Maulid, Momen untuk Menghias Diri dengan Akhlak Rasul

Di bulan Rabiulawal umat muslim merayakan maulid Nabi Muhammad SAW. Namun kini, ada kalangan dari umat Islam melarang merayakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka adalah umat Nabi SAW yang mengatakan dirinya mengikuti ulama salaf dan menganggap kembali ke Al-Quran dan sunnah namun berkeyakinan bahwa merayakan maulid adalah bid'ah dengan alasan yang terlampau sederhana, yaitu Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tidak melakukannya.

Sedikit saya menyoalkan, entah apa dalam pikiran mereka, kalau-kalau masalah kebaikan, selalu saja dilarangnya. Pernahkah mendengar dari kelompok mereka yang membid'ah-bid'ahkan itu bersuara lantang mengecam keras laku teror yang dilakukan para teroris dengan mengatasnamakan ajaran Islam? Bukankah laku tersebut tidak diajarkan Islam? Tak terdengar sedikit pun kecaman mereka tentang hal ini, anehnya ada sebagian dari mereka menganggap bahwa hal tersebut laku ajaran Islam.

Bukankah 14 abad yang lalu Rasulullah dengan tegas dan jelas, di momen haji wadak Baginda Nabi mengangkat setinggi-tingginya martabat manusia? Nabi berkata di tengah-tengah khutbahnya, "Wahai manusia, sesungguhnya darah-darah kalian, kehormatan-kehormatan kalian itu haram bagi kalian sampai kalian bertemu Tuhan kalian, seperti kehormatan (kesucian) hari kalian yang ini (Arafah), di bulan kalian yang ini (Haji) di negara kalian yang ini (Mekah)."

Mahmud Abu Daqiqah, Ulama Kontemporer Pakar Akidah
Kitab karangannya masih menjadi diktat di Universitas Al-Azhar. Tulisan ini menceritakan riwayat hidup sang mualif nan alim, Mahmud Abu Daqiqah.

Maulid Nabi adalah salah satu momen yang tepat untuk umat muslim mengenal lebih dalam tentang perjalanan Nabi Muhammad; perihal akhlaknya, ibadahnya, bermuamalahnya dengan manusia, alam dan Allah SWT.

Bukankah Nabi Muhammad SAW menganjurkan umat Islam semenjak mereka kecil untuk mengenal Nabinya? Nabi berkata:

أدبوا أولادكم ثلاث خصال: حب نبيكم، وحب أهل بيته وقراءة القرأن
"Didiklah anak-anak kalian tiga hal; mencintai Nabi kalian, mencintai ahli baitnya dan membaca Al-Quran."

Dengan demikian, bagaimana umat Muhammad mencintai Nabinya, sedangkan merasa bahagia dan memperingati maulid yang jelas-jelas isi dari perayaan ini adalah mengisahkan perjuangan kehidupan Nabi saja harus dibid'ahkan? Padahal mereka tahu yang namanya rasa cinta, justru akan tumbuh dan bergejolak jika sang pecinta mengenal secara serius tentang yang dicintainya.

Pembid'ahan dan pelarangan kaum salafi wahabi tak lain disebabkan ketidaktahuan mereka terhadap esensi besar dalam Islam, yaitu mengenalkan Nabi kepada semua manusia.

Walaupun mereka larang, jelas-jelas Allah SWT akan terus mengangkat derajat Muhammad SAW. Bahkan Mantan Mufti Agung Mesir Syekh Ali Jum'ah menantang, coba sebutkan satu ulama saja yang melarang maulid? Ia mengatakan yang melarang itu bukan ulama, mereka hanyalah sebagai intelektual.

Mari di bulan maulid Nabi ini, kita jadikan momen untuk memperbaiki perilaku yang buruk, untuk berkaca dan mencontoh perilaku Baginda Nabi SAW.

Rasulullah sebagai manifestasi rahmat Allah SWT mengemban misi mengajarkan nilai-nilai akhlak yang luhur dan mulia kepada seluruh umat manusia. Dalam hadis, Rasulullah Berkata:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
"Aku sesungguhnya diutus untuk menyempurkan akhlak"

Kalau kita melihat redaksi hadis ini, maka berarti kehidupan umat manusia sebelum hadirnya baginda Nabi, Arab atau pun non arab sudah mempunyai nilai-nilai akhlak. Namun belum mencapai kesempurnaan.

Misalnya, kita mendengar bangsa Arab terkenal dengan memuliakan tetamu. Tetapi di sisi yang lain, bangsa Arab pada masa jahili mengubur hidup-hidup anak perempuan yang baru lahir. Mereka menganggap anak perempuan sebagai aib. Tentu, di satu sisi kita melihat adanya akhlak dan di sisi yang lain, kita melihat kekejaman yang tidak manusiawi dan tak mencerminkan akhlak sama sekali. Maka, datangnya Rasul SAW, selain menauhidkan manusia adalah untuk menyempurnakan lelaku umat manusia.

Risalah Nabi Melawan Domestikasi Perempuan
Tradisi jahiliah memandang perempuan sebagai makhluk kelas dua, kotor, dsb. Risalah Nabi Muhammad SAW datang dengan pandangan yang berlainan.

Baginda Nabi mengangkat derajat perempuan. Rasul berkata:

الجنة تحت أقدام الأمهات
"Surga itu dibawah telapak kaki ibu"

Rasulullah SAW berakhlak sangat mulia. Manifestasi makhluk yang menjunjung nilai-nilai tinggi nan luhur. Kalau kita melihat riwayat dari para sahabat dalam menyifati akhlak Rasulullah SAW, maka akan bertambah kecintaan kita melihat keluhuran akhlaknya.

Sayidina Anas bin Malik yang berkhidmah kepada Rasulullah berkata;

"Demi Allah, aku benar-benar telah berkhidmah kepadanya selama 9 tahun, tidak pernah tahu bahwa beliau berkata pada sesuatu yang aku buat untuknya, kenapa kamu melakukan ini dan itu dan tidak pernah mencelaku sedikitpun. Demi Allah, belum pernah berkata ah (menghardik) sedikitpun!"

Berapa kali kita mengatakan atau berperilaku kurang pas kepada orang tua dan orang di sekeliling kita dengan perkataan dan perbuatan yang mungkin membuat sakit hati. Rasul SAW tak pernah menyakiti hati orang yang berkhidmah kepadanya sedikitpun!

Rasul SAW adalah utusan Allah yang membawa teladan sikap tawaduk. Suatu ketika Rasul mengunjungi para sahabat Anshar, menyalami anak-anak mereka, mengusap kepala anak-anak mereka (tanda sayang) dan mendoakan mereka.

Rasul juga sangat menyayangi umatnya. Sahabat Anas RA menceritakan kejadian orang Badui yang datang ke Masjid Rasulullah SAW. Anas dan Rasul SAW waktu itu sedang berkumpul dengan para sahabat. Orang Badui itu datang dan kencing di masjid. Tentu Rasul dan para sahabat melihat orang Badui itu. Para sahabat menjerit dan berteriak melarang orang Badui itu untuk tidak meneruskan kencingnya. Rasul SAW berkata kepada para sahabatnya agar tidak boleh memberhentikan kencingnya dan membiarkan terlebih dahulu menyelesaikan kencingnya.

Akhirnya, para sahabat tak lagi memberhentikan kencingnya orang Badui itu. Setelah selesai, barulah Rasul menasihati sekaligus mengajarkan orang Badui dan para sahabat bahwa masjid merupakan tempat yang tidak boleh dikotori, masjid hanyalah untuk beribadah.

Di saat masih dalam tanggungan Abu Thalib, pamannya, tampaklah Rasul SAW sebagai manusia yang sempurna, selalu mendahulukan terlebih dahulu putra-putranya Abu Thalib untuk makan.

Abu Thalib berkata, "Ketika datang makanan untuk anak-anak, ia (Rasulullah) menahan diri sehingga anak-anak semuanya makan." Rasulullah tidak mau mendekat, sampai anak-anak Abu Thalib makan dulu. Karena Rasul tidak mau menyedikitkan makan salah satu putra Abu Thalib. Rasul SAW lebih memilih bersabar demi mengenyangkan dulu kerabatnya yang lain.

Rasulullah SAW tidak pernah melaknat siapapun. Pernah terjadi suatu dialog antara Rasul dan Kaum Yahudi. Kaum Yahudi berkata kepada Rasulullah SAW, "As-Samu 'Alaikum (kematian bagimu)". Sebentuk pencelaan terhadap Rasul, yakni mendoakan kematiannya. Rasul hanya menjawab "Wa'alaikum (tanpa meneruskan)".

Kala itu, Siti Aisyah mendengar perkataan orang-orang Yahudi itu. Ia secara refleks bergegas dan menjawab mereka dengan perkataan yang agak keras, "As-Saamu 'Alaikum wa la'anakum wa ghadhaba 'alaikum(kematian kepadamu, dan semoga Allah melaknat kalian, dan memurkai kalian).

Lalu, Rasul berkata kepada Siti Aisyah "Pelan-pelan, wahai Aisyah. Engkau harusnya lemah lembut, janganlah engkau keras dan berkata buruk." Aisyah berkata, "Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka ucapkan?" Rasul menjawab, "Apakau engkau tidak mendengar apa yang aku ucapkan? Aku telah menjawabnya."

Keutamaan Menyambut Maulid dengan Gembira
Umat Islam dianjurkan bersenang hati menyongsong bulan maulid. Alim ulama dalam sejumlah kitab klasik menjabarkan keutamaannya.

Inilah beberapa akhlak Baginda Nabi. Tentu masih banyak yang belum penulis tuangkan dalam tulisan kali ini. Kehidupannya yang penuh dengan akhlak-akhlak yang mulia, yang justru seharusnya kita teladani tak akan habis ditulis dalam artikel ringkas.

Pantas saja jika sang istri, Ummul-Mu'minin Sayidah Aisyah menyifati Baginda Nabi, saat ditanya oleh sahabat, bahwa Rasul berakhlak Al-Quran:
كان خلقه القرأن

Dan jelas saja Allah SWT memuji hambanya secara langsung:

وإنك لعلى خلق عظيم
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berakhlak yang mulia"

Oleh karena itu, Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT untuk mengeluarkan manusia dari kezaliman-kezaliman menuju cahaya:
لتخرج الناس من الظلمات إلى النور

Menurut Syekh Muhammad Abu Musa, seorang alim besar di Al-Azhar, Kezaliman di sini adalah kebodohan, keterbelakangan, keterpurukan, ketidakadilan, kebengisan, kekalahan, kemunafikan. Sedangkan An-Nuradalah ilmu, kebenaran, keadilan, kebaikan, rahmat, keamanan, kepercayaan, kekuatan, kemajuan, pertolongan, kemenangan.

Dan sungguh benar-benar berhasil, Rasulullah selama jangka waktu 22 tahun mampu menauhidkan masyarakat yang diliputi kebodohan akan Tuhan, Pemilik Langit dan Bumi. Salah satu bentuk kejahilan, misalnya Bangsa Arab Jahiliyah (pra Islam) menyembah berhala-berhala yang mereka ciptakan sendiri. Konon, di kakbah pada waktu itu, ada setidaknya 360 patung yang dijadikan sesembahan bangsa Arab. Tetapi, dengan keuletan Nabi Muhammad berdakwah meluruskan manusia untuk beribadah dan meminta hanya kepada Allah SWT, dengan akhlak yang mulianya, dan dengan perjuanganmya yang luar biasa itu akhirnya menghasilkan buahnya, yakni menjadi masyarakat yang dipenuhi keimanan dan sebuah kota yang madani. Mereka tak lagi meminta kepada batu-batuan yang jelas-jelas tidak memberikan kemanfaatan itu serta segala bentuk kejahilan. Allahu A'lam.


Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik Irfan Rifqi Fauzi