Memoar Syekh Al-Bayyumi bersama Gurunya dalam Menjamu Tamu
Ketika membaca buku Jamharah A’lam Al-Azhar Asy-Syarif (10 jilid besar) karya guru kami, Syekh Prof. Dr. Usamah Al-Azhari, yang sekarang menjabat Menteri Wakaf Mesir, saya melewati salah satu biografi ulama Al-Azhar bernama Syekh Ahmad Syafi’ As-Sayyid Husain Asy-Syafi’i. Guru besar dan sastrawan Al-Azhar. Dalam biografi tokoh ini, terdapat salah satu cerita yang ditulis oleh muridnya, salah satu penulis yang namanya dikenal hingga kini, yaitu Syekh Muhammad Rajab Al-Bayyumi. Namun sebelum menceritakan memoar tersebut, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu sosok yang dikenal dengan “Sastrawan Al-Azhar” itu.
Syekh Ahmad Syafi’ dilahirkan pada tanggal 18 April 1903 M di Desa Al-Ibrahimiyyah, Markaz Az-Zaqaziq, Provinsi Asy-Syarqiyyah, Mesir. Ia bertumbuh-kembang di sebuah keluarga mulia. Ia menghafalkan Al-Quran di lingkungan keluarga ini, karena ayah, paman, dan saudaranya adalah para civitas akademika Al-Azhar. Ia menyelesaikan hafalan tersebut pada usia 10 tahun disertai pemahaman yang matang. Setelahnya, ia datang ke Al-Azhar pada tahun 1916 M hingga memperoleh Syahadah Al-‘Alimiyyah pada tahun 1926 M, sebelum adanya perkuliahan Al-Azhar modern pada tahun 1930 M.
Setelah itu, ia memulai debut kerjanya sebagai advokat di bidang hukum agama, lalu mengajar di Ma’had Al-Azhar Az-Zaqaziq pada tahun 1928 M. Beberapa tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 1937 M, Syekh Mahmud Abu Al-‘Uyun yang kala itu menjadi kepala ma’had mencalonkannya sebagai pengajar di Fakultas Bahasa Arab.
Ia dikenal sebagai sosok yang gemar menghafal hadits dan sastra. Bahkan, ia telah menghafalkan Jawahir Al-Adab karya Ahmad Al-Hasyimi, Al-Bayan wa At-Tabayyun karya Al-Jahizh, Al-Kamil karya Al-Mubarrad, dan ‘Uyun Al-Akhbar karya Ibnu Qutaibah. Hal ini menjadikannya sebagai sosok yang matang.
Adapun karya tulisnya seperti Hayah Al-Mutanabbi wa Syi’ruhu, Al-Manfaluthi wa Adabuhu, dan Abdul’aziz Al-Bisyri wa Hayatuhu wa Adabuhu. Syair-syairnya juga dikumpulkan oleh Ibrahim Ahmad Abdul’aziz ‘Azab untuk dijadikan tesis magister, disertai dengan biografi sosok yang ditulis ini. Ia wafat pada hari Kamis, 5 Rabiulawal 1381 H(17 Agustus 1961 M).
Kembali ke topik awal, Prof. Dr. Muhammad Rajab Al-Bayyumi pernah bercerita, “Aku mempunyai hubungan yang baik dengan guru besarku, yaitu Ustaz Ahmad Syafi’ As-Sayyid, guru besar sastra Arab di Fakultas Bahasa Arab. Ia adalah sosok besar yang terlalu tinggi untuk disifati. Ada beberapa kesaksian yang kulihat sendiri mengenai sikap beliau yang takkan kulupakan.
Syahdan, aku pergi berziarah ke rumah beliau, karena aku berusaha untuk menjaga hubungan baik yang telah kubangun bersama beliau. Sesampainya di sana, ternyata rumahnya sedang ada kunjungan dari Syekh Mahmud Abu Al-‘Uyun yang kala itu menduduki jabatan tinggi di Al-Azhar. Beliau banyak menulis di surat kabar dan majalah hampir setiap hari dan sosok yang berwibawa tinggi sesuai dengan kedudukannya.
Kala itu adalah pertemuan dua sahabat yang indah. Ustaz Syafi’ menyuguhi Ustaz Abu Al-‘Uyun dengan segelas teh, tanpa ada tambahan suguhan lain. Setelah beberapa saat, sosok itu pamit dengan mengucapkan salam penghormatan.
Belum selesai mengantar kepergian tersebut, beliau kembali dikunjungi oleh salah satu pekerja di kampus yang datang membawa berkas ke rumah. Beliau kemudian menyuguhinya dengan pisang sesisir dan teh. Sang tamu kemudian melahap semua pisang tersebut tanpa sisa. Aku sampai terheran, hingga saat tamu itu pulang, aku secara spontan berkata kepada beliau, ‘Wahai Tuanku, Syekh Abu Al-‘Uyun mendatangi Anda, namun hanya disuguhi dengan segelas teh. Sedangkan pekerja itu, Anda suguhi dengan teh dan sesisir pisang. Bukankah Anda seharusnya menyamakan cara bermuamalah kepada keduanya?’
Seketika, sang ustaz menjawab secara spontan, ‘Wahai Rajab, Syekh Abu Al-‘Uyun mempunyai banyak kebun pisang di rumahnya dan ia adalah tamuku. Sedangkan dia (pekerja di kampus) bisa jadi belum mampu untuk membeli pisang tersebut kecuali di saat-saat tertentu. Dia adalah tamu Allah, bukan tamuku.’
Akupun terkejut dengan jawaban sosok ini hingga membekas di sanubariku. Setelah selesai bertamu, aku terus mengulang kalimat beliau, ‘Dia adalah tamu Allah, bukan tamuku.’ Kejadian ini benar-benar sebuah contoh sikap memanusiakan manusia.”
※ Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Islam
Kisah singkat ini telah mengajarkan kita bagaimana cara bermuamalah dan menempatkan keadilan dengan benar dan tepat. Karena, tidak semua yang setara adalah keadilan. Namun keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempat dan porsinya masing-masing.
Setelah menyajikan biografi tokoh ini, Syekh Usamah Al-Azhari juga tak lupa memberikan komentar, “Salah satu keistimewaan manhaj Al-Azhar adalah menjadikannya sosok yang mencintai, menyayangi, dan penuh rasa hormat kepada yang lain. Ketika keilmuan Al-Azhar terintegrasi dengan benar dalam pikiran seorang Al-Azhari, keilmuan tersebut akan menuntunnya menjadi manusia seutuhnya, yang makna tersebut aku rumuskan dalam kasidah Al-Azhar tulisanku ini:
Al-Azhari yang sebenarnya, jika aku mendefinisikannya
Aku katakan: Ia yang berbelaskasihan kepada sesama manusia”