Peringatan Nuzulul Quran dan Perang Badar merupakan dua peristiwa besar dalam sejarah Islam yang penuh makna dan simbol kemenangan. Keduanya menjadi momentum bagi umat Islam untuk merefleksikan berkah dan pertolongan Allah SWT. Dalam tulisan ini, kita akan membahas makna dan signifikansi dua peristiwa ini serta peran Syekhul-Azhar dalam memperingati hari-hari bersejarah tersebut.
Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat istimewa. Tak heran jika ia memiliki berbagai nama yang mencerminkan ciri khas dan keutamaannya. Salah satu nama yang paling populer adalah Syahrul Qur’an (Bulan Al-Quran), karena di dalamnya Al-Quran pertama kali diturunkan. Syekh Ahmad Umar Hasyim dalam ceramahnya di sela-sela salat Tarawih di Masjid Al-Azhar menegaskan bahwa turunnya Al-Quran merupakan nikmat agung, dan puasa di bulan Ramadan merupakan salah satu bentuk syukur atas nikmat ini.
Peristiwa turunnya Al-Quran di bulan Ramadan disebutkan secara eksplisit dalam Surah Al-Baqarah ayat 185. Penjelasan lebih rinci ditemukan dalam Surah Al-Qadr ayat 1 dan Surah Ad-Dukhan ayat 3, yang menyebutkan bahwa Al-Quran diturunkan pada malam Lailatul Qadar. Meski dalam Surah Ad-Dukhan digunakan istilah Lailah Mubarakah (malam penuh keberkahan), mayoritas ulama menafsirkannya sebagai Lailatul Qadar.
Malam Lailatul Qadar sendiri masih menjadi misteri. Banyak riwayat hadis menyebut berbagai kemungkinan tanggalnya, seperti malam ke-1, 9, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan. Jika merujuk pada riwayat-riwayat ini, maka turunnya Al-Quran juga terjadi pada salah satu malam tersebut.
Para ulama mengkategorikan turunnya Al-Quran dalam dua tahap utama: Jumlatan (turun sekaligus) dan Munajjaman (turun secara berangsur). Al-Quran turun secara keseluruhan dari Al-Lauh Al-Mahfudz ke Bait Al-‘Izzah, lalu diturunkan secara bertahap kepada Rasulullah SAW. Beberapa ulama juga menambahkan satu tahap sebelumnya, yakni ketika Al-Quran turun ke Al-Lauh Al-Mahfudz sebelum akhirnya disampaikan berangsur ke dunia.
Mayoritas ulama, mengikuti pendapat sahabat Ibnu Abbas, meyakini bahwa turunnya Al-Quran secara keseluruhan terjadi pada malam Lailatul Qadar. Adapun mengenai ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, terdapat perbedaan pendapat, dengan sebagian ulama menyebut tanggal 17, 18, atau 24 Ramadan sebagai kemungkinan turunnya Surah Al-‘Alaq.
Pendapat yang menyatakan 17 Ramadan merujuk pada Surah Al-Anfal ayat 41, yang menyebut Yaum Al-Furqan (Hari Pembeda), yakni hari bertemunya dua pasukan dalam Perang Badar. Karena Perang Badar terjadi pada 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriyah, sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Quran juga pertama kali diturunkan kepada Rasulullah SAW pada tanggal tersebut. Inilah alasan mengapa peringatan Nuzulul Quran sering digelar pada 17 Ramadan.
Selain peringatan Nuzulul Quran, tanggal ini juga menjadi momentum peringatan Perang Badar, yang dalam Al-Quran disebut sebagai Yaum Al-Furqan, hari kemenangan kebenaran atas kebatilan. Peristiwa ini menjadi bukti nyata pertolongan Allah kepada kaum muslimin yang saat itu berjumlah sedikit namun berhasil mengalahkan pasukan Quraisy yang jauh lebih besar. Sudah selayaknya hari mulia seperti ini diperingati oleh segenap umat Islam.
Sejarah mencatat bahwa banyak kemenangan umat Islam terjadi di bulan suci Ramadan, seperti kemerdekaan Republik Indonesia dan kemenangan Mesir dalam merebut Sinai. Namun, Perang Badar tetap menjadi yang paling monumental karena jika kaum muslimin kalah—na’udzubillah—maka eksistensi Islam beserta seluruh pemeluknya saat itu bisa terancam. Wajar jika para sahabat yang ikut dalam Perang Badar masuk kategori sahabat yang paling mulia.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniDalam memperingati Perang Badar, para ulama menggunakan berbagai metode, salah satunya dengan menceritakan sejarahnya serta menyebutkan nama-nama dan biografi para sahabat yang tergabung dalam pasukan Badar. Menyebut nama mereka dipercaya dapat menjadi wasilah terkabulnya doa dan mengalirnya keberkahan. Di Nusantara, tradisi ini diwujudkan dalam bentuk Shalawat Badar, yang berisi doa dengan tawasul kepada para ahli Badar.
Sejarah Perang Badar telah banyak dikaji oleh ulama, termasuk oleh Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syubrawi (w. 1171 H) dalam kitabnya Syarh Ash-Shadr bi Akhbar Ghazwah Badr. Kitab ini terbagi dalam mukadimah, dua bab utama yang terdiri dari lima fasal, serta bagian penutup.
Dalam pendahuluan, Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syubrawi menjelaskan sirah Baginda Rasul SAW mulai dari lahir hingga hijrah ke Madinah. Bab pertama berisi tiga fasal dengan pembahasan sebagai berikut. Fasal pertama mengulas latar belakang Perang Badar, mencakup Perang ‘Usyairah, mimpi Sayidah ‘Atikah binti ‘Abdulmuththalib, persiapan orang Quraisy untuk perang, mimpi Juhaim bin Shalt, keluarnya Rasulullah SAW bersama para sahabat menuju kafilah dagang Quraisy, serta musyawarah Rasulullah SAW dengan para sahabat. Fasal kedua membahas berbagai peristiwa yang terjadi dalam Perang Badar, seperti pengiriman intelijen dari pihak muslim dan Quraisy, penguasaan posisi strategis oleh pasukan muslim, turunnya malaikat untuk memperkuat barisan kaum muslimin, hingga bertemunya kedua pasukan dan keterlibatan malaikat dalam pertempuran. Fasal ketiga mengupas musibah yang menimpa Quraisy setelah perang serta keinginan mereka untuk menuntut balas. Salah satu pembahasan utama dalam fasal ini adalah bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan tawanan Quraisy pasca perang.
Bab kedua terdiri dari dua fasal, yaitu fasal keempat dan fasal kelima. Pada fasal keempat, Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syubrawi membahas berbagai karamah para sahabat ahli Badar. Sementara itu, fasal kelima berisi daftar nama sahabat ahli Badar yang disusun berdasarkan urutan huruf mu’jam serta dikategorikan sesuai kelompoknya, yakni Muhajirin dan Anshar, baik dari suku Aus maupun Khazraj. Kitab ini kemudian ditutup dengan pembahasan tentang nasab Rasulullah SAW, kondisi kedua orang tua beliau, serta peperangan lain yang beliau pimpin hingga wafat. Berdasarkan struktur pembahasannya, kitab ini dapat dikategorikan sebagai kitab sirah yang ringkas, karena mayoritas isinya berfokus pada Perang Badar.
Selain Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syubrawi, Syekhul-Azhar Muhammad bin Salim Al-Hifni (w. 1181 H) juga menulis tentang Perang Badar dalam karyanya Ats-Tsamrah Al-Bahiyyah fi Ash-Shahabah Al-Badriyyah. Kitab ini diterbitkan oleh Mathba‘ah Al-Anwar pada 1940 M dan dilengkapi dengan dua mukadimah, salah satunya ditulis oleh Syekhul-Azhar Mushthafa Abdurraziq. Fokus utama kitab ini adalah menyusun daftar nama para sahabat ahli Badar secara sistematis, lengkap dengan cara baca nama dan biografi mereka. Kemudian, beliau mengakhiri kitabnya dengan tawasul dengan nama-nama agung ini.
Dalam mukadimahnya, Syekhul-Azhar Muhammad bin Salim Al-Hifni menyatakan bahwa sebagian karya tentang sahabat ahli Badar kurang komprehensif dalam mencantumkan cara baca nama-nama mereka, sementara sebagian lainnya terlalu panjang dan melebar ke topik lain. Oleh karena itu, beliau menulis Ats-Tsamrah Al-Bahiyyah sebagai referensi yang lebih sistematis dan mudah dipahami.
Dari dua karya Syekhul-Azhar di atas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa memperingati Perang Badar adalah tradisi yang dianjurkan. Kemenangan dalam perang ini merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri oleh umat Islam, baik dengan mempelajari sejarahnya, menyebut nama-nama para sahabat ahli Badar, membaca biografi mereka, maupun dengan bertawassul dan bertabarruk kepada mereka.
Peringatan Nuzulul Quran dan Perang Badar adalah kesempatan bagi kita untuk meneguhkan kembali nilai-nilai perjuangan dan keimanan. Dengan memahami makna dan signifikansi dua peristiwa ini, kita dapat meningkatkan ketakwaan dan penghambaan kepada Allah SWT. Semoga tulisan ini dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk terus meneladan semangat perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabatnya, juga menjadi motivasi bagi kita untuk menjadi umat Islam yang lebih baik.
