Menyelami Spirit Keilmuan Para Imam Qiraat
Belum lama ini lingkaran guru agama dan kalangan santri menangisi ironi yang terjadi pada oknum kiai dan guru mengaji. Membaca berita para oknum yang ditampilkan mesin pencari, membuat hati geli dan nyeri. Guru agama yang seharusnya menjadi ujung tombak pembentukan akhlak kawula muda, kini justru tak mengenal susila dan menebar benih malapetaka. Jika dibiarkan, kelakuan tak beradab para oknum yang merajalela ini akan membudaya. Walhasil, tidak mengherankan bila generasi muda masa depan kurang bercahaya, atau bahkan gelap gulita. Bukankah peribahasa kita berkata: Guru kencing berdiri, murid kencing berlari?
Di tengah kenyataan pilu ini, membaca dan menghayati kisah salaf saleh yang terhimpun dalam Tarikh Al-Qurrā' Al-‘Asyarah (Sejarah Sepuluh Imam Qira'ah) karya Syekh Abdulfattah Qadhi bisa mengobati hati, menetapkan figur teladan, dan mengarahkan kompas kehidupan pelajar dan pengajar agama. Karena bagaimanapun, baik mereka yang sedang mempelajari ilmu agama atau yang sudah menjadi guru, yang intens menghafal Al-Quran atau yang mendalami kitab kuning, semuanya adalah penjaga Al-Quran. Jika para hufaz menjaga lafal Al-Quran dari kepalsuan, maka laskar pelajar kitab kuning menjaga pesan dan ajaran Al-Quran dari kesalahpahaman. Dari sini, para penjaga Al-Quran mesti terpanggil untuk meniru sikap ulama dahulu dalam menjaga, membawa dan menyampaikan Al-Quran, sehingga citra dan wibawa agama Islam terjaga.
Tali Keilmuan
Absennya keteladanan dari oknum ustaz masa kini barangkali berpangkal pada renggangnya tali keilmuan atau "silatul-ilmi", meminjam bahasa Syekh Shadiq Arjun, Eks Dekan Fakultas Usuludin Universitas Al-Azhar, Kairo. “Wajah-wajah” ulama dari golongan sahabat, tabiin, dan para pengikut mereka lintas masa yang kini seakan tenggelam di tengah bisingnya suara manusia nirguna menjadi duduk perkara renggangnya hubungan keilmuan, sehingga terjadilah kesenjangan moral cendekiawan. Karena itu, untuk merekatkan ikatan keilmuan, kita perlu mengaji ilmu dengan kiai, berkawan dengan orang saleh, dan merenungi nilai kehidupan yang ada di antara cerita ulama, termasuk cerita imam qiraah yang dipaparkan Syekh Abdulfattah Qadhi dalam bukunya.
Di antara imam qiraah yang patut diteladani adalah Imam Zabban Abu ‘Amr bin ‘Ala’ (70 -150 H). Imam asal Irak yang hidup di era tabiin ini merupakan pembelajar ulung atau santri tulen. Ketika ada yang bertanya kepada Imam Zabban soal waktu ideal mencari ilmu dan pengetahuan, beliau menjawab: “Selama hayat masih di kandung badan”. Dari sekian imam qiraah, Imam Zabban ini adalah yang paling banyak gurunya ketimbang. Semangat sang imam mencari ilmu membawanya menjadi pakar interdisipliner: qiraat, nahwu, fikih, sejarah, dan syair. Beliau juga terbilang orang yang amanah dan zuhud dalam beragama. Di akhir hayatnya, beliau berpesan: “Barang siapa yang orientasi utamanya dunia, maka ia sedang memegang tali yang fana”. Di sinilah kecerdasan otak dan keindahan akhlak berpadu. Tidak aneh bila Imam Zabban dihormati, dikagumi, dan diikuti banyak murid
Lewat Imam Zabban kita belajar bahwa cinta ilmu menjadikan kepribadian bermutu, selama ia digunakan untuk menebar kebaikan, bukan kelicikan. Selain itu, kita jadi tahu, betapa tampilan akhlak di depan khalayak sangat berdampak dalam menarik hati dan memberi rasa percaya pada mereka. Saat ilmu dan akhlak menyatu, akan muncul generasi yang benar-benar maju. Sebaliknya, saat ilmu dan akhlak tak saling bertemu, yang ada hanya kemajuan semu. Penyair Sungai Nil Hafez Ibrahim mengingatkan:
Kala ilmu tak dibina etika, maka itu pertanda kegagalan akan tiba
Jangan kira ilmu dapat berguna, bilamana empunya ilmu tak beretika
Tunanetra Berdaya
Menulis di Īqāzhū Himami Ahlil ‘Āfiyah (Melecut Semangat Orang Sehat), Dr. Ibrahim Al-Hudhud menyebut pemilik riwayat bacaan Al-Quran paling populer sedunia, Imam Hafsh bin Sulaiman, sebagai sosok yang buta. Meski kemampuan fisiknya terbatas, semangat dan gairah Imam Hafsh dalam belajar Al-Quran tinggi; berusaha istikamah murajaah, dan tidak bosan menyetorkan bacaan Al-Qurannya berkali-kali. Hingga akhirnya, perjuangan Imam Hafsh memetik buah manisnya dengan menjadi nomor wahid di antara semua murid yang belajar pada Imam ‘Ashim.
Dari Imam Hafsh kita belajar, keterbatasan bukan halangan untuk meraih keberhasilan. Batasan bisa dilampaui dengan rutin latihan, karena ketekunan dan keberhasilan adalah dua sejoli yang bergandengan. Maka, dalam proses belajar atau mengaji, bekal kepintaran saja agaknya terasa kurang bila seorang pelajar tidak ulet menggeluti bidang yang sedang dipelajarinya.
Kesuksesan Imam Hafsh di tengah keterbatasannya, mengingatkan kita pada Syekh Muhammad Ahmad Hasan, siswa tunanetra Tsanawiyyah Al-Azhar yang baru lulus tahun ini. Berkat kegigihan dan dukungan orang tuanya, Syekh Muhammad telah menyelesaikan hafalan Qira'at ‘Asyr di usia mudanya. Sebagai bentuk penghargaan, Masjid Al-Azhar mengundang Syekh Muhammad untuk mengimami salat tarawih pada bulan Ramadan lalu, saat itu, jutaan pasang telinga takjub dan hanyut mendengarkan keindahan suara emasnya. Lebih dari itu, tahun 2024, Syeh Muhammad berhasil memenangkan Arab Reading Challenge, ajang kompetisi membaca tahunan yang dihelat pemerintah Dubai.
Tidak mudah bagi mereka yang diuji dengan keterbatasan fisik untuk beradaptasi. Tetapi dengan tekad kuat dan rasa percaya diri, mereka membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga bisa menggapai mimpi. Ini mengajarkan bagi kita yang sehat wal afiat agar tidak mudah bersambat pada hal kecil, bersyukur, dan berusaha memaksimalkan potensi untuk berkontribusi di bidang yang kita minati.
Al-Quran
Kumpulan tulisan dengan kata kunci Al-Quran dan cabang ilmunya bisa teman-teman temukan
di siniSabar dan Fokus
Dari kisah di atas, kita memang tak perlu memaksakan diri untuk menjadi seratus persen seperti mereka para imam. Karena setiap kita punya cerita yang tak persis sama. Walakin, ada nilai kehidupan dari mereka yang hingga kini masih relevan: sabar dan fokus. Keduanya merupakan kekuatan super di zaman yang lekat dengan serba cepat. Sabar dan konsisten berada di jalur Al-Quran ibarat mengetuk-ngetuk pintu; meski penuh rintangan, tak akan berakhir pada kesia-siaan. Sementara fokus belajar atau menghafal Al-Quran membuat kita memusatkan perhatian pada satu titik, sehingga capaian bisa lebih maksimal ketimbang multikerja.
Sunatullah
Tidak cukup tulisan ini mencakup semua tindak tanduk para imam qiraah. Namun, setelah membaca kiprah seluruh imam qiraah yang dikisahkan dalam buku Tarikh Al-Qurrā' Al-‘Asyarah, dapat dipahami bahwa tradisi berguru dalam belajar Al-Quran mutlak diperlukan sekali, baik yang terkait dengan pelafalan (riwāyah) dan pemahaman (dirāyah). Selain menjadi pemandu pikiran, guru juga berfungsi sebagai kompas moral. Maka, baik buruknya tingkah laku juga ditentukan oleh guru. Seolah menjadi sunatullah: orang yang belajar agama dengan bimbingan guru akan selamat, sedangkan yang belajar agama otodidak berisiko tersesat.
※ Pertalian Ilmu Qiraat dan Ilmu Nahwu
Mendidik Diri Sendiri
Membaca jejak hidup ulama salaf saleh adalah seni mendidik diri sendiri yang kadang bimbang saat melihat gelombang ujian zaman. Dalam bukunya, Min Dafatirī Al-Qadīmah, Grand Imam Prof. Dr. Ahmad Ath-Thayyib berpesan dengan mengutip petuah Imam Malik:
Takkan baik keadaan umat Islam generasi akhir kecuali dengan mengikuti jejak baik generasi awal umat.
Karena itu, peran penerbit seperti Mujawirin dan komunitas Sarkub Mesir dalam mengenalkan jasa dan akhlak ulama Al-Azhar sangat layak dihargai dan diapresiasi.
Sungguh mendengar kisah hidup ulama Al-Quran dan menyelaminya, bak berdiri di depan kacabenggala nan bening bercahaya. Darinya, kita bisa berkaca diri tentang kualitas hidup kita (Para Penjaga Al-Quran, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2011). Semoga Allah merahmati ulama kita dan memberi taufik kita untuk meniru laku hidup mereka, amin.