TAWAZUN.ID — Dalam rangka merayakan maulid Nabi Muhammad SAW, Masjid Al-Azhar yang ada di bawah naungan Imam Akbar Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Ath-Thayyib mengadakan acara malam keagamaan pada Ahad (14/9/2025) dengan menghadirkan Prof. Dr. Muhamad Al-Jubbah; asisten profesor linguistik Universitas Al-Azhar, Syekh Ramadhan Saad sebagai pembaca Al-Quran, dan munsyid Syekh Muhammad Abduljawwad. Acara itu dipandu oleh Syekh Karim Hamid Abu Zaid; salah satu peneliti di Al-Azhar.
Dalam ceramahnya, Dr. Muhammad Al-Jubbah menjelaskan bahwa surah-surah Al-Quran dimulai dengan basmalah kecuali “Surah At-Taubah” karena surah ini diturunkan dengan nada yang keras terhadap orang-orang yang mengingkari janji mereka. Awalnya merupakan peringatan tegas dan pembebasan langsung dari Allah dan Rasul-Nya dari janji-janji orang-orang musyrik. Beliau juga menyebutkan bahwa surah yang dimulai dengan ancaman yang keras ini diakhiri dengan ayat yang mengandung makna rahmat dan kasih sayang yang luhur, semisal firman Allah yang berbunyi: "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalangan kamu sendiri, yang sangat peduli terhadap penderitaanmu, yang sangat menyayangi kamu, yang penuh kasih dan belas kasihan terhadap orang-orang yang beriman.” Tetapi jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Cukuplah bagiku Allah; tidak ada Tuhan selain Dia. Aku telah bertawakal kepada-Nya, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung."
Urutan antara intensitas (kerasnya) awal surah dan rahmat di akhir surah ini adalah bukti bahwa kekuatan tidak dapat dipisahkan dari rahmat, sebagaimana ditunjukkan oleh kepedulian Nabi Muhammad SAW untuk membimbing umatnya dan menyelamatkan mereka dari kesengsaraan di dunia dan akhirat.
Dr. Al-Jubbah lantas menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak hanya menunjukkan belas kasih kepada umatnya, tetapi juga menanamkan nilai ini dalam diri para sahabatnya dan mengarahkan mereka untuk bersikap belas kasih dan lembut dalam segala urusan mereka. Salah satu contoh yang paling menonjol adalah sikapnya terhadap sahabatnya yang terhormat, Mu’adz bin Jabal. Suatu ketika, Mu’adz memperpanjang bacaan dalam salat Magrib saat menjadi imam salat sehingga menyulitkan sebagian jemaah, terutama yang sudah lanjut usia dan memiliki kebutuhan khusus. Ketika Nabi Muhamad SAW mengetahui hal itu, beliau sangat marah dan berkata kepada Mu’adz: “Apakah kamu suka membuat orang lain kesal, Mu’adz?” beliau mengulanginya tiga kali. Kemudian memerintahkannya untuk membaca surah yang pendek agar tidak menyusahkan jemaah, karena imam harus memperhatikan keadaan orang-orang di belakangnya dan memilih yang paling mudah dan ringan. Situasi ini mencerminkan kepedulian Nabi Muhammad untuk meringankan beban umatnya. Selain itu, belas kasihnya Nabi Muhammad SAW terpancar dalam kisah Durrah binti Abi Lahab yang masuk Islam dan setelah hijrah ke Madinah. Kemudian beberapa wanita Ansar mengetahui kedatangannya, lalu mereka berkumpul dan berkata kepadanya: “Kamu adalah putri tukang kayu bakar Abu Lahab, apa gunanya imanmu?” Mereka mengejeknya dengan ibunya, Ummu Jamil yang disebutkan dalam Surah Al-Masad, dan suaminya, Abu Lahab. Durrah menangis dengan sedih dan pergi ke Rasulullah untuk mengeluh kepadanya dan mengadu dengan sedih: “Wahai Rasulullah, apakah tidak ada orang kafir lain selain aku?” Nabi Muhammad SAW sangat marah atas penghinaan ini dan berdiri di hadapan orang-orang lalu berkata: “Mengapa orang-orang menyakiti saya dengan silsilah dan kekerabatan saya? Sesungguhnya syafaat saya tidak akan mencapai orang yang membenci saya, dan siapa pun yang menasihati dalam Islam, maka itu bermanfaat bagi dirinya sendiri, jadi tinggalkanlah apa yang kalian hindari, karena seseorang tidak dapat disalahkan atas orang tuanya.” Sikap di atas ini menegaskan betapa belas kasihnya Rasulullah SAW.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniDr. Muhamad Al-Jubbah mengatakan bahwa bahwa risalah Nabi Muhammad SAW dibangun di atas dua prinsip dasar: menghilangkan bahaya dan mendatangkan kebahagiaan. Dua prinsip dasar itulah yang merupakan slogan risalah Rasulullah SAW. Oleh karenanya, Rasulullah selalu memilih yang paling mudah dan ringan bagi umatnya dan dengan tegas melarang segala sesuatu yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan yang luhur. Hal ini terwujud dalam firman Allah SWT: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalangan kamu sendiri, yang sangat peduli terhadap penderitaanmu, yang sangat memperhatikan kamu, yang penuh kasih sayang dan belas kasihan terhadap orang-orang yang beriman.”
Nabi Muhammad SAW membimbing para sahabatnya dengan lembut dan ramah. Jika beliau melihat kebaikan pada mereka, beliau mendorong mereka untuk melakukannya dan jika beliau melihat sebaliknya, beliau melarang mereka dengan lembut. Hal ini terlihat jelas dalam sikapnya terhadap (Ashaj Abdulqais), ketika beliau Muhammad berkata kepadanya: “Ada dua sifat dalam dirimu yang dicintai Allah dan Rasul-Nya: kesabaran dan keteguhan.”
※ Kedermawanan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq
Hal ini menegaskan penghargaannya terhadap akhlak yang mendukung prinsip kemudahan dan rahmat. Di antara sikap-sikap lainnya adalah ketika sahabat yang mulia, Abu bin Ka’ab, bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ayat mana dalam kitab Allah yang paling agung?” Abu bin Ka’ab menjawab bahwa itu adalah firman Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi Allah tidak ada tuhan selain Dia, Yang Hidup, Yang Berdiri. Tidak ada tidur atau kelelahan yang menimpanya. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapat menjadi perantara kepadanya kecuali dengan izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di depan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak dapat mencakup sesuatu dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi dan tidak berat bagi-Nya untuk menjaganya. Dan Dia adalah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar."
Di akhir acara, Syekh Karim Abu Zaid mengatakan bahwa rahmat Nabi Muhammad SAW adalah semua berasa dari akhlaknya dan mencakup semua makhluk. Hal ini terlihat jelas dalam riwayat hidupnya yang penuh dengan kepedulian terhadap umatnya. Beliau Nabi Muhamad SAW tidak membebani umat dengan urusan agama, melainkan selalu memilih jalan yang paling mudah dan ringan bagi mereka, mengikuti pendekatan yang memudahkan, bukan mempersulit, untuk menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa Islam adalah agama yang penuh rahmat dan kemudahan, bukan agama yang penuh kesulitan dan kesusahan.
