Syekh Badr Al-Mutawalli Abdulbasith adalah salah satu ulama Azhari abad ke-20 yang kiprahnya melampaui Mesir. Dari ruang kuliah Al-Azhar hingga dunia internasional, ia dikenal sebagai sosok yang mengawal Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah—ensiklopedia fikih terbesar di dunia modern. Perannya bukan sekadar pengajar dan penulis, tetapi juga penanggung jawab ilmiah yang menjaga otoritas ensiklopedia ini tetap berakar pada tradisi fikih, sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.
Untuk memahami perjalanan panjangnya, mari kita menelusuri jejak hidup beliau sejak awal.
Nama dan Kelahiran
Beliau bernama lengkap Syekh Badr Al-Mutawalli Abdulbasith Al-Hanafi Al-Azhari. Beliau lahir pada 17 Agustus 1907 M di Kota Samannud, Provinsi Al-Gharbiyyah, Mesir. Kata Al-Hanafi merujuk pada mazhab fikih yang beliau anut, yaitu Mazhab Hanafi. Sedangkan kata Al-Azhari merujuk pada tempat beliau belajar, mangajar dan mengabdikan hidupnya.
Masa Belajar dan Guru
Syekh Badr Al-Mutawalli Abdulbasith mengawali pendidikannya dengan memasuki kuttab di kampung kelahirannya. Di kuttab, beliau menghafalkan Al-Quran, mempelajari hukum tajwidnya dan mempelajari dasar-dasar baca tulis dan berhitung. Pada 1923 M, beliau merantau ke Thantha, Mesir untuk memasuki jenjang Al-Awwali di Ma’had Al-Azhar di kota tersebut. Setelah empat tahun menempuh jenjang Al-Awwali, akhirnya beliau berhasil lulus dari jenjang ini dengan meraih Asy-Syahadah Al-Awwaliyyah pada 1926 M.
※ Pengajian Pertama di Masjid Al-Azhar
Kemudian, Syekh Badr Al-Mutawalli Abdulbasith melanjutkan pendidikannya dengan memasuki jenjang Ats-Tsanawi. Di jenjang ini, beliau mengikuti program akselerasi sehingga berhasil menyelesaikan jenjang ini hanya dalam waktu dua tahun. Pada 1928 M, beliau berhasil meraih Asy-Syahadah Ats-Tsanawiyyah dengan menduduki peringkat kedua tingkat nasional.
Pada tahun yang sama Syekhul-Azhar Abdulhalim Mahmud juga meraih Asy-Syahadah Ats-Tsanawiyyah dengan akselerasi seperti Syekh Badr Al-Mutawalli. Sebab, Syekh Abdulhalim Mahmud memasuki jenjang Al-Awwali pada 1923 M dan lulus jenjang Ats-Tsanawi pada 1928 M. Sama persis dengan Syekh Badr Al-Mutawalli. Pada tahun sebelumnya, Syekh Muhammad Muhammad Al-Madani juga berhasil lulus Ats-Tsanawi dan enam bulan kemudian beliau lulus Al-‘Ali dalam tahun yang sama. Ini merupakan kejadian langka di kalangan civitas akademika Al-Azhar.
Syekh Badr Al-Mutawalli kemudian merantau ke Kairo guna memasuki jenjang Al-‘Ali. Beliau berhasil meraih Asy-Syahadah Al-‘Alimiyyah pada 1932 M. Setelah itu, beliau memasuki jenjang At-Takhashshush bidang fikih Hanafi dan usul fikih. Pada 1935 M, beliau berhasil meraih Syahadah At-Takhashshush fi Al-Fiqh wa Ushulihi.
Di antara ulama yang satu angkatan dengan Syekh Badr Al-Mutawalli di jenjang Al-‘Ali maupun jenjang At-Takhashshush adalah Syekh Jad Ar-Rabb Ramadhan. Di kemudian hari, keduanya sama-sama memegang jabatan dekan Fakultas Syariah wal Qanun. Pada angkatan sebelumnya terdapat Syekh Mushthafa Abdulkhaliq, kakak dari Syekh Abdulghani Abdulkhaliq. Nama yang terakhir disebut juga menduduki jabatan dekan fakultas yang sama.
Dalam masa tiga belas tahun belajar di Al-Azhar, Syekh Badr Al-Mutawalli belajar kepada banyak ulama. Di antara guru beliau yang sangat terkenal adalah Syekhul-Azhar Mahmud Syaltut dan Syekhul-Azhar Muhammad Ma'mun Asy-Syinnawi. Nama terakhir merupakan pemegang jabatan Syekh Kulliyyah Syari’ah pertama di Al-Azhar ketika universitas ini pertama kali diresmikan pada 1931. Kini jabatan ini dikenal dengan sebutan ‘Amid atau Dekan Fakultas.
Kiprah dan Jabatan
Pasca lulus dari jenjang At-Takhashshush, Syekh Badr Al-Mutawalli Abdulbasith diangkat menjadi pengajar di sejumlah Ma’had Al-Azhar di Mesir. Sejak 1936 M hingga 1948 M, beliau mengajar antara Ma’had Al-Azhar Al-Iskandariyyah, Thantha, dan Az-Zaqaziq. Kemudian pada 1948 M, beliau diangkat menjadi dosen di Fakultas Syariah.
Pada 1959 M, Syekh Badr Al-Mutawalli ditugaskan untuk mengajar di Fakultas Syariah wal Huquq Universitas Baghdad, Irak. Beliau menjadi dosen di Baghdad selama tujuh tahun sambil pulang pergi Kairo-Baghdad sampai 1966 M. Di sela-sela tahun-tahun ini pula beliau menjadi dosen di Universitas Ummu Darman, Sudan.
Pada 1966 M, Syekh Badr Al-Mutawalli Abdulbasith diangkat menjadi wakil dekan Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar. Setahun kemudian pada 1967 M, beliau diangkat menjadi dekan fakultas tersebut sampai 1969 M. Jabatan ini kemudian digantikan oleh Syekh Muhammad Abu An-Nur Zuhair. Ketika menjabat sebagai dekan, beliau juga menjadi anggota Majelis Tertinggi Penyiaran dan Televisi Republik Arab Mesir.
Pada 1970 M, Syekh Badr Al-Mutawalli Abdulbasith diangkat menjadi kepala jurusan Syariah di Fakultas Syariah wal Huquq Universitas Kuwait. Pada saat menjadi dosen di Kuwait, beliau diangkat menjadi anggota Majma’ Al-Buhuts Islamiyyah (Akademi Riset Islam) Al-Azhar pada 1971 M. Pada tahun 1974 M, beliau diangkat menjadi penanggung-jawab utama (amin) Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah yang kedua, menggantikan Syekh Mushthafa Az-Zarqa sebagai penanggung-jawab utama pertamanya.
Pada 1975 M, Syekh Badr Al-Mutawalli Abdulbasith ikut membidani lahirnya Bank Dubai sebagai penasehat syariah. Beliau juga berperan dalam membidani lahirnya Bank Kuwait sebagai penasehat syariah. Pada 1986 M, beliau diangkat menjadi anggota badan Bank Kuwait (Kuwait Finance House). Di sini beliau diberi tugas sebagai kepala pengawas syariah. Jabatan ini beliau emban sampai 1996 M. Pada tahun-tahun ini, beliau ikut berperan dalam menentukan batas wilayah Kuwait dan Saudi Arabia.
Selain kesibukannya di atas, Syekh Badr Al-Mutawalli juga aktif mengikuti berbagai muktamar internasional. Pada 1968 M, beliau menjadi delegasi Al-Azhar dalam muktamar yang digelar di Maroko. Beliau juga menjadi delegasi Kuwait Finance House dalam muktamar yang berfokus pada tema mata uang Islam yang digelar di Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Libya, dan Pakistan.
Murid dan Karya
Sebagai seorang yang menggeluti dunia pendidikan berpuluh-puluh tahun, tentu Syekh Badr Al-Mutawalli Abdulbasith memiliki banyak sekali murid. Di antara murid beliau adalah Syekh Subhi Muhammad Jamil Al-Khayyath, Syekh Yusuf Muhammad Mahmud, dan Syekh Abdulmuhsin Al-Jarullah.
Selain istikamah mengajar, Syekh Badr Al-Mutawalli Abdulbasith juga menulis sejumlah kitab. Di antaranya adalah Risalah fi Al-Waqf, sebuah karya ilmiah yang beliau ajukan untuk meraih gelar At-Takhashshush, Al-Fiqh Al-Muqaran Baina Al-Madzahib Al-Islamiyyah, Al-Fiqh Al-Muqaran wa Al-Qiyas, Taisir Ushul Al-Fiqh, An-Nash wa Kaifa Yufham, Ushul Al-Fiqh Al-Jami’ li Madzahib Ahli As-Sunnah wa Asy-Syi’ah, Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami, Al-Ijtihad fi Al-Islam wa Tathawwuruhu, dan Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fi Al-Masa'il Al-Iqtishadiyyah.
Selain menulis sejumlah karya, Syekh Badr Al-Mutawalli juga menjadi pembimbing sejumlah tesis dan disertasi yang diajukan untuk meraih gelar Magister maupun Doktor.
Akhir Hayat
Peran dan pengaruh Syekh Badr Al-Mutawalli Abdulbasith begitu terasa di lingkungan ulama maupun khalayak luas, sehingga sosoknya sering mendapatkan penghargaan. Di antara penghargaan yang diraih adalah lencana Order of Arts and Letter peringkat pertama saat ulang tahun milenium Al-Azhar dan lencana penghargaan dari Menteri Wakaf dan Urusan Agama Islam Kuwait.
Setelah mendedikasikan hidupnya untuk agama dan umat, Syekh Badr Al-Mutawalli memenuhi panggilan Pemiliknya pada Ahad 24 Dzulhijjah 1423 H (23 Februari 2003 M). Jasad beliau disemayamkan dan dimakamkan di Kuwait. Semoga rahmat dan keberkahan senantiasa mengalir kepada beliau dan semoga cipratan keberkahan dan manfaat ilmu beliau tercurah kepada kita. Amin..
