Skip to content

Peran Masjid Al-Azhar Dalam Menangkal Terorisme

Belakangan ini terorisme atas nama agama Islam tumbuh subur di berbagai negara. Bagaimana peran Masjid Al-Azhar dalam menangkal terorisme ini?

FOTO Syekh Ahmad Ma'bad Abdulkarim, guru besar hadits Universitas Al-Azhar.
FOTO Syekh Ahmad Ma'bad Abdulkarim, guru besar hadits Universitas Al-Azhar.

Belakangan ini terorisme yang mengatasnamakan agama Islam tumbuh subur di berbagai belahan dunia. Ideologinya telah masuk ke berbagai negara. Bagaimana peran Masjid Al-Azhar dalam menangkal terorisme yang mengatasnamakan Islam?

Teks Terjemahan Syekh Ahmad Ma'bad Abdulkarim

Para siswa di Al-Azhar, mereka semua adalah anak-anak desa. Seorang penyair, kalau tidak salah Ahmad Syauqi atau Hafizh:

"Guncanglah desa-desa" maksudnya wahai para siswa Al-Azhar

"Wahai pemuda (Al-Azhar), ucapan kalian telah menyebar"

"...melalui mulut-mulut para pengembara, bak semerbak wangi minyak Anbar"

"Guncanglah desa-desa, berangkat dari goa (kahfi) dan catatan (raqimnya)"

"Kalian, demi Allah, adalah anak-anak desa"

"Ada orang lalai dan ummi yang berbicara di samping kalian"

"...seperti burung beo yang mengulang-ulang"

"Kalau kalian mengatakan: pilihlah orang bodoh untuk menjadi wakil"

"...atau orang gagap untuk berpidato, maka ia akan terpilih"

Karenanya, anak-anak Al-Azhar dan apa yang tersiar di sekitar mereka, bahwa mereka adalah teroris atau berideologi teroris, saya, dari rekaman Anda ini, sebagai orang tua, sejak tahun 1961 Masehi, tidak menemukan seorang Azhari, baik siswa maupun pengajar yang memiliki persoalan ideologi (teroris).

Polisi juga tidak menemukan dari Aswan sampai Al-Iskandariyyah satu Azhari pun yang melakukan pelanggaran (terorisme). Bahkan, di mana pun Al-Azhar berada, maka akan ada pendidikan, akan ada pikiran, akan ada bimbingan, akan ada yang menjadi imam salat.

Ini adalah risalah mereka. Dan dengan ajaran yang sama yang diajarkan sampai tahun 1961, itulah yang mereka serang sekarang. Kenapa ia tidak melahirkan teroris? Karenanya terorisme seluruhnya adalah pendatang di Mesir.

Mesir terbiasa untuk menerima yang lain. Bahkan orang-orang yang sebelumnya memeranginya, dengan berjalannya waktu, mereka pun hidup bersama. Ada juga yang terpaksa memakai pakaian Arab. Karena mereka tahu bahwa mereka tidak akan dapat mengikuti masyarakat kecuali dengan ini.

Karenanya, risalah Al-Azhar terjaga. Barangsiapa yang mengganggunya, maka adakalanya karena dia tidak membaca, adakalanya tidak mendengar, adakalanya yang dibayar. Tidak keluar dari tiga poin ini.

Mereka yang dibayar, kami tidak ingin berdebat dengan mereka. Tetapi yang tidak membaca dan tidak mendengar, kita ajak agar mereka mau membaca dan mendengar. Sampai ia dapat mengetahui penyimpangan, bahwa itu tidak mungkin dari Al-Azhar, baik sekarang atau dahulu.

💡
Simak terjemahan lain di kanal YouTube Tawazun ID dan Subscribe untuk mengikuti update terkini.

Penerjemah: Ahmad Nasrullah
Penyelaras: M. Ali Arinal Haq

Latest