Skip to content

Menjadi Hamba: Jalan Sunyi Menuju Kebebasan Sejati

Menjadi hamba Allah adalah jalan sunyi yang membebaskan manusia dari belenggu dunia dan nafsu, menuju kebebasan sejati dalam ibadah.

FOTO Ilustrasi (Unsplash/Afiq Fatah)
FOTO Ilustrasi (Unsplash/Afiq Fatah)
“Dunia itu ibarat bayangan, jika engkau kejar dia, engkau tidak akan pernah bisa menangkapnya. Tetapi bila kau palingkan badanmu, dia tidak punya pilihan lain kecuali mengikutimu”.
(Ibnu Qayyim Al-Jauzi)

Analogi Ibnu Al-Jauzi di atas benar; dunia itu paradoks: apa yang kita cari, apa yang kita hasrati, apa yang kita kejar di dunia ini, akan kembali lagi pada hal yang sama; lingkaran belenggu hasrat. Semakin kita kejar, bukan kepuasan yang kita dapatkan melainkan keinginan dan hasrat yang membelenggu dan tak terbendung. Itulah dunia. Islam mengajarkan manusia cara untuk mengentaskan manusia dari belenggu dirinya; yaitu melalui ibadah dan menjadi hamba Allah.

Masih tentang hasrat manusia, Imam Al-Qusyairi dalam Ar-Risalah Al-Qusyairiyah mengatakan, “Engkau adalah budak dari sesuatu yang mengendalikan dan memenjarakanmu. Jika nafsumu mengendalikanmu, maka hakikatnya engkau budak nafsumu, jika dunia mengendalikanmu, maka engkau adalah budak darinya.” Dalam aforismenya, Ibnu Athailah mengatakan “Anta Hurrun mimma Anta bihi Ayisun, Wa Abdun Lima Anta bihi Thami’un” (Engkau akan merdeka dari sesuatu saat engkau tidak mengharapkannya. Sementara engkau akan menjadi budak dari sesuatu saat engkau menginginkannya). Dalam redaksi berbeda, “Al-Abdu Hurrun Ma Qana’a, Wa al-Hurru Abdun Ma Thami’a” (Seorang budak itu merdeka selama ia qana’ah, sedangkan orang yang merdeka itu budak selama ia tamak).

Islam kemudian mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia adalah ibadah, bukan mencari dunia. Mengapa? karena ibadah akan mengantarkan manusia terbebas dari belenggu hasrat nafsunya. Ibadah kepada Allah bukan untuk mengekang manusia dalam kehidupannya. Sebaliknya, hakikat dari ibadah adalah untuk membebaskan manusia dari belenggu-belenggu kehidupan dunia. Menjadi hamba Allah dengan demikian adalah jalan sunyi seseorang menuju kebebasan.

Dalam Islam status tertinggi manusia bukanlah Nabi, bukan Rasul, alih-alih raja, melainkan status manusia sebagai Hamba Allah. Saat Allah menaikkan Nabi ke langit dalam perjalanan Isra'-Mi’raj –dalam Surah Al-Isra' ayat 1, Allah menyebut Nabi dengan sifat “Bi’abdihi” (dengan Hamba-Nya), bukan “Birasulihi/binabiyyihi”. Hal ini menunjukkan bahwa hamba Allah itu adalah status yang paling mulia, melebihi status nabi atau rasul.

Tiga Maqam Kehambaan; Ibadah, Ubudiyah, dan Ubudah

Imam Al-Qusyairi di dalam Risalah Al-Qusyairiyah menjelaskan bahwa ibadah memiliki tiga maqam spiritual yang dilalui oleh seorang salik:

Pertama, maqam Ibadah (عبادة) yaitu kedudukan orang-orang syariat/ umum di mana seseorang beribadah masih berangkat dari motivasi pahala-dosa, surga-neraka. Ilmu mereka masih dalam taraf ilm al-yaqin yang melihat ibadah terbatas dari aspek zahir belaka. Ibadah pada level ini bisa jadi masih sarat kehilangan ruh dan inti dari ibadah itu sendiri.

Rasulullah

Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan

di sini

Kedua, maqam Ubudiyah (عبودية) yaitu naik kedudukan khas (orang-orang tertentu) dimana mereka telah mencicipi ain al-yaqin dalam pengalaman spiritual. Ibadah mereka tidak sebatas tubuh semata, tetapi sudah meresap dalam hati  dan jiwa mereka. Imam Al-Qusyairi menyebut mereka dengan Arbab Al-Mukabadat yang artinya orang yang melihat penderitaan sebagai hadiah, musibah sebagai rasa cinta.

Ciri lain di maqam ini adalah “saat engkau menyerahkan seluruh dari dirimu pada-Nya, dan engkau sanggup memikul seluruh lelah/payah penderitaan yang datang dari-Nya (sebagai cinta).” Itulah totalitas penghambaan sehingga dalam hidupnya, mereka tidak lagi memperhitungkan senang/sedih, yang mereka lihat hanya-lah realisasi dari kehendak-Nya semata (Syuhud At-Taqdir).

Ketiga, maqam Al-Ubudah (عُبُوْدَةٌ) yaitu kedudukannya para Khas Al-Khas (golongan khusus dari golongan khusus). Pada maqam ini, mereka (para sufi) telah fana (haq al-yaqin): dimana seorang hamba tidak sekadar tahu tentang Allah, atau menyaksikan Allah, tetapi hidup dalam kehadiran-Nya. Mereka tidak lagi beribadah karena surga, atau takut neraka, melainkan karena tujuan tertinggi dari kehidupan itu adalah ibadah itu sendiri, bukan yang lain. Ibadah adalah nafas, darah dan denyut nadi mereka. Mereka disebut Imam Al-Qusyairi dengan Ahl Al-Musyahadat; orang-orang yang menyaksikan kehadiran Allah dalam segala sesuatu.

Puncak dari Ibadah adalah Ash-Shidqu (Kesungguhan)

Jika tiga level tersebut adalah tahapan, maka puncaknya adalah totalitas dan kesungguhan seorang hamba dalam beribadah kepada Tuhannya (ash-shidqu fi al-ubudiyah). Kondisi saat seseorang beribadah karena Allah, melalui Allah, dari Allah, untuk Allah. Hal ini dijelaskan oleh Ibnu Athaillah dalam Hikam-nya, “Mathlab Al-Arifin min Allahi As-Shidqu fi Al-Ubudiyyati wa Al-Qiyamu bi Huquq Ar-Rububiyyah” (Tujuan orang-orang arif dari Allah adalah kesungguhan dalam beribadah dan menegakkan hak-hak ketuhanan). Menurut Imam Asy-Syarqawi, kesungguhan dalam beribadah (ash-shidqu fi al-ubudiyah) bermakna bagaimana ibadah yang sudah dilakukan dengan adab; kehadiran hati yang muraqabah, tawaduk, hina, dan takut kepada Allah.

Pada level tertinggi inilah seseorang sudah memasuki kebebasan sejati. Setelah ia terbebas dari dirinya dan tak ada lagi bagian yang tersisa untuk dirinya (Fana’), seketika ia akan berada dalam maqam Al-Baqa’; kekal menyatu bersama Tuhan. Itulah Maqam Al-Ubudah; saat ibadah adalah puncak kenikmatan seseorang melebihi segalanya. Walhasil, benar dawuh yang disampaikan Gus Baha’, "Prestasi tertinggi manusia di dunia ini bukanlah pangkat atau kekayaan. Tetapi sujud." Mengapa demikian? Karena sujud adalah pernyataan cinta paling radikal: ketika dahi—simbol kemuliaan manusia—disentuhkan ke tanah, kepada Sang Pemilik Segalanya.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim

Latest