Masjid Al-Aqsha terus menjadi sasaran pelanggaran dan provokasi dari pihak Zionis sepanjang tahun 2024. Setelah empat bulan pertama yang dipenuhi insiden, empat bulan berikutnya tidak kalah menegangkan, diwarnai oleh aksi-aksi yang semakin sistematis dan terorganisir.
Melanjutkan kronik pertama yang mengulas empat bulan pertama, berikut adalah kronik peristiwa yang terjadi di Masjid Al-Aqsha selama Mei hingga Agustus 2024, berdasarkan laporan Unit Pemantauan Bahasa Ibrani Lembaga Observasi Al-Azhar.
i. Mei 2024: Pengibaran Bendera Zionis
Pada 14 Mei, lebih dari 4.200 orang Zionis menyerbu pelataran Masjid Al-Aqsha, mengibarkan lebih dari 500 bendera Zionis di area suci umat Islam ini. Aksi ini dikemas sebagai perayaan kemerdekaan Zionis dan diiringi ritual Talmud serta nyanyian kebangsaan Israel. Aparat keamanan Israel melarang umat Islam untuk beribadah di area tersebut selama berlangsungnya aksi.
Parade bendera Zionis kembali digelar pada 5 Juni, yang disebut sebagai "Hari Al-Quds." Peristiwa ini semakin mempertegas upaya menghapus identitas Arab dan Islam dari Masjid Al-Aqsha.
※ Spirit Isra Mi'raj dalam Menyelamatkan Bumi
ii. Juni 2024: Ritual dan Penahanan
Pada 5 Juni, ribuan peserta parade Zionis memasuki lorong-lorong Kota Tua Al-Quds dan mendekati Bab Al-‘Amud yang mengarah langsung ke Masjid Al-Aqsha. Insiden ini tidak hanya melibatkan masyarakat sipil, tetapi juga sejumlah pejabat Israel, seperti Ben Gvir dan Bezalel Smotrich, yang dengan provokatif ikut serta. Sebanyak 1.500 peserta bahkan merangsek masuk ke pelataran Masjid dan mengibarkan bendera Zionis.
Pada 12 Juni, 700 orang Zionis memasuki Masjid Al-Aqsha di bawah pengawalan ketat aparat keamanan untuk memperingati turunnya Taurat, sementara umat Islam terus mengalami pembatasan akses dan penahanan.
iii. Juli 2024: Pidato Provokatif dan Ritual Kontroversial
Sebanyak 3.739 orang Zionis memasuki pelataran Masjid Al-Aqsha selama Juli. Salah satu insiden menonjol adalah pidato provokatif oleh Ben Gvir di dalam Masjid pada 18 Juli. Beberapa hari kemudian, pada 23 Juli, ratusan orang Zionis memperingati apa yang mereka sebut sebagai "Hari Babilonia," sebuah ritual yang dianggap mencemarkan tempat suci ini.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniiv. Agustus 2024: Eskalasi dan Propaganda
Bulan Agustus mencatat rekor pelanggaran, dengan lebih dari 7.000 orang Zionis memasuki Masjid Al-Aqsha. Pada 11 Agustus, ratusan orang mengelilingi kompleks Masjid dalam aksi yang mereka sebut sebagai "Rentetan Kemenangan," menuntut kendali penuh atas Masjid Al-Aqsha.
Puncaknya terjadi pada 13 Agustus, ketika hampir 3.000 orang Zionis memperingati runtuhnya Kuil Sulaiman dengan ritual di pelataran Masjid. Pada 25 Agustus, ritual Talmud dipimpin oleh Rabi Israel Wolfenson semakin menunjukkan upaya sistematis untuk mengubah identitas Al-Aqsha.
Selain itu, propaganda melalui media juga meningkat. Organisasi Biadino meluncurkan situs web berbahasa Arab untuk mempromosikan Al-Aqsha sebagai kuil Yahudi, sebuah langkah yang bertujuan menghapus identitas Islam dan Arab dari tempat suci ini.
Menghadapi Ancaman di Masjid Al-Aqsha
Rentetan pelanggaran di Masjid Al-Aqsha selama empat bulan kedua 2024 mencerminkan eskalasi konflik yang sistematis dan terencana. Tempat suci ini tidak hanya menghadapi ancaman fisik, tetapi juga perang propaganda yang berupaya mengubah sejarahnya. Dukungan dan solidaritas umat Islam di seluruh dunia sangat diperlukan untuk menjaga kehormatan Al-Aqsha sebagai simbol kebesaran Islam.
