Pernah nggak merasa gelisah tanpa tahu sebabnya? Atau merasa lelah, padahal tidak melakukan banyak hal? Inilah anomali penyakit arus media sosial: notifikasi, komentar, chat, dan tren viral yang tak kunjung usai. Efeknya, kita mudah cemas, iri, lelah, overthinking, bahkan overprotektif. Akhirnya, kita justru merasa sunyi dan jauh dari diri sendiri.
Di tengah riuhnya media sosial, kita butuh tirakat. Bukan tirakat ala orang dulu dengan semedi, melainkan tirakat media sosial. Bukan puasa makan-minum, tapi puasa dari notifikasi, scrolling, komentar, serta candu terhadap like dan viewers.
Berikut 7 tips sederhana untuk melakukan “tirakat” media sosial:
1. Batasi Aktivitas Digital Harian dengan Niat.
Islam mengajarkan kita memulai segala sesuatu dengan niat. Begitu juga, kita butuh niat dan tekad yang kuat terlebih dahulu untuk mengontrol aktivitas gawai harian. Niat itu kemudian diwujudkan dengan mengatur durasi gadget harian. Kita menyisihkan waktu digital detox, misalnya 1-2 jam tiap harinya tanpa gawai.
Nabi bersabda, “Di antara tanda kesempurnaan Islam seseorang, adalah saat ia meninggalkan apa yang tidak berguna baginya, (HR. At-Tirmidzi)
2. Adab Digital: Jaga Jari dan Jaga Hati
Saat berselancar di media sosial, akan muncul hasrat untuk mengomentari, membagikan, mengklik tiap postingan. Di situlah seringkali muncul pikiran iri, dengki, hingga kebencian akan postingan tertentu. Bahkan sampai pada menyebarkan hoax dan fitnah terhadap orang tertentu. Maka, adab digital di sini diperlukan. Jaga hati dan tangan kita untuk tidak sembarang mengomentari atau menyebarkan sesuatu di media sosal.
3. Luangkan Waktu Tanpa Gawai Setiap Hari
Sisihkan waktu harian kita “offline” tanpa gawai. Lakukan kegiatan-kegiatan positif lainnya, seperti olahraga, membaca buku, menulis, silaturrahmi, ataupun waktu untuk diri kita sendiri dengan merenung, menulis diary. Selain membuat mata dan akal kita sehat, ini juga akan membuat waktu hidup tidak terbuang sia-sia untuk aktivitas gawai. Hidup kita kemudian lebih teratur dan berharga.
4. Perbanyak Zikir Sebagai Penyeimbang Pikiran
Sebagai muslim, tempat terbaik untuk menenangkan diri adalah kembali kepada Allah SWT. Yaitu dengan berzikir mengingatnya dengan lafadz-lafadz tertentu yang dianjurkan Nabi SAW. Dengan melafalkan istighfar, shalawat, tasbih, dan tahmid, tidak hanya pahala yang kita dapatkan, namun juga ketenangan batin yang luar biasa. Hati dan pikiran kita seketika kembal jernih. Jika makanan adalah asupan untuk tubuh saat lapar, maka zikir adalah asupan hati saat ia keruh dan gelisah.
5. Kurangi dan Aturlah Konsumsi Informasi Media Sosial
Pikiran kita akan mudah dipengaruhi oleh informasi-informasi yang kita lihat di gawai. Apa yang muncul di beranda Instragram, TikTok, dan X sangat rentan memengaruhi pola pikir kita. Penyakit butuh validasi, overthinking, dan fomo tren medsos semua lahir dari konsumsi medsos yang tidak diatur. Batasi konsumsi informasi baik dari video atau postingan yang kita lihat, maka psikis dan pikiran kita akan lebih sehat.
6. Berlatih Hening: Tafakkur 5 menit setiap Hari
Akibat gawai, banyak orang kehilangan waktunya untuk diri sendiri. Ia kehilangan jati dirinya, ia asing dengan dirinya. Maka luangkan waktu setidaknya 5 menit untuk berdialog dengan diri sendiri. Menepi untuk lebih mengeti diri dan mencari ketenangan. Ruang dimana kita bisa mengambil jeda, berhenti sebentar dan duduk dengan tenang.
7. Perbanyak Ngobrol Antar Manusia, Bukan Akun
Gawai seringkali menjauhkan orang yang dekat di dunia nyata dimana orang sibuk dengan dunianya sendiri. Sibuk dengan gawainya. Maka perbanyak ngobrol atau silaturahmi dengan kolega, kawan atau keluarga dengan canda tawa. Buat kehangatan dari komunikasi nyata bukan melalui emoji chat.
