Belum lama ini, seorang pemuda Mesir menelepon saya. Ia meminta saran nama dan alamat dokter spesialis kulit yang terbaik di Kairo. Saya pun mengarahkannya kepada seorang dokter spesialis yang berpengalaman dan ahli dalam spesialisasinya ini.
Pemuda tersebut pun berangkat ke klinik dokter yang dimaksud. Ia mendapati biaya registrasi di sana mencapai 900 Pound Mesir. Ia lantas berkata dalam hati, tidak menjadi soal walau biayanya terbilang mahal.
Ia melanjutkan proses pembayaran dan mengisi data pasien. Begitu resepsionis klinik tahu bahwa calon pasien yang datang bersama pemuda ini berkebangsaan Yaman, sang pegawai itu pun berkata kepada pemuda itu, "Biaya registrasinya 4000 Pound, Pak."

Pemuda dan tamunya yang berasal dari Yaman itu tercengang kaget dan kebingungan. Proses pemeriksaan pun hanya satu sesi. Tidak memerlukan dokter lain atau tambahan apapun.
Pemuda Mesir itu pun berkata ke pegawai resepsionis, "Apakah kamu tidak tahu bahwa seluruh Yaman luluh lantak dan menderita? Mereka orang-orang fakir dari sebelum dan setelah peristiwa belakangan ini. Dan hari-hari ini mereka pun dalam kondisi sangat butuh. Janganlah memberatkan pembayarannya. Mereka butuh keringanan, bukannya tambahan licik yang kira-kira sampai lima kali lipat ini."
Resepsionis itu mencoba mencari pembenaran atas besarnya biaya yang culas, tidak logis, dan sama sekali tidak layak itu. Apalagi dokter spesialis ini pun bekerja dengan mudah. Sakitnya bisa didiagnosa dengan penglihatan saja. Tidak seperti bagian dalam yang rumit hingga kondisinya bikin pusing dokter-dokter terbaik.

Pemuda dan tamunya yang dari Yaman berkata kepada resepsionis bahwa biaya 900 Pounds itu berlebihan. "Apalagi kita mengetahui bahwa dokternya pun tidak memeriksa pasiennya. Pemeriksaan dilakukan oleh putrinya yang merupakan dokter klinik baru. Umumnya dokter setingkat itu mematok tarif 300 atau 400 Pounds."
"Melebihkan tarif sampai 4000 Pound itu banyak sekali."
Kedua orang tadi pun akhirnya pergi dengan hati kecewa.
Dan yang aneh, peristiwa seperti ini tidak ditemukan di negara manapun di dunia. Harga-harga pengobatan di Britania Raya tetap dan sama bagi semua kalangan masayarakat, baik asli Inggris ataupun orang asing. Tidak membedakan kebangsaan manapun.
Saya sendiri kaget ketika lelaki ini menceritakan kisah ini kepada saya. Saya heran sebab menemukan sesuatu yang ganjil pada sikap dokter spesialis ini. Apalagi pengobatan spesialisnya yang tidak memberatkan dia kecuali hanya penglihatan mata telanjang untuk kemudian didiagnosis dan menuliskan resep obat-obatnya. Beda halnya para dokter spesialis penyakit dalam yang memerlukan proses USG. Jika demikian, pemeriksaan semacam itu perlu dihitung dan harganya ditambahkan pada biaya registrasi.

Saya mengenal seorang teman. Ia termasuk dokter senior spesialis hati (organ dalam) di Aleksandria. Biaya registrasi kliniknya hingga hari ini hanya 250 Pound, mencakup pelayanan USG pada seluruh organ dalam, bukan hanya hati saja. Biaya USG di tempat-tempat rontgen umum sudah 300 Pound melebihi biaya pemeriksaan yang dikenakan di tempat teman saya itu.
Sahabat saya itu ia bisa dibilang memeriksa pasien dengan cuma-cuma. Jika aku membawa pasien anak yatim ke dia, atau orang miskin, pasti dia turunkan biaya pengobatannya. Rendah hati sekali.
Saya juga mengenal dokter spesialis kulit yang dikenal sebagai dokter paling antimaterialistis bagi para pasien di Aleksandria. Ia bahkan aktif mengajar untuk generasi-generasi spesialis di bawahnya. Dia adalah Prof. Dr. Sami Abu Zaid yang biaya periksanya tidak melewati 150 Pound sampai sekarang. Dari segi gaji, penghasilannya menyerupai dokter spesialis di awal cerita yang mematok 900 Pound. Tetapi sikap kedua orang ini terhadap orang yang fakir dan membutuhkan sangatlah berbeda. Sikap keduanya tentang memberi dan berkasih sayang juga berbeda.
Saya juga tahu bahwa sebagian rumah sakit di sini, di Aleksandria, khususnya rumah sakit jiwa, melipatgandakan biaya pengobatannya empat kali lipat bagi pasien asal Libya. Hal ini tentulah suatu bentuk pemerasan yang keji.
Saya sangat kecewa dengan kejadian seperti ini. Kejadian ini bukan datang dari kelompok pedagang, namun justru dari para dokter yang membawa tugas risalah kemanusiaan yang besar.
Biaya pengobatan bagi orang Mesir, Yaman, Libya, atau negara apapun itu seharusnya sama, tidak boleh adapembedaan.
Mengambil jalan tengah untuk bersikap atas suatu apapun itu bagus dan indah. Seorang dokter tentu boleh memasang tarif, tanpa harus meninggikan harga sedemikian keji. Dan tidak boleh membeda-bedakan. Janganlah mengabaikan misi mulia dokter, yakni untuk kemanusiaan yang luhur.

Kita dan para dokter, semuanya memiliki panutan yang bagus pada sosok Nabi Isa AS, seorang dokter yang agung di atas bumi ini. Ia telah menghidupkan orang-orang mati dan menyembuhkan Al-Akmah yang buta sejak lahir, lepra, kista, lumpuh sebagian, atau bahkan stroke total. Semuanya penyakit-penyakit berbahaya yang bahkan para dokter hingga hari ini tidak mampu mengobatinya. Mengobatilah kalian seperti halnya Isa AS, gratis tanpa imbalan.
Para dokter tidak mungkin mengikuti kezuhudan dan kebaikan Isa. Saya tentu tidak bermaksud agar para dokter mampu sampai pada tingkatan ini. Tetapi, sudah seharusnya para dokter mengambil sepercik cahaya milik Nabi Isa. Jadilah yang selalu berusaha di tengah pada setiap hal. Allah akan memberkahi mereka yang bersikap moderat. Dan Allah akan memberi gantinya pada anak-anak keturunan mereka, memuliakan keluarga mereka serta memberikan nikmat sehat.
Saya nyatakan di usia saya ini bahwa seharusnya setiap dokter mendahulukan niat karena Allah di setiap pekerjaannya dan di setiap harinya. Tidak perlu meminta biaya pengobatan bagi pasien yatim dan fakir, atau sekadar meringankan biaya yang seharusnya, khusus bagi para janda dan kurang mampu. Sebaiknya setiap dokter juga mengadakan bedah gratis berkategori kecil di setiap minggu dan yang berkategori besar di setiap bulan. Gratis bagi pasien yang fakir nan membutuhkan.

Boleh jadi bedah gratis ini menjadi sebab keberhasilan bedah-bedah yang lain dan kelancarannya. Barangkali dengan amal demikian Allah menganugerahi rezeki ketelitian dalam mendiagnosis. Karena sebenarnya proses diagnosis adalah cahaya yang Allah pancarkan ke dalam akal dokter pada suatu momen di tengah proses memeriksa.
وَمَنْ لَّمْ يَجْعَلِ اللّٰهُ لَهٗ نُوْرًا فَمَا لَهٗ مِنْ نُّوْرٍ — سورة النور: ٤٠
Artinya: "Siapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun." (Surah An-Nur: 40)
Dalam waktu sekejap itu Allah memberimu ilham diagnosis yang tepat. Terkadang engkau masih saja bingung sejakawal masuknya pasien dan berjalannya proses pemeriksaan hingga sampai pada momen sekejap itu. Cahaya ini membutuhkan ilmu yang teliti dan pemeriksaan yang amanah, serta hidayah dari langit. Betapa banyak dokter yang namanya sudah masyhur namun salah dalam mendiagnosis kondisi yang sebenarnya jelas dan mudah. Hal remeh itu membawa musibah, bukan saja bagi pasien semata, namun juga bagi dokter.
Tabik kepada orang-orang baik pada setiap profesi.
Penerjemah: Irfan Rifqi Fauzi
Penyunting: Mu'hid Rahman
