Mencintai Rasulullah di Era Digital: Antara Lisan dan Laku
Tanggal 20 April 570 Masehi adalah hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang menurut sebagian besar sejarawan bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah. Dalam kitab Yaumiyyat As-Sirah An-Nabawiyyah Al-Musyarrafah karya Syekh Abdullah Abu Dzikri, diceritakan bahwa malam kelahiran beliau diwarnai oleh suasana haru dan penuh berkah. Siti Aminah, sang ibu, didampingi oleh para wanita seperti Syifa binti Amr (ibu dari Abdurrahman bin Auf), Ummu Aiman Barakah, Tsuaibah, dan Fathimah binti Murrah, dalam proses kelahiran yang agung tersebut.
Sementara itu, di Yastrib (sekarang Madinah), kaum Yahudi menantikan datangnya nabi terakhir, sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab mereka. Mereka menyaksikan konjungsi planet Jupiter dan Saturnus di Rasi Scorpio yang diyakini sebagai tanda kelahiran nabi terakhir. Meteor-meteor yang melintas di langit malam itu menambah keyakinan mereka. Seorang Yahudi bahkan berseru, “Telah terbit malam ini bintang Ahmad, tanda kelahirannya.” Teriakan ini menjadi saksi sejarah, yang disimpan dalam ingatan seorang anak kecil bernama Hassan bin Tsabit, yang kelak menjadi penyair Rasulullah.
Rasulullah lahir bertepatan dengan terbitnya fajar, dan beliau turun ke tangan Syifa dalam posisi menengadah ke langit. Dan ketika bayi itu turun, Syifa mendengar suara yang mengatakan: "Semoga Allah merahmatimu."
Kelahiran Nabi Muhammad SAW bukanlah kelahiran manusia biasa. Ia menandai awal perubahan besar dalam sejarah manusia. Seorang utusan yang membawa cahaya di tengah kegelapan, dan risalah yang mengubah wajah peradaban dunia.
Cinta yang Melewati Zaman
Mencintai Rasulullah adalah fondasi keimanan, bukan sekadar ungkapan spiritual, tapi sumber kekuatan rohani bagi umat Islam. Dari beliau kita belajar arti cinta yang tulus, sabar tanpa batas, dan kasih yang merangkul semua.
Namun kini, di era digital yang cepat dan penuh distraksi, mencintai Rasulullah tak semudah mengucapkannya. Tayangan yang meresahkan hadir dengan mudah. Nilai-nilai mulia kerap tergeser oleh tren yang semu. Figur teladan makin sulit ditemukan di tengah hiruk pikuk media sosial.
Dalam situasi seperti ini, menghadirkan keteladanan Rasulullah dalam ruang publik dan pribadi menjadi keharusan. Sosok beliau harus hidup dalam konten yang kita buat, dalam tutur kata di media sosial, dalam gaya hidup, dan dalam cara kita memperlakukan sesama.
Tak Kenal Maka Tak Cinta
Namun, bagaimana cinta bisa tumbuh tanpa pengenalan? Rasa rindu tak akan hadir jika tidak pernah dekat. Cinta kepada Rasulullah tumbuh dari kisah-kisah beliau, mengakar dari pemahaman terhadap ajarannya, dan tumbuh dalam perenungan atas akhlaknya yang agung.
Mencintai Rasulullah bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan laku. Bukan sekadar maulid dan selawat, tetapi juga jujur dalam berdagang, santun dalam berbicara, sabar dalam ujian, dan kasih kepada sesama. Cinta sejati menuntut tindakan nyata.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniSudahkah Kita Mencintainya?
Pertanyaan yang perlu kita renungkan: Sudahkah kita benar-benar mencintai Nabi Muhammad SAW? Apakah kita meneladan beliau dalam setiap keputusan hidup?
Allah SWT menegaskan dalam Al-Quran:
Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
(Surah Al-Ahzab: 21)
Artinya: "Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(Surah Ali Imran: 31)
※ Menghapus Label Sumber Dosa pada Perempuan
Rasulullah juga bersabda:
"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada dirinya sendiri, orang tuanya, dan seluruh manusia."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Cinta kepada Rasulullah adalah cinta yang mengubah. Ia menata akhlak, memperbaiki perilaku, dan menguatkan iman. Ia bukan nostalgia sejarah, tapi komitmen hidup yang nyata.
Syekhul-Azhar, Syekh Ahmad Ath-Thayyib, dalam ceramahnya menyatakan:
"Seandainya bukan karena Nabi Muhammad dan apa yang Allah utus bersamanya, niscaya umat manusia akan tetap berada dalam kegelapan yang pekat dan kesesatan yang nyata hingga Hari Kiamat."
Oleh karena itu, mari kita mencintai Rasulullah sebagai sebuah kesadaran dan laku untuk memperbaiki diri. Karena mencintai Rasulullah adalah mencintai nilai-nilai yang beliau bawa: kasih, kejujuran, dan keadilan. Cinta itu bukan nostalgia sejarah, melainkan komitmen hidup yang menuntun setiap langkah kita.