Mendaras Uswah Hasanah dalam Al-Quran

Hadirnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan para nabi di dalam keyakinan Islam, tidak hanya sebatas membawa risalah dan menyampaikan amar makruf nahi munkar. Hadirnya mereka—dalam pribadi mereka— juga menjadi teladan baik yang dapat mengobati, menyelesaikan dan menjadi solusi akan krisis zaman dari waktu ke waktu. Itulah istilah Uswah Hasanah yang tertera dalam Al-Quran: Surah Al-Ahzab ayat 21, Surah Al-Mumtahanah ayat 4 dan 6. Bagaimana dan sejauh apa makna di balik kata Uswah Hasanah dalam Al-Quran?

Dalam tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca untuk mendaras tafsir tiga ayat yang membicarakan Uswah Hasanah. Saya merujuk pada tulisan Dr. Abdulmun’im Hasan Abdullah—salah satu dosen dan pakar bahasa Arab Al-Azhar—berjudul “Al-Uswah fi Al-Quran Al-Karim”. Melalui tulisan tersebut, ia menjelaskan dengan apik makna tekstual berikut analisa lingustik dari tiga ayat yang membicarakan Uswah Hasanah.

Pertama, di Surah Al-Ahzab ayat 21, berbunyi, “Laqad Kana Lakum fi Rasulillahi Uswatun Hasanatun Liman Kana Yarjullah wa Al-Yaum Al-Akhir, wa Dzakarallaha Katsira.” Yang artinya, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah”. Ayat ini termasuk ayat yang paling sering kita dengar menempatkan Rasulullah Muhammad SAW sebagai suri teladan tertinggi umat manusia. Selain itu, ayat ini memberikan pemahaman bahwa setiap umat Islam harus meneladan Rasulullah sebagai pra-syarat kesuksesan di dunia dan akhirat.

Satu contoh hadits yang menampilkan keteladanan Rasulullah dalam konteks Rasul sebagai pemimpin rumah tangga. Dalam hadits riwayat Imam Ahmad diceritakan: suatu ketika istri Ustman bin Mazh’un mendatangi Sayidah Aisyah dengan penampilan yang acak-acakan seperti tidak terawat. Lalu Sayidah Aisyah bertanya, “Apa yang terjadi padamu?”, ia menjawab, “Suamiku setiap hari hanya salat di malam hari dan berpuasa saat siang hari”. Setelah itu Sayidah Aisyah menceritakan masalah tersebut kepada Nabi SAW, lalu seketika Nabi mendatangi Utsman dan berkata padanya, “Wahai Utsman, kita tidak diperintahkan untuk menjadi rahib (pendeta), bukankah terdapat teladan dalam diriku untukmu. Demi Alllah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan orang yang paling menjaga larangan-larangannya di antara kalian”.

Kedua, Surah Al-Mumtahanah ayat 4 yang berbunyi, “Qad Kana Lakum Uswatun Hasanatun fi Ibrahima wa al-Ladzina Ma’ahu...” Artinya, “Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” Kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, “sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu”. (Ibrahim berkata), Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”

Ayat kedua ini menempatkan suri teladan pada sosok Nabi Ibrahim. Ditampilkan dialog yang menunjukkan keteguhan Nabi Ibrahim dalam memperjuangkan kebenaran tauhid. Di saat yang sama, ia melawan kekafiran dan kemusyrikan di kaumnya, bahkan salah satunya (dalam satu riwayat) adalah ayahnya sendiri sang pembuat patung berhala. Melalui ayat ini, kita belajar bahwa kebenaran adalah prinsip dari segala prinsip, yang melampaui segalanya. Keteguhan dan kesuksesan Nabi Ibrahim dalam ketauhidan inilah yang menjadikannya dijuluki Hanifan Musliman.

Ketiga, ayat ini hanya terpisah satu ayat dengan sebelumnya, yakni di Surah Al-Mumtahanah ayat 6 yang berbunyi, “Laqad Kana lakum fihim Uswatun Hasanatun Liman Kana yarjullaha wa Al-Yaumal Akhir”. Artinya, “Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) terdapat suri teladan yang baik bagimu: (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian, dan barang siapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji”.

Tafsir

Kumpulan tulisan bertema tafsir Al-Quran dapat teman-teman baca

di sini

Ayat ini menguatkan ayat sebelumnya tentang keteladanan dari sosok Nabi Ibrahim. Diulanginya redaksi tersebut, menunjukkan tingginya posisi suri teladan pada Nabi Ibrahim dan umatnya, di mana Allah menyebut bahwa melalui meniru suri teladan tersebut adalah jalan bagi orang-orang yang berharap pada Allah dan yang menganggap kehadiran hari kiamat sebagai kenyataan. Sehingga di akhir ayat tersebut, Allah memberikan peringatan bahwa kekafiran umat manusia sama sekali tidak berpengaruh pada-Nya, sebab ia Mahakaya.

Tafsir Linguistik Ayat Uswah Hasanah

Secara lingustik, susunan dan redaksi ayat-ayat Al-Quran memiliki penekanan dan alasan tertentu mengapa redaksinya dibuat demikian. Itulah unsur sastra dan linguistik yang bersatu padu dalam Al-Quran yang menyiratkan makna mendalam di baliknya. Demikian juga dalam ayat tentang Uswah, tiga ayat di atas kalau kita perhatikan sama-sama dimulai dengan kalimat Qad yang masuk pada Fi’il Madhi “Kana” : “Qad Kana”. Perpaduan tersebut menurut Dr. Abdulmun’im menunjukkan ketegasan, ketetapan, dan kesempurnaan (Tahaqquq wa Al-Istiqrar). Sehingga hal itu menegaskan kekuatan makna dari kalimat setelahnya: yaitu Uswatun Hasanatun. Begitu juga tiga ayat tersebut sama-sama menggunakan kata “Lakum” untuk penekanan akan besarnya manfaat keteladanan tersebut pada kita sebagai khitab (orang yang diajak bicara). Kemudian ketiga ayat tersebut juga sama menggunakan kalimat “Fi” untuk masuk pada figur yang diambil teladan: (Fi rasulillahi, Fi Ibrahima, Fihim). Hal ini untuk menunjukkan totalitas keteladanan dalam keseluruhan pribadi figur tersebut: perkataan, perbuatan, karakter, dan keadaan.

Analisa lingustik selanjutnya, jika kita perhatikan kata “Uswatun Hasanatun” dalam tiga ayat tersebut sama-sama berbentuk nakirah dan rofa’ kemudian diikuti oleh sifat Hasanah yang berarti “baik”. Hal ini menurut Dr. Abdulmun’im, menunjukkan ketinggian, keringanan dan hal yang prinsipil. Sebagaimana menurut Imam Sibawaih, “Ketahuilah bahwa Nakirah itu lebih ringan daripada Ma’rifat, ia lebih kokoh sebab keberadaan nakirah itu di posisi awal”. Kemudian dengan dibaca tanwinnya “Uswatun Hasanatun”, menunjukkan pada pengagungan dan kemuliaan makna di baliknya. Hal ini semakin lengkap dengan keberadaan sifat “Hasanah”.

Selain beberapa analisa lingustik tersebut, terdapat kesesuaian makna dari tiga ayat tersebut: pertama, tiga ayat tersebut sama-sama dikaitkan dengan nilai-nilai luhur yang agung: seperti rasa penuh harap pada Allah dan hari akhir (Raja’ Lillah wa Yaum al-Akhir). Hal ini menunjukkan bahwa bentuk mencinta dan meneladani para nabi sebagai Uswah Hasanah, dengan sendirinya akan menumbuhkan iman yang kuat kepada Allah dan hari akhir. Sebab, ketiganya merupakan hal yang berkaitkelindan: antara iman pada Nabi dengan Allah dan hari akhir.

Salah satu bentuk penghormatan besar Allah pada Nabi Muhammad juga bisa kita lihat melalui ayat pertama di atas. Jika kita perhatikan dalam ayat tersebut, Allah tidak langsung menyebut nama Nabi melainkan Allah menyebut dengan nama rasul (Fi Rasulillah). Tidak seperti di ayat kedua (Fi Ibrahima) di mana Allah langsung menyebut nama Nabi Ibrahim. Dalam konteks ini, dalam tafsirnya Ibnu Katsir berkomentar, “Dalam Ayat ini terdapat dasar yang besar untuk mengambil keteladanan terhadap Nabi SAW dalam perkataannya, perbuatannya, dan kesehariannya, oleh sebab itu Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk belajar meneladani Nabi pada saat hari Ahzab (Perang Khandaq) dalam kesabaran, ketenangan dan jihad Nabi. Termasuk kesabaran Nabi saat menunggu pertolongan dari Allah..”

Berdasarkan keseluruhan analisa linguistik akan ketiga ayat ini: dalam penggunaan kata Qad, lakum, nakirahnya Uswatun Hasanatun, dan fi, beberapa analisis makna iman pada Allah dan hari akhir, menunjukkan bentuk kesatuan sastrawi ayat Al-Quran dalam menyampaikan Uswah Hasanah. Atau dalam bahasa Dr. Abdulmun’im, “Wahdat al-Balagh bi al-Uswah Hasnaah Ma’a Ta’addud as-Siyaq” (Kesatuan model penyampaian tentang Uswah Hasanah meski dengan konteks (figur) yang berbeda). Hal ini selain menunjukkan aspek kesusastraan yang tinggi dari Al-Quran, juga menunjukkan betapa pentingnya Uswah Hasanah bagi kita umat Islam sepanjang ruang dan waktu. Tabik!


💡
Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim