Khutbah Jumat Peralihan Kiblat; Peristiwa Dahsyat Penentu Arah Salat
Khutbah Pertama
الحمد لله رب العالمين حمدا يليق بجماله وجلاله وكماله سبحانه وتعالى له الحمد في الأولى والأخرة وهو على كل شيئ قدير نحمده سبحانه وتعالى ونشكره ونتوب إليه من كل ذنب ونستغفره فهو وحده غفار الذنوب وستار العيوب وعلام الغيوب ونشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له بيده مقاليد السموات والأرض وهو على كل شيء قدير
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله وأصحابه الطيبين الطاهرين أما بعد
فيا عباد الله أوصيكم ونفسي المذنبة بتقوى الله فقد فاز المتقون
إتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
فقد قال الله تعالى في القرآن الكريم : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم،
قد نرى تقلب وجهك في السماء فلنوليك قبلة ترضىها فول وجهك شطر المسجد الحرام وحيثما كنتم فولوا وجوهكم شطره، وإن الذين أوتوا الكتاب ليعلمون أنه الحق من ربهم، وما الله بغافل عما يعملون
Hadirin sidang Jumat Hafizhakumullah
Alhamdulillah hari ini kita sampai pada bulan Sya’ban, bulannya Rasulullah SAW. Di bulan ini terjadi peristiwa besar yang disebut Tahwilul Kiblat, yaitu perpindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis, Masjid Al-Aqsha, Palestina, ke Baitullah Ka’bah, Makkah.
Sebelum menceritakan kejadian ini saya ingin mengingatkan bahwa kita semua tidak akan bahagia kecuali dengan mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Juga tidak akan selamat dari semua keburukan di dunia maupun akhirat kecuali dengan beriman kepada Rasul SAW, mengikutinya, dan menjadikannya sebagai panutan dalam segala hal.
Hadirin jamaah Jumat Hafizhakumullah
Sebagaimana kita ketahui, bahwa Rasulallah SAW mendapatkan perintah untuk melaksanakan salat pada peristiwa Isra Mi’raj. Sekembali dari peristiwa itu, beliau sampaikan dan laksanakan kewajiban bersama umatnya dengan menghadap ke Baitul Maqdis, Palestina, sebagai kiblat.
Saat periode Makkah atau masa sebelum hijrah, Rasulullah SAW melaksanakan salat pada suatu tempat di depan Ka'bah (antara rukun Al-Yamani dan Rukun Al-Hajar) yang berpuncak lurus pada Baitul Maqdis. Sehingga Nabi berkiblat pada dua tempat secara bersamaan yaitu Ka’bah dan Baitul Maqdis. Namun setelah Nabi hijrah atau saat periode Madinah, Rasullulah SAW hanya menghadap ke Baitul Maqdis seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT, karena letak kota Madinah yang berlawanan dengan Makkah sehingga tidak memungkinkan lagi untuk menghadap pada Ka’bah dan Baitul Maqdis secara bersamaan. Akhirnya, Nabi SAW dan umat muslim pada saat itu salat ke Arah Baitul Maqdis dan membelakangi Ka’bah selama kurang lebih 16 atau 17 bulan menurut sebagian riwayat.
Selama itu, tak jarang Nabi Muhammad SAW merindukan dan berharap agar Ka’bah kembali dijadikan sebagai kiblat umat Muslim seperti pada masa Nabi Ibrahim AS. Akan tetapi ia lebih mendahulukan perintah Allah daripada keinginannya sendiri. Ia tidak mengutarakan atau meminta keinginan itu kepada Allah, karena ia takut perkataan dan permintaannya itu tidak sesuai dengan iradat Allah. Maka, ia hanya mencukupkan diri menengadahkan wajahnya ke langit menunggu wahyu. Hingga akhirnya pada hari Jumat, 15 Sya’ban tahun kedua Hijriah bertepatan pada tanggal 10 Februari 624 Masehi turun perintah Allah untuk melaksanakan salat menghadap Baitul Haram, Ka’bah. Wahyu itu berbunyi :
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَاۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ | سورة البقرة: ١٤٤
Artinya: “Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidilharam) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” [Surah Al-Baqarah: 144]
Sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidil Haram) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.
※ Rajab dan Eskalasi Salat
Hadirin Rahimakumullah
Apa hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa Tahwilul Kiblat ini?
Pertama, membuktikan bahwa derajat Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT sangatlah tinggi. Keinginan Nabi yang hanya terbesit dalam hati dan hanya menjadi harapannya. Tapi Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengabulkan keinginan hamba-Nya. Hal ini dibuktikan dengan firman Allah:
فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَاۖ
Artinya: “Pasti akan kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai”.
Dalam ayat yang lain:
وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ | سورة الضحى: ٥
Artinya: “Sungguh, kelak (di akhirat nanti) Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau rida.”
Lantas, sudah seharusnya kita sebagai hamba selalu berprasangka baik terhadap Allah, segala cobaan bahkan nikmat sekalipun terdapat nilai dan hikmah di dalamnya. Teruslah meminta, berikhtiar, kemudian berserah diri, niscaya Allah akan mengabulkan apa yang kita inginkan.
Karena sejatinya suatu keinginan itu terbesit dalam hati adalah oleh Allah, maka kita serahkan kembali pemenuhannya pada Allah.
كْيْفَ أُتَرْجِمُ لَكَ بِمَقَالِيْ وَهُوَ مِنْكَ بَرَزَ إلَيْكَ
Artinya: “Bagaimana aku akan mampu menjelaskan keinginanku kepada-Mu dengan kata-kataku, sedangkan semua itu berasal dari-Mu”.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniKedua, terdapat hubungan yang kuat antara Masjidil Haram dan Masjid Al-Aqsha. Baitul Maqdis telah menjadi kiblat pertama umat muslim dan tempat diisra’kannya Baginda Nabi Muhammad SAW, tempat Nabi mengimami para rasul dan nabi-nabi sebelumnya di saat perjalanan Isra Mi’raj yang menunjukan bahwa Al-Aqsha adalah bagian dari Islam dan tempat yang disucikan oleh umat muslim, yang mana di mata umat muslim derajat keduanya sama dalam kemuliaannya. Tidak membedakan satu sama lainnya.
Ketiga, menjadi bukti kebenaran Muhammad sebagai Nabi dan utusan Allah. Peristiwa perpindahan arah kiblat ini menjadi suatu ujian keimanan bagi masyarakat pada masanya, hingga menimbulkan berbagai pandangan mengenai keshahihan peristiwa tersebut dan hubungannya dengan kenabian Muhammad SAW. Bagi sebagian orang mukmin ini adalah sesuatu yang benar adanya sehingga bertambahlah keimanannya, namun ada pula yang justru berkurang keimanannya dan terjerumus dalam keraguan. Ia adalah orang-orang munafik.
Dalam peristiwa ini umat muslim yang tidak kokoh imannya akan terfitnah. Mereka berkata-kata semaunya sendiri mengikuti hawa nafsunya. Allah menggambarkan orang-orang yang seperti ini dengan istilah sufaha yakni “orang-orang pandir”
۞ سَيَقُوْلُ السُّفَهَاۤءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلّٰىهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِيْ كَانُوْا عَلَيْهَاۗ قُلْ لِّلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُۗ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ | سورة البقرة: ١٤٢
Artinya: “Orang-orang yang kurang akal di antara manusia akan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka (kaum muslim) dari kiblat yang dahulu mereka (berkiblat) kepadanya?” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Milik Allahlah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk).” [Surah Al-Baqarah: 142]
Hikmah keempat, kemoderatan Islam, keseimbangannya umat muslim. Umat muslim itu tidak berlebihan dalam agama dan tidak juga orang yang mengabaikan agama. Allah menyebutnya sebagai ummatan wasatha’.
Kemudian, hikmah kelima, umat muslim dididik oleh Allah SWT dalam peristiwa ini, yaitu bahwa tujuannya, intinya adalah mengagungkan Allah dan mencari keridaan-Nya. Karena arah yang empat, timur, barat, utara, selatan semuanya milik Allah.
Semoga ini bisa menumbuhkan kembali rasa cinta dan keimanan kita kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW sang pembawa risalah ini.
توبوا إلى الله جميعا أيها المؤمنون
※ Nabi Isa dan Para Dokter Hari Ini
Khutbah Kedua
الحمد لله حمد الشاكرين له الواقفين على بابه حتى يرضى ويفتح علينا فتوح العارفين به، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده، وهزم الأحزاب وحده ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ونبيه وصفيه وحبيبه بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وجاهد في سبيل الله حتى أتاه اليقين، فصلى الله عليك وسلم يا سيدي يا رسول الله
أما بعد، فيا عباد الله … إتقوالله فيما أمر وانتهوا عما نهى واعلموا أن الله أمركم بأمر بدأ فيه بنفسه وثنى بملائكته بقدسه وقال تعالى أن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين أمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد، كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم، وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد كما باركت على سيدنا إيراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات
اللهم ادفع عنا البلاء والوباء والزلازل والمحن ما ظهر منها وما بطن عن بلدنا إندونيسيا خاصة وسائر بلدان المسلمين عامة يا رب العالمين
نسألك اللهم بحرمة بابك كله أن تنزل النعيم والخلد على أرواح الشهداء وضحايا الإرهابي في مشارق الأرض ومغاربها وأن تنزل العافية والشفاء على الجرحى والمصابين وأن تنزل الأمان والعافية على بلادنا وأوطاننا كلها وعلى بلاد العالمين ونسألك اللهم لأهل أرض إندونيسيا على وجه الخصوص أن تحفظهم، اللهم احفظ اندونيسيا وشعبها العظيم واحفظ عقولهم وزكي نفوسهم ووسع أرزاقهم وجمل أخلاقهم وابسط بينهم بساط الرخاء والعافية و الوفرة والسعة
ربنا أتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار.
عباد الله، ان الله يأمركم بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون، واذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكر الله أكبر