Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi menjelaskan perbedaan mendasar antara maksiat Nabi Adam dan maksiat Iblis.
Sekilas, keduanya sama-sama melanggar perintah Allah. Namun hakikatnya, dua pelanggaran itu sangat berbeda. Adam mengakui kesalahannya tanpa ragu. Setelah tergelincir, ia berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri.” Ia tidak mencari-cari alasan, tidak membantah, dan tidak melemparkan kesalahan kepada siapa pun. Ia mengakui bahwa perintah Allah itu benar dan justru dirinyalah yang khilaf.
Berbeda dengan Iblis. Ia melakukan pelanggaran, tetapi menolak mengakuinya. Ia justru berusaha membenarkan maksiatnya dengan logika dan kesombongan. Iblis berkata, “Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah? Aku lebih baik darinya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan ia dari tanah.” Ucapannya bukan sekadar alasan, tetapi penolakan terhadap perintah Allah itu sendiri.
Maka, perbedaan antara maksiat Adam dan maksiat Iblis sangat jelas: Adam tidak menyangkal perintah Allah, bahkan ia menegaskan bahwa perintah Allah adalah benar; ia sendirilah yang menzalimi diri. Iblis justru menyangkal perintah Allah, menuduh perintah itu tidak layak, dan membenarkan kesombongannya.
Inilah yang membedakan antara kesalahan yang diikuti dengan tobat, dan kesalahan yang dipertahankan dengan kesombongan. Adam diangkat kembali karena kejujuran dan kerendahan hatinya. Iblis terlaknat karena pembangkangannya.
