Terhitung sejak tanggal 8 hingga 11 Juli 2024, Indonesia kembali menyambut kedatangan pemimpin tertinggi institusi Al-Azhar Kairo, Mesir, yaitu Imam Akbar, Syekh Prof. Dr. Ahmad Ath-Thayyib. Kunjungan ini bukanlah yang pertama bagi beliau. Sebelumnya, beliau telah menginjakkan kaki di Bumi Nusantara sebanyak tiga kali. Dengan demikian, ini adalah kunjungan keempat beliau.
Jika kita flashback ke belakang, kunjungan pertama Syekh Ahmad Ath-Thayyib ke Indonesia terjadi pada tahun 2004, saat beliau masih menjabat sebagai Rektor Universitas Al-Azhar. Meski sayangnya, tidak ditemukan catatan yang mengabadikan perjalanan ini. Kunjungan kedua yaitu pada tahun 2016, tatkala beliau sudah menjadi Imam Akbar Al-Azhar. Catatan kunjungan kedua ini dibukukan dan diterbitkan oleh Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah (Al-Azhar) dalam buku berjudul Riẖlah Al-Imām Al-Akbar Syaikh Al-Azhar Al-Ustādz Ad-Duktūr Aẖmad Ath-Thayyib ilā Indūnīsiyā. Lalu, kunjungan ketiga terjadi pada tahun 2018, yang catatan kunjungannya juga telah dibukukan dan diterbitkan oleh Majlis Hukama Al-Muslimin berjudul Riẖlah Al-Imām Ath-Thayyib ilā Janūb Syarq Āsiyā.
Dalam sejarah Indonesia, kunjungan Imam Akbar ke negara ini bukanlah hal yang baru. Jauh sebelum Syekh Ahmad Ath-Thayyib menjabat, para Imam Akbar terdahulu juga telah mengunjungi Indonesia. Sejak Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, tercatat ada delapan Imam Akbar sebagai pucuk pimpinan Al-Azhar, termasuk Syekh Ahmad Ath-Thayyib, yang pernah berkunjung ke Indonesia. Artinya, hubungan diplomatik antara Indonesia dan Al-Azhar sudah terjalin lama semenjak kemerdekaan tersebut. Bahkan, jika dihitung lebih jeli dan dibandingkan, Indonesia adalah negara yang paling banyak dikunjungi oleh para Imam Akbar hingga saat ini, tentu tanpa menghitung kunjungan para Imam Akbar ke Baitullah.
※ Ihwal Menyambut Kepulangan Jamaah Haji
Kunjungan perdana Imam Akbar ke Indonesia pasca merdeka adalah kunjungan yang dilakukan oleh Imam Akbar ke-36, Syekh Abdurrahman Taj (1896-1975). Kunjungan itu terlaksana pada tahun 1955 atas undangan resmi dari Presiden Sukarno dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Selain memperingati hari besar itu, beliau juga berkunjung ke Pondok Pesantren Diniyyah Puteri Padang Panjang, Sumatra Barat, sebuah lembaga pendidikan keislaman khusus kaum wanita yang dikelola oleh Syekhah Rahmah El Yunusiyyah. Peristiwa ini menjadi cikal bakal inisiatif pendirian kampus putri Kulliyyah Al-Banat di Universitas Al-Azhar yang terwujud di masa Imam Akbar Mahmud Syaltut.
Kunjungan kedua ialah kunjungan yang dilakukan oleh Imam Akbar ke-37, Syekh Mahmud Syaltut (1893-1963). Dalam kunjungan yang terjadi pada tahun 1961 ini, beliau bertemu dengan Presiden Sukarno, KH Muhammad Wahib Wahab Hasbullah selaku Menteri Agama RI saat itu, KH Idham Chalid sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, dan Buya Hamka sebagai cendekiawan Islam. Kunjungan itu juga dalam rangka meresmikan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta yang dipimpin oleh Buya Hamka. Nama Al-Azhar itu dipilih langsung oleh Syekh Mahmud Syaltut agar kelak dapat mewarisi semangat Masjid Al-Azhar Kairo sebagai pusat pendidikan Islam.
Kunjungan ketiga ialah kunjungan Imam Akbar ke-39, Syekh Muhammad Al-Fahham (1894-1980). Berbeda dengan para Imam Akbar sebelumnya, Syekh Muhammad Al-Fahham tercatat mengunjungi Indonesia sebanyak tiga kali. Dua kali sebelum mencapai pucuk pimpinan Al-Azhar dan satu kali ketika menjabat Imam Akbar.
Kunjungan pertama terjadi pada tahun 1964 sebagai duta Al-Majlis Al-A’la li Al-Azhar untuk menghadiri acara muktamar Islam yang diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat. Sementara setahun setelahnya, yakni pada 1965, beliau kembali mengunjungi Indonesia sebagai utusan Al-Azhar dalam muktamar yang diikuti oleh para delegasi negara-negara Islam dan Afrika.
Adapun tatkala menjabat sebagai Imam Akbar, Syekh Muhammad Al-Fahham kembali mengunjungi Indonesia pada tahun 1971 sebagai jawaban atas undangan resmi dari Menteri Agama RI Abdul Mukti Ali untuk meningkatkan hubungan antara Indonesia dengan Al-Azhar. Dalam kunjungan tersebut, beliau menemui Presiden RI Soeharto di Istana Merdeka dan menyampaikan undangan untuk menghadiri peringatan seribu tahun berdirinya Al-Azhar yang akan diadakan di Kairo pada pertengahan tahun 1972.
Kunjungan keempat ialah kunjungan Imam Akbar ke-40, Syekh Abdulhalim Mahmud (1910-1978). Beliau pernah berkunjung ke Indonesia sebanyak dua kali. Pada kunjungan pertama, beliau datang sebagai dosen tamu di Jakarta, meski tidak disebutkan tahun tepatnya dan di kampus mana. Sedangkan kunjungan kedua terjadi pada tahun 1976. Beliau berkunjung ke Indonesia atas undangan kenegaraan dari Menteri Agama RI Abdul Mukti Ali. Dalam kunjungan ini, beliau menghadiri perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke-31, mengunjungi sejumlah perguruan tinggi, pesantren, dan lembaga keagamaan di beberapa wilayah seperti DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Dalam kunjungan kedua itu pula, Syekhul-Azhar Abdulhalim Mahmud menambah kuota beasiswa Al-Azhar untuk pelajar Indonesia, serta kuota pengiriman duta Al-Azhar untuk mengajar di sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi Islam di berbagai wilayah Indonesia.
Kunjungan kelima dilakukan oleh Imam Akbar ke-41, Syekh Muhammad Abdurrahman Bishar (1910-1982). Kunjungan ini terjadi pada tahun 1981 dalam rangka membahas peningkatan kerjasama bilateral Mesir-Indonesia bersama Wakil Presiden Adam Malik, khususnya di bidang keagamaan. Selain itu, beliau juga bertemu para menteri petinggi negeri lainnya, seperti Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara dan Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo.
Dalam rangkaian kunjungan ini, beliau juga mengunjungi dan menunaikan salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta. Kemudian, beliau bertemu dengan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan mengadakan pertemuan khusus dengan para alumnus Al-Azhar.
Kunjungan keenam ialah kunjungan yang dilakukan oleh Imam Akbar ke-42, Syekh Jadal-Haq Ali Jadal-Haq (1917-1996). Kunjungan ini terjadi pada tahun 1995 M, setahun sebelum kewafatan beliau, atas undangan resmi kenegaraan dari Wakil Presiden Try Sutrisno untuk menghadiri Festival Istiqlal II dalam rangka peringatan Tahun Emas Indonesia, yakni ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam kunjungan tersebut, beliau menandatangani kerja sama keagamaan dengan Menteri Agama RI Tarmizi Taher, menyampaikan undangan dari Presiden Mesir Muhammad Husni Mubarak kepada Presiden RI Soeharto, menghadiri forum alumni Al-Azhar dan Timur Tengah di Masjid Istiqlal, Jakarta, serta mengunjungi beberapa perguruan tinggi dan madrasah di Indonesia.
Adapun yang menarik dalam kunjungan kala itu, Sang Imam Akbar juga berkunjung ke Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta yang dahulu dikunjungi dan dinamai oleh pendahulunya, Syekh Mahmud Syaltut, serta berkunjung ke Pondok Pesantren Diniyyah Puteri Padang Panjang, Sumatra Barat yang dahulu dikunjungi pendahulunya juga, Syekh Abdurrahman Taj.
Kunjungan ketujuh dan terakhir adalah kunjungan Imam Akbar ke-43, Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi (1928-2010). Beliau tercatat pernah mengunjungi Indonesia sebanyak dua kali. Kunjungan pertama terjadi pada tahun 1995 saat masih menjabat sebagai Mufti Agung Mesir atas undangan resmi dari Wakil Presiden RI Try Sutrisno untuk menghadiri Festival Istiqlal II bersama Syekhul-Azhar Jadal-Haq. Adapun kunjungan kedua terjadi pada tahun 2006 tatkala beliau telah menjadi pemimpin tertinggi Al-Azhar sebagai Imam Akbar. Kunjungan kali ini atas undangan langsung Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam kunjungan ini, beliau bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sembari menyampaikan salam dari Presiden Mesir Muhammad Husni Mubarak serta mengucapkan belasungkawa atas musibah Gempa Bumi Yogyakarta yang terjadi pada masa itu.
Pada kesempatan itu, beliau juga mengadakan beberapa kunjungan resmi kenegaraan ke Istana Negara Republik Indonesia, bertemu dengan alumni Al-Azhar dan Timur Tengah, serta memberikan kuliah umum di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Melihat memoar singkat di atas, kunjungan para Imam Akbar ke Indonesia mencerminkan hubungan erat dan berkelanjutan antara Indonesia dan Al-Azhar. Dari waktu ke waktu, kedatangan para pemimpin spiritual ini membawa semangat persatuan, pendidikan, dan pengembangan nilai-nilai Islam yang mendalam lagi moderat.
Dengan kunjungan terbaru Syekh Prof. Dr. Ahmad Ath-Thayyib saat ini, Al-Azhar terus mengukuhkan posisinya sebagai mitra penting dalam dunia Islam, sekaligus memperkuat ikatan yang telah terjalin selama puluhan tahun. Semoga hubungan harmonis ini terus berkembang, membawa berkah dan manfaat bagi umat Islam di seluruh dunia.