Skip to content

Peringati Tahun Baru Hijriah, Masjid Al-Azhar Gelar Kuliah Umum

Masjid Al-Azhar merayakan tahun baru Hijriah dengan kuliah umum di masjid. Para syekh menyampaikan pelajaran yang dapat diambil dari Hijrah Nabi.

FOTO Para ulama Al-Azhar dalam peringatan tahun baru Hijriah 1444 H.
FOTO Para ulama Al-Azhar dalam peringatan tahun baru Hijriah 1444 H.

TAWAZUN.ID — Pada Senin (1/8/2022) sore kemarin, Masjid Al-Azhar menyelenggarakan kuliah umum mengenang peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW sekaligus peringatan awal tahun baru Hijriah 1444 H. Kuliah umum ini mengangkat tema Ad-Durus Al-Mustafadah min Al-Hijrah An-Nabawiyyah (Pelajaran-pelajaran yang Dapat Diambil dari Peristiwa Hijrah Nabi).

Hadir sebagai pembicara dalam seminar ini Syekh Dr. Abbas Syuman, mantan Wakilul-Azhar yang kini menjabat sebagai ketua Al-Lajnah Al-‘Ulya li Al-Mushalahah Ats-Tsa’riyyah, sebuah lembaga di dalam Al-Azhar yang spesifik menangani penyelesaian konflik antar kabilah, baik dalam negeri Mesir maupun internasional. Selain itu, hadir pula Syekh Prof. Dr. Abdulmun’im Fuad, guru besar Akidah dan Filsafat yang menjabat penyelia umum program-program riwaq di Masjid Al-Azhar. Adapun Syekh Hani ‘Audah yang merupakan direktur umum Masjid Al-Azhar bertindak sebagai moderator.

Menelaah Makna Hijrah
Sekilas menyelisik makna hijrah dari mula-mula di era Nabi hingga dewasa ini.

Pada awal acara, Syekh Abdulmun’im Fuad menyatakan bahwa dengan perayaan ini, Al-Azhar dan segenap ulama ingin menyampaikan ke seisi dunia bahwa Nabi Muhammad SAW datang untuk menyatukan manusia. “Tiada sehari pun Baginda Nabi bertindak tak elok, keji, atau kasar bahkan dalam bertutur. Beliau menjunjung tinggi manusia dengan penuh kasih sayang.” kata Syekh Abdulmun’im Fuad. Ia juga menyinggung bahwa Hijrah erat kaitannya dengan peristiwa pengutusan (bi’tsah). Nabi Muhammad SAW sudah mengetahui akan terjadinya Hijrah namun hal itu tak akan terlaksana tanpa seizin Allah SWT.

Guru besar Akidah dan Filsafat yang juga merupakan anggota majelis redaksi Majalah Al-Azhar periode kali ini juga menyatakan bahwa di zaman ini terdapat sebagian orang yang menyangsikan peristiwa Hijrah. Meski demikian, hal itu tidak lantas mengurangi keutuhan agama Islam. Dari peristiwa ini pulalah muncul pelajaran pertama yang bisa diambil dari Rasul, yakni bersabar atas perlakuan buruk kaum. “(Nabi bersabar), kita juga harus bersikap sabar. Nabi juga berupaya sekuat mungkin dengan amal dan usaha (demi mencapai tujuan), maka kita juga harus maksimal berupaya hingga Allah SWT memberi kita pertolongan, sebagaimana Dia memberi pertolongan kepada Baginda Nabi SAW.”

Rasulullah

Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan

di sini

Dalam sesi selanjutnya, Syekh Dr. Abbas Syuman menyampaikan bahwa setiap kali zaman baru datang, maka tampak pula (pelajaran) yang baru dari peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW. Ia juga menegaskan betapa perjuangan Nabi dan para sahabat begitu hebat demi agama Islam. “(Selain itu, terdapat juga pelajaran) bahwa meninggalkan tanah air itu termasuk suatu hal yang paling menyiksa. Perasaan yang tidak benar-benar dirasakan oleh seseorang kecuali ia sedang ke luar negerinya. Bisa jadi ucapan Rasul SAW saat keluar dari tanah airnya itulah kalimat paling kuat yang menunjukkan kecintaan Rasul kepada negerinya.”

Hunian Orang-orang Jawi di Masjid Al-Azhar
Dalam sejarahnya, masjid Al-Azhar mengenal sistem hunian yang bernama riwaq. Riwaq Al-Jawiyyah untuk para pendatang dari Kepulauan Nusantara salah satunya.

Penting untuk disampaikan, sejak resmi selesai dari proses renovasi besar-besaran, Masjid Al-Azhar tidak lagi berada di bawah pengelolaan Kementerian Wakaf Mesir. Masjid yang sangat ikonik dalam dunia pendidikan Islam ini sejak saat itu langsung dikelola di bawah koordinasi Masyakhah Al-Azhar yang dipimpin oleh Syekh Ahmad Ath-Thayyib.

Sebagaimana rilis dari Al-Azhar, acara peringatan tahun baru Hijriah ini pun terlaksana sesuai arahan Imam Akbar Syekhul-Azhar Prof. Dr. Ahmad Ath-Thayyib kepada segenap ulama Al-Azhar. Beliau mengamanatkan kepada para ulama agar turun ke medan kehidupan di tengah masyarakat. Hal ini kiranya agar para ulama dapat menangkap kegelisahan masyarakat seputar permasalahan agama di masa ini dan menjawab segenap problematika dengan pandangan islami. (hid)


💡
Baca juga warta lain di rubrik AKHBAR atau pilih ragam tulisan di Tawazun

Latest