Dari sekian banyak buku cerita saya di waktu kecil, kisah nabi-nabi adalah salah satu buku cerita yang berkesan buat saya. Buku tebal berwarna kuning itu, bercerita tentang 25 nabi; silsilah nasab, kisah hidup mereka, tantangan yang dialami, dan mukjizat yang dibekali Tuhan untuk mereka. Tetapi tak kurang penting dari itu, ada satu bagian awal yang saya garis bawahi, yaitu penggambaran Hawa dalam kisah Adam dan Hawa.
Dalam buku cerita saya dan cerita populer Adam dan Hawa, Hawa digambarkan sebagai pihak yang salah dan berdosa. Ia dinilai sebagai pihak yang terkena rayuan iblis, kemudian ia menghasut Adam untuk mendekati pohon terlarang, memakan buahnya, dan diturunkan ke dunia. Pendeknya, Hawa adalah penanggung jawab atas ketidakpatuhan itu. Tanpa disadari cerita tersebut tertanam dalam ingatan saya (dan ingatan kita!?), mengakar kuat, lalu menjadi keyakinan yang kita amini bersama.
Di dalam tulisan sebelumnya, kita tahu betul Islam telah mengakui potensi perempuan. Islam membebaskan perempuan dari belenggu sosial dalam sejarah panjang dunia. Konsekuensi logisnya, Islam juga membebaskan perempuan dari pelabelan sumber dosa. Lalu, mengapa dalam beberapa kondisi, nalar pikir kita justru mendiskriminasi perempuan?
Syekh Ahmad Ath-Thayyib dalam video serial Ramadan 1444 episode 4, menegaskan bahwa Islam telah memberi hak hidup dan mengakui kemanusiaan perempuan. Syekh Ahmad Ath-Thayyib menambahi, tanpa pemberian hak dan pengakuan semacam ini, perempuan akan sulit mendapati haknya yang lain—yang bersifat lebih spesifik dan detail, atau bersifat lebih universal.
Islam menyatakan penguburan bayi perempuan adalah perbuatan keji dan buruk. Al-Quran merekam ekspresi orang-orang Arab yang merasa kecewa dan marah ketika istrinya melahirkan bayi perempuan (Surah Al-Nahl: 58). Al-Quran memberi teguran bagi para pelaku perbuatan keji itu.
Dalam Surah At-Takwir: 8, Tuhan seolah bertanya kepada bayi perempuan: Apa yang kamu perbuat sampai-sampai kamu layak dikubur hidup-hidup? Pertanyaan ini menjadi satire bagi mereka yang menganggap kelahiran bayi perempuan berarti kelahiran aib. Mereka adalah orang-orang yang berkecil hati ketika memiliki anak perempuan.
※ Benarkah Wudu Perempuan Haid Diharamkan?
Setelah Islam memberikan hak hidup dan pengakuan atas potensi perempuan, Islam kemudian menghapus label sumber dosa yang melekat pada perempuan. Tentu kita sama-sama tahu, potensi manusia tak akan muncul jika ia dipenuhi rasa bersalah, ‘kan?
Al-Quran menjelaskan detail peristiwa kejatuhan Adam dan Hawa. Al-Quran mengatakan bahwa yang terhasut oleh iblis adalah keduanya. Adam dan Hawa mempunyai tanggung jawab yang sama di hadapan Tuhan: sama-sama menerima larangan Tuhan, mendapati peringatan, dan berbuat kesalahan lantaran godaan iblis. Segala bentuk titah Tuhan selalu melibatkan keduanya. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah: 35 dan Surah Al-A’raf: 20. Bahkan Surah Thaha: 120 menekankan keterlibatan Adam. Meskipun keduanya berbuat salah, tetap saja, kesalahan kekasih tidak pernah berarti apa-apa, bukan?
Sebagaimana kesimpulan Syekh Ahmad Ath-Thayyib, rangkaian kisah Adam dan Hawa dalam Al-Quran merupakan bukti bahwa Hawa bukanlah pihak yang salah dan berdosa. Al-Quran telah menghapus label sumber dosa perempuan dalam ingatan manusia. Pengandaian seperti: kalau saja Hawa tak menghasut Adam, pasti Adam tak akan berbuat dosa, jelas tak pernah valid. Cerita-cerita Al-Quran tampaknya berbanding terbalik dengan cerita populer dalam buku saya itu.
Sayangnya cerita-cerita populer merasuk ke alam pikir kita lebih dulu dibandingkan cerita Al-Quran. Tidak hanya alam pikir kaum laki-laki, tetapi juga perempuan. Banyak perempuan yang meyakini Hawa adalah sumber dosa dan penanggung jawab atas ketidakpatuhan.
Jika Islam telah menghapus label sumber dosa pada perempuan, maka dari manakah cerita yang populer itu muncul, berbaur asumsi, lalu diyakini kebenarannya seakan hampir menjadi asas pengekangan pada perempuan?
Bab 6: Kejatuhan Adam dan Hawa tafsir gereja Yesus Kristus menyebutkan, “Setan, yang tidak mengetahui pikiran Allah namun berusaha menghancurhan rencana Allah, datang kepada Hawa di Taman Eden. Dia menggodanya untuk makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Dia meyakinkannya bahwa dia dan Adam tidak akan mati, namun bahwa mereka akan “seperti allah-allah, mengetahui yang baik dari yang jahat” (Musa 4:11). Hawa menyerah pada godaan tersebut dan memakan buah itu. Ketika Adam tahu apa yang terjadi, dia memilih ikut makan juga. Perubahan yang datang kepada Adam dan Hawa karena mereka memakan buah itu disebut Kejatuhan.” Bisa kita simpulkan, cerita populer Hawa sebagai sumber dosa, adalah tafsir peninggalan agama Kristen.
Kejatuhan Adam adalah balasan atas ketidakpatuhannya terhadap larangan Tuhan. Kejadian ini merupakan akibat dari dosa yang dilakukan Hawa, yaitu merayu Adam untuk memakan buah terlarang. Dari penafsiran inilah pola pikir umat Kristiani terbentuk. Mereka menganggap Hawa adalah dalang di balik peristiwa kejatuhan Adam dan Hawa. Jika setiap perempuan di dunia merupakan titisan Hawa, maka setiap perempuan adalah sumber dosa manusia.
Umat Kristiani tentu saja tahu lebih dulu cerita Adam dan Hawa versi mereka. Setelah tahu dan meyakini kebenaran cerita itu, mereka kemudian menyebarkannya kepada orang lain. Masyarakat Arab saat itu sangat mungkin terpengaruh pola pikir mereka. Setelah Islam hadir, bisa jadi cerita Adam dan Hawa peninggalan agama Kristen masih tertanam kuat dalam ingatan masyarakat Arab.
Saya tidak sedang mengatakan tafsir agama Kristen sebagai penyebab diskriminasi perempuan. Tetapi jelas nalar pikir dan tafsir agama umat Kristiani berpengaruh sangat besar. Setidaknya kita menyadari, agama Kristen menyodorkan perspektif, agama Islam juga demikian. Sehingga kita mampu membedakan cara pandang Islam terhadap perempuan daripada agama lain.
Pada akhirnya narasi atau cerita yang tak populer-tersembunyi-disembunyikan perlu kita munculkan ke permukaan. Narasi itu akan menemukan pembaca-pendengarnya, menawarkan perspektif, dan mendorong kita untuk bisa menimbang penafsiran secara lebih rasional, penuh empati, kritis, dan terbuka. Termasuk tafsir agama mengenai isu perempuan.