Skip to content

Mahmud Abu Daqiqah, Ulama Kontemporer Pakar Akidah

Kitab karangannya masih menjadi diktat di Universitas Al-Azhar. Tulisan ini menceritakan riwayat hidup sang mualif nan alim, Mahmud Abu Daqiqah.

FOTO: Sampul kitab Syekh Mahmud Abud Daqiqah. (Istimewa)
FOTO: Sampul kitab Syekh Mahmud Abud Daqiqah. (Istimewa)

Kitab Al-Qaul As-Sadid masih menjadi salah satu diktat kuliah di Universitas Al-Azhar hingga detik ini. Mualifnya adalah ulama Al-Azhar, seorang fakih nan ushuli, Syekh Mahmud bin Ismail Abu Daqiqah Al-Hanafi Al-Azhari. Beliau lahir di Desa Mahallah ‘Ubaid, Markaz Itai Al-Barud, Provinsi Al-Buhairah, pada tanggal 3 Rabiulawal 1293 H (29 Maret 1876 M).

Adapun pendapat Syekh Usamah Al-Azhari dalam Jamharah A’lam Al-Azhar Asy-Syarif yang mengatakan bahwa beliau lahir pada tahun selanjutnya, yakni 1294 H (1877 M) kurang tepat. Hal itu karena buku Haiah Kibar Al-‘Ulama fi Siyari A’lamiha Al-Qudama mencantumkan arsip akte kelahiran beliau dengan penanggalan presisi 3 Rabiulawal 1293 H.

Masa Pertumbuhan

Syekh Mahmud Abu Daqiqah tumbuh di dalam lingkungan yang mencintai ilmu. Sebagaimana umumnya anak-anak desa, ia dididik dengan teladan kebaikan. Di desa tersebut, beliau menghafalkan Al-Quran, mempelajari ilmu-ilmu dasar agama, kemudian dikirim untuk belajar di Al-Azhar.

Di Al-Azhar, beliau belajar kepada para pembesar di zamannya, seperti Syekh Abdurrahman Al-Bahrawi, Syekh Muhammad Bakhith Al-Muthi’i, dan pembesar lainnya.

Mengapa Perbedaan Pendapat Biasa Terjadi dalam Islam?
Khilafiah biasa terjadi dalam Islam. Perbedaan pendapat dalam memahami ajaran selain pokok agama sudah terjadi bahkan sejak masa Nabi.

Pengabdian di Al-Azhar

Pada umur 29 tahun, setelah melewati masa belajar yang lama di Al-Azhar, Syekh Mahmud Abu Daqiqah akhirnya memperoleh Syahadah Al-‘Alimiyyah derajat ketiga pada tanggal 1 Oktober 1905 dan memulai masa pengabdiannya sebagai pengajar di Masjid Al-Azhar pada tanggal 12 November 1905.

Setelah mengajar selama 18 tahun di Masjid Al-Azhar, beliau dipindah-ajarkan ke Ma’had Al-Azhar Thantha pada 1 Desember 1923, hingga kemudian kembali dipindahkan untuk mengajar di Masjid Al-Azhar pada tanggal 1 April 1926 tiga tahun setelahnya.

Selain itu, beliau juga pernah diminta menjadi pengajar di masa awal-awal berdirinya Universitas Al-Azhar modern, tepatnya pada tanggal 18 Maret 1931. Lalu, asisten Syekhul-Ma’had (Kepala Sekolah) tingkat Tsanawiyyah pada 18 Februari 1935, juga anggota Majlis Idarah Ma’had Al-Azhar pada 2 April 1935, hingga kemudian diminta kembali menjadi pengajar di Fakultas Usuluddin Al-Azhar sebulan setelahnya karena sejumlah hal.

Selama jangka waktu tersebut, tak terhitung jumlah murid yang pernah beliau ajarkan. Di antara murid-muridnya seperti Syekh Muhammad Abdullah Darraz, Syekh Syamsuddin Muhammad Al-Manthiqi, dan Syekh Muhsin Abu Daqiqah (adik kandung Syekh Mahmud Abu Daqiqah).

Menjadi Anggota Haiah Kibar ‘Ulama

Pada tanggal 8 Maret 1937, pada umur 61 tahun, Syekh Mahmud Abu Daqiqah dinobatkan sebagai anggota Haiah Kibar ‘Ulama Al-Azhar bersama 11 orang lainnya yang turut dilantik pada hari itu.

Buku Termutakhir yang Mengulas Haiah Kibar Ulama Al-Azhar
Tidak banyak buku yang membahas Haiah Kibar Ulama Al-Azhar. Pada tahun ini, Al-Azhar menerbitkan buku termutakhir yang mengulas lembaga elite itu.

Karya-Karya

Syekh Mahmud Abu Daqiqah meninggalkan beberapa karya tulis, seperti:

-       Al-Qaul As-Sadid fi ‘Ilmi At-Tauhid. Kitab beliau satu ini adalah diktat pelajaran akidah pertama kali yang diajarkan di Universitas Al-Azhar Modern semenjak didirikan. Dan pada tahun 2016 silam hingga sekarang, kitab ini kembali diajarkan dan dijadikan diktat di Fakultas Usuluddin dan Fakultas Syariah Islamiyyah Al-Azhar.

-       Mudzakkirat At-Tauhid. Kitab ini terdiri dari tiga jilid kecil yang diringkas dari kitab Al-Qaul As-Sadid dengan mengambil beberapa pembahasan saja (masih berbentuk cetakan lama yang tersimpan di Perpustakaan Al-Azhar).

-       Mudzakkirah ‘Ulum Al-Quran. Kitab ini ditulis sebagai diktat ilmu Al-Quran untuk mahasiswa Jurusan Al-Wa’zh wa Al-Irsyad (sekarang Jurusan Dakwah wa Tsaqafah) di Universitas Al-Azhar dimulai pada tahun 1934 M. Kitab ini kembali dicetak ulang pada tahun 2018 silam oleh Maktabah Al-Iman. Hanya saja, sampul depan kitab tersebut salah dalam penisbatan nama beliau. Yang harusnya nama beliau adalah Mahmud malah ditulis dengan Muhammad Abu Daqiqah.

Selain karya tulis, beliau juga memiliki edisi teks (tahkik) atas kitab Al-Ikhtiyar li Ta’lil Al-Mukhtarkarangan Ibnu Maudud Al-Maushili Al-Hanafi (w: 683 H) yang dicetak di Maktabah Al-Halabi pada tahun 1356 H (1937 M) di masa hidup beliau. Hanya saja, cetakan tersebut pernah dicuri oleh Maktabah Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah dan Dar Al-Fikr Al-‘Arabi dengan menghilangkan nisbat Maktabah Al-Halabi.

Dalam Jamharah A’lam Al-Azhar Asy-Syarif, Syekh Usamah Al-Azhari menuliskan bahwa Syekh Mahmud Abu Daqiqah juga memiliki karya berupa edisi teks (tahkik) atas kitab Fath Al-Ghaffar bi Syarh Al-Manar karangan Ibnu Nujaim Al-Mishri Al-Hanafi (w: 970 H). Setelah penulis telusuri, Syekh Usamah tidak benar dalam penisbatannya tersebut. Yang benar, Fath Al-Ghaffar ditahkik oleh gurunya, yaitu Syekh Abdurrahman Al-Bahrawi.

Menyikapi Provokasi Muhammad Kace dan Yahya Waloni
Kasus-kasus penistaan atas agama sering menghebohkan netizen Indonesia. Bagaimana teladan Rasulullah SAW dalam bersikap atas penghinaan?

Akhir Hayat

Setelah menjalani hidup selama 66 tahun menurut kalender Hijriah, Syekh Mahmud Abu Daqiqah menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Selasa, 22 Rabiulawal 1359 H (30 April 1940 M) dan dimakamkan di sisi gurunya, Syekh Abdurrahman Al-Bahrawi di Qarafah Mujawirin.

Sumber Pustaka:
-       Usamah Al-Azhari, Jamharah A’lam Al-Azhar Asy-Syarif;
-       Lajnah Ilmiah Al-Azhar, Haiah Kibar Al-‘Ulama fi Siyari A’lamiha Al-Qudama;
-       Zawat Al-Maghribi, Haiah Kibar Al-‘Ulama (1911-1961);
-       Umar Ridha Kahhalah, Mu’jam Al-Muallifin.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Amirul Mukminin

Latest