Mufti Agung Mesir: Al-Azhar Berdiri di Atas Tiga Prinsip

TAWAZUN.ID — Syekh Dr. Syauqi 'Allam, Mufti Agung Republik Arab Mesir sekaligus Ketua Umum Asosiasi Lembaga-lembaga Fatwa Internasional menyebutkan bahwa al-Azhar itu berdiri di atas tiga prinsip secara metodologis bagi setiap orang yang mengaku Azhari. Mufti Agung Mesir menyampaikan pesan ini dalam pembukaan salah satu seminar yang diikuti oleh para imam dari Aljazair, di Masjid An-Nur, Al-'Abbasiyah, Kairo, Mesir. Orang yang menyalahi tiga prinsip tersebut tidak bisa dikatakan Azhari sekalipun ia memakai peci Al-Azhar. Tiga prinsip tersebut ialah: pertama, akidah Asyariyyah yang diakui Al-Azhar dan mayoritas umat Islam. Kedua, menyatakan diri untuk ikut salah satu mazhab fikih dari empat mazhab yang masyhur. Ketiga, memiliki orientasi tasawuf dalam laku (suluk) dan upaya membersihkan jiwa.

Sang mufti juga menambahkan, "Kita hari ini sedang butuh pada akal (rasionalitas) yang ilmiah sekaligus memiliki keahlian. Oleh sebab itu, kita harus semua butuh akal-akal kita sesuai standar metodologi yang akurat. Hal itu bukan diperoleh hanya dalam tempo sehari semalam, melainkan melalui rentang waktu yang lama. Tidak mungkin hanya dalam satu hari satu malam, kita mengklaim diri kita mampu mengeluarkan fatwa. Sebab terlebih dahulu kita membutuhkan sebuah riset pada realitas yang dinamis. Oleh sebab itu fatwa bersifat berubah-ubah menyesuaikan dengan empat sisi: ruang, waktu, keadaan, dan subjek personal yang bersangkutan."

Lingkungan

Kumpulan tulisan yang mengangkat isu lingkungan dapat teman-teman baca

di sini

Pun beliau menyampaikan, bahwa telah diketahui bersama, para ulama adalah lumbung umat Islam. Mereka adalah lentera petunjuk di malam-malam yang gelap. Begitu pula ulama adalah tempat berlindung bagi umat Islam yang menentramkan, di mana umat Islam memohon pertolongan kepada mereka. Sebab ulama adalah pembawa hukum Tuhan semesta alam, pewaris para nabi dan rasul yang kemudian memberi makna bahwa kedudukan ini adalah semata-mata pilihan dari Allah dan kemuliaan dari-Nya. Tetapi di saat yang sama, kedudukan itu memiliki beban besar, urgensitas yang besar. Oleh sebab itu, ulama yang Allah tempatkan di kedudukan para pewaris Nabi Muhammad, wajib memahami kedudukan ini sebagai perintah dari Allah dan mempersiapkannya dengan maksimal.

Islam Menyikapi Praktik Perdukunan
Masyarakat Indonesia heboh dengan adanya perseteruan seorang dukun vs pesulap merah. Sejatinya, bolehkah umat Islam minta pertolongan pada dukun?

Pesan-pesan ini terangkum dalam pidato Syekh Syauqi 'Allam pada pembukaan seminar ilmiah internasional bagi imam-imam Aljazair yang merupakan program Kementerian Wakaf Mesir. Kegiatan itu dihadiri di antaranya oleh Mufti Republik Mesir Syekh Syauqi 'Allam dan Syekh Khalid Al-Jundi, anggota Majelis Tinggi untuk Urusan Islam.

Pada momen itu juga, Mufti Agung Mesir menyampaikan banyak apresiasi kepada Syekh Dr. Muhammad Mukhtar Jumu'ah, Mentri Agama Mesir, yang telah mengadakan seminar ilmiah yang menjadi salah satu program penting di antara kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya di Republik Arab Mesir. Apresiasi juga disampaikan terkait peran Mentri Wakaf Mesir dalam menyebarkan pemikiran moderat yang mencerahkan, baik di dalam Mesir, maupun di luar negeri. Begitu pula atas kedekatan hubungan antara Mesir dan Aljazair. "Sebagai negara yang masih saling berjalinan secara wilayahnya, kita, baik Mesir maupun Aljazair, butuh sudut pandang yang lebih luas dalam menganalisis problem realitas." (lhr)


💡
Baca juga BERITA terbaru atau pilih ragam tulisan lain di Situs Tawazun ID