada Bab Utusan Abdulqais bahwasanya mereka turun dari hewan tunggangannya, menghampiri tangan dan kaki Nabi SAW, lalu menciumnya. Jadi apakah engkau lebih wara’ dibanding Rasulullah?”

Lalu Syekh menatap saya sembari memandang sekeliling dan berkata, “Dari mana kamu?”

Saya jawab, “Dari Negeri Allah. Saya datang sejak dua bulan lalu di Al-Azhar.”

Syekh sekali lagi menatap kepada murid-murid yang hadir bersama saya dan berkata kepada mereka, “Lihatlah anak ini! Ia baru dua bulan di Al-Azhar dan mengajakku berdialog dengan Sunan Abu Daud. Sedangkan orang yang telah 80 tahun di Al-Azhar tidak tahu di mana letak Sunan Abi Daud. Inilah jawabannya. Saya berterima kasih kepadanya karena ia memberi permisalan (seputar mencium tangan) dengan dalil.”

Sejak saat itu, tiap saya ingin menyalami beliau, maka beliau menyodorkan tangannya, lalu saya mencium tangan tersebut.

Asal Mula Tradisi Berziarah Saban Jumat di Al-Azhar
Para talib Al-Azhar mempunyai tradisi ziarah saban Jumat. Guru besar Al-Azhar Syekh Fathi Hijazi mengisahkan riwayat ini dari gurunya.

- Syekh Muhammad Ibrahim As-Samaluthi. Ia bermulazamah kepadanya dalam pelajaran hadits riwayah dan dirayah di Masjid Sayidina Al-Husain serta pelajaran tauhid.

- Syekh Muhammad Bakhith Al-Muthi’i. Ia bermulazamah kepadanya dalam bidang tafsir dan ulumul Quran hingga Syekh Al-Muthi’i meninggal dunia, yang kala itu beliau mengajar di Riwaq Al-‘Abbasi, Masjid Al-Azhar.

- Syekh Habibullah Asy-Syinqithi. Ketika bermulazamah, ia sangat mendambakan menjadi muqri' (pembaca teks kitab) bagi sang guru. Pada suatu hari, ia pergi ke rumah gurunya di samping Qal’ah Al-Jabal dengan niat semoga diberikan izin oleh sang guru untuk menjadi muqri' baginya dalam kajian Shahih Al-Bukhari dan Muslim. Ketika telah sampai dan duduk di ruang tamu, tiba-tiba sang guru tersenyum sembari berkata, “Kamu insyaallah akan menjadi muqri' saya mulai tahun ini.”

Ternyata permintaannya terkabul. Ia akhirnya menjadi muqri' selama 15 tahun hingga sang guru meninggal dunia.

- Syekh Yusuf Ad-Dijwi. Ia bermulazamah kepadanya dalam pelajaran tafsir setelah salat Subuh di Riwaq Al-‘Abbasi selama 7 tahun hingga sang guru wafat.

Selain itu, ia juga berguru kepada ulama besar Al-Azhar pada zamannya, seperti Syekh Abdurrahman ‘Ilisy, Sayid Muhammad Abdulhayy Al-Kattani, Syekh Ahmad Al-Ghumari, Syekh Abdullah Al-Ghumari, dan Syekh Muhammad Hasanain Makhluf Al-‘Adawi.

Para Murid dan Karya

Syekh Shalih Al-Ja’fari mempunyai banyak murid yang bisa kita lihat hari ini dan kita petik keilmuannya, seperti Syekh Nuruddin Ali Jumu’ah, Syekh Muhammad Abdulba’its Al-Kattani, Syekh ‘Athiyyah Mushthafa, Syekh Ali Shalih Al-Azhari, dan Syekh Fathi Abdurrahman Hijazi.

Selain murid-murid, beliau juga meninggalkan banyak karya tulis, yang bukunya bisa didapat di maktabah Dar Jawami’ Al-Kalim di samping masjidnya. Sebagian daripada karangannya seperti Diwan Al-Ja’fari (12 juz), Durus Al-Jumu’ah (10 juz), As-Sirah An-Nabawiyyah Al-Muhammadiyyah, Asrar Ash-Shiyam, Al-Burdah Al-Hasaniyyah wa Al-Husainiyyah, Raudhah Al-Qulub wa Al-Arwah, Minbar Al-Azhar, Kanz As-Sa’adah, Al-Arba’in Al-Ja’fariyyah, Risalah fi Al-Hajj wa Al-‘Umrah, dan Mufidah Al-‘Awam.

Wafat

Syekh Shalih Al-Ja’fari mengembuskan nafas terakhirnya pada Senin sore, 18 Jumadilawal 1399 H (16 April 1979 M). Jasad beliau disalatkan di Masjid Al-Azhar dan kemudian dimakamkan di samping masjidnya, berseberangan dengan terminal bus Ad-Darrasah.

Beliau memiliki banyak keramat, sebagaimana yang banyak diceritakan oleh para guru yang masih hidup pada saat ini dan ditulis dalam buku-buku biografi.

Karena pembahasan keramat beliau akan memperpanjang kisah hidupnya di oretan kecil ini, maka cukuplah menyebutkan satu keramat beliau yang dikatakan para guru besar Al-Azhar sekarang, “Menyebarnya ilmu dan tarekat yang beliau ajarkan hingga kini adalah salah satu daripada keramat yang dapat kita rasakan hingga kini.”


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Amirul Mukminin

Latest