Skip to content

Mari Merayakan Valentine!

14 Februari dikenal sebagai hari kasih sayang yang diisi beragam perayaan berbau cinta. Tulisan ini mengulas Valentine dari perspektif sajak Rumi.

FOTO Ilustrasi (Laura Ockel/Unsplash)
FOTO Ilustrasi (Laura Ockel/Unsplash)

Sudah jamak diketahui bahwa tanggal 14 Februari merupakan “hari”-nya para pemuja cinta dan kasih sayang atau yang lebih dikenal dengan Hari Valentine. Bahkan setiap memasuki bulan Februari, manusia di berbagai belahan dunia seolah terkena sindrom Valentine. Hampir semuanya sibuk dengan beragam acara yang berbau cokelat atau yang serba mengandung kasih sayang. Terlebih untuk para kawula muda di seantero kota-kota besar. Begitu besarnya animo masyarakat untuk merayakannya, hingga saya pun akhirnya juga tergelitik untuk turut serta membidik seputar perayaan Valentine dari perspektif sajaknya Jalaluddin Ar-Rumi.

Jika dirunut dari sejarah panjangnya yang simpang siur, sejak dahulu hari Valentine memang lekat dengan perayaan cinta dalam berbagai model perayaannya. Karena berdasar tradisi historis itulah orang-orang di belahan dunia manapun hingga sekarang ini menjadikan 14 Februari sebagai hari perayaan kasih sayang dan cinta.

Tradisi Pernikahan Paling Tua di Dunia
Mesir mempunyai banyak tinggalan dari sejarah yang panjang. Salah satunya adalah tradisi perayaan pernikahan.

Nama Valentine sendiri, berdasar The World Encylopedia 1998, berasal dari nama seorang martir yang dihukum mati karena memperjuangkan cinta sekelompok anak muda. Sebuah pembangkangan yang amat gagah berani, karena ia desersi demi sebuah sikap yang diyakininya benar, meski harus melawan rezim tiran. Konon ia membangkang perintah sang kaisar dengan tetap menikahkan para pasangan anak muda yang sejatinya dilarang menikah demi penambahan jumlah armada perang kerajaan. Syahdan salah satu kisah heroik nan melankolik itulah yang termasuk menjadi dasar dan pemantik perayaan Valentine.

Sebuah gambaran heroik cinta nan melankolik yang kalau dalam perspektif Rumi lantas dibahasakan “Karena (demi) cinta, tubuh berdaki dari tanah liat pun, sanggup terbang ke langit menuju arasy”. Begitulah gambaran maha-dahsyat dan universal dari kekuatan serta dan pengorbanan atas nama cinta.

Perasaan cinta hakiki itu pula yang lantas mengilhami St. Valentine untuk membangkang dan tetap menikahkan para pasangan pecinta. Konon, atas jasa mulia itu yang akhirnya membuat Pendeta Gelasius pada 496 Masehi menetapkan hari kematiannya (14 Februari) menjadi hari kasih sayang dan hari berbagi cinta.

Biografi

Sepilihan riwayat hidup para tokoh dapat teman-teman temukan

di sini

Cinta Perspektif Rumi

Mendefinisikan kata cinta hingga sekarang masih merupakan pekerjaan yang belum pernah mencapai kesepakatan. Bahkan untuk menggambarkan hakikatnya, sang sufi Jalaluddin Ar-Rumi sampai berkata “Pena pun akan patah dan tak kuasa menulis”.

Begitu luar biasa, sublim, dan sulitnya cinta didefinisikan, karena ia sendiri terkait suatu perasaan yang tentu saja berbeda dalam “rasa” setiap orang. Ia tidak dapat direduksi ke dalam deskripsi yang meski sangat gamblang dan puitis sekalipun. Namun, terlepas dari belum adanya kesepakatan definisi yang mengikat, saya kira mayoritas orang yang merayakan Valentine sepakat bahwa yang dirayakan 14 Februari ini adalah cinta serta kasih sayang yang hakiki, bukan sesuatu yang picisan. Tidak sebagaimana pereduksian makna dan perayaan cinta oleh kawula muda zaman sekarang yang “sibuk” merayakan hari Valentine di berbagai sudut desahan dan keremangan suasana. Sebab cinta hakiki terlalu naif dan picisan jika dirayakan dengan segala bentuk pemuasan hawa nafsu sebagaimana biasa dilakukan umumnya kawula muda.

Padahal, jika merunut beberapa histori perayaan Valentine, awal mula timbulnya ide perayaan hari Valentine itu suatu hal yang berkaitan erat dengan cinta hakiki. Dalam The Encyclopedia Britania vol. 12, tersurat bahwa perayaan itu sebagai bentuk apresiasi atas pengorbanan St. Valentine yang mati pada 14 Februari sebagai pejuang cinta sejati. Namun, sangat disayangkan, jika perayaan Valentine yang sekarang telah jauh mengalami pergeseran sikap dan spirit.

Seharusnya, jika memang mau merayakan cinta hakiki sebagaimana spirit awal Valentine, harusnya yang lebih dirayakan adalah cinta universal, cinta sesama, atau cinta hakiki atas apapun. Cinta yang oleh Sang Rumi hakiki digambarkan sebagai Cinta yang menurunkan ilham pada bukit Sinai, sehingga bukit Sinai mabuk dan Musa jatuh pingsan.

Jikalau mereka yang merayakannya lebih sebagai hari untuk saling berbagi cinta dan kasih sayang terhadap makhluk sesama (termasuk pasangannnya) tanpa pretensi nafsu yang ilegal, mungkin ini masih bisa ditoleransi. Sebab saling berbagi kasih dan cinta dalam agama manapun bukanlah sesuatu hal yang dilarang. Dalam Islam, bahkan dianjurkan untuk mengungkapkan perasaan cinta yang ada dengan tidak terbatas waktu, tidak tertentu di hari Valentine. Sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits Abu Dawud dan Tirmidzi; jika salah satu dari kamu semua mencintai saudaranya, maka katakanlah kepadanya. Namun, yang perlu diingat, bahwa yang diperbolehkan dan dianjurkan adalah merayakan kasih sayang atau cinta hakiki, bukan semata perayaan birahi tanpa ikatan suci.

Sikap Tegas Syekhul-Azhar Al-Quwaisni Melawan Pelacuran
Al-Azhar pernah dipimpin oleh syekh penyandang tunanetra. Al-Quwaisni namanya. Tulisan singkat ini mengisahkan ketegasannya melawan pelacuran.

Ada sindiran menarik dari sang Rumi terkait cinta yang tidak murni dan terhegemoni nafsu birahi. Jika sebuah cermin tak memantulkan bayangan apa sebab tahukah kau mengapa cermin jiwa tak memantulkan bayangan? Jawabnya, karena karatnya belum jua dibersihkan.

Wabakdu, kalaulah yang kita maksud hari Valentine adalah perayaan kasih sayang dan cinta universal, tanpa ada pretensi birahi atau ideologi tertentu, marilah kita rayakan Valentine setiap waktu dan ke setiap penjuru. Agar semangat cinta dan kasih itu menjalar ke setiap lini kehidupan masyarakat, agama, dan bangsa kita.

💡
Baca juga artikel lain di rubrik OPINI atau tulisan menarik Ahmad Muhakam Zein

Latest