Imamah atau penutup kepala yang khas Al-Azhar tersusun dari warna putih, hitam, dan merah. Syekh Ali Jumu'ah menjelaskan rahasia di balik pemilihan warna-warna ini, khususnya warna merah. Beliau menjelaskan bahwa hal itu berbeda dengan merah yang ada dalam hadis: "Merah adalah warna pakaian setan."
Transkripsi Terjemahan Video Syekh Ali Jumu'ah
Apa rahasia penggunaan warna merah pada imamah Al-Azhar?
Ini bertentangan dengan sabda Nabi SAW, "Jauhilah kalian warna merah. Itu adalah pakaian setan"
Pertama, (yang perlu diluruskan) imamah Al-Azhar itu putih, bukan merah. Kebodohan ini yang membuat ia menyangka bahwa Tharbus (Fez) adalah... (imamah)
Ia menyangkanya apa? Itu adalah Imamah. Ini adalah bodoh yang kelewatan, yang tidak akan dilakukan oleh Azhari. Karenanya siapa pun yang dibiarkan menentang Al-Azhar dan tidak dilakukan apa pun padanya? Ia akan masuk dalam kesalahan.
Kita jelaskan kebodohannya. Ustaz yang bertanya ini tidak dapat membedakan antara imamah yang berasal dari Syam dan kopiah yang dipakai oleh Al-Azhar.
Kebodohan kedua, merah yang dilarang oleh Nabi SAW adalah merah murni. Artinya, semuanya mulai dari awal sampai akhir berwarna merah api. Maka, dia jadi seperti setan. Jadi, pemahamannya adalah seluruhnya berwarna merah api. Imamah merah berarti yang syalnya merah dan yang bagian lainnya merah.
Akan tetapi merah yang terdapat warna putih seperti syimagh (penutup kepala) milik orang Saudi. Seperti syimagh milik siapa? Orang Saudi. Itu dipakai oleh para syekh. Lalu apakah mereka setan? Mereka setan atau bukan? Lalu, yang dipakai Al-Azhar terdapat warna merah dan putih. Itu juga tidak murni warna merah.
Baik, warna merah menunjukkan apa dalam seni Islam? Dalam seni Islam warna emas melambangkan pengetahuan dan petunjuk. Karena ia adalah cahaya matahari. Matahari menerangi di waktu siang dan menerangi jalan manusia. Maka, ketika mereka ingin mewarnai mushaf mereka membuat warna emas, melambangkan petunjuk.
Biru mereka artikan tiada batas. Karena perintah Allah dan larangannya dan akhlak Islam adalah mutlak tidak dapat diubah.
"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil lebih dekat kepada takwa" [Surah Al-Maidah: 8]
Maka berbuat adillah bahkan kepada musuh. Dan kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat.
Hijau menunjukkan kemuliaan. Karenanya keturunan Sayidina Husain mengenakan imamah berwarna hijau. Dan hitam menunjukkan kehormatan.
Itu (سؤدد) berasal dari kata سواد, kehormatan.
Putih menunjukkan bersih dan jernih.
Lalu, bagaimana dengan merah?
Mereka mengatakan, untuk keindahan dan kebahagiaan. Karenanya mereka menggunakan warna merah yang dapat dibaca (menunjukkan) bahwa merah terdapat di tengah (moderat) yang mutlak. Dan ia adalah hasil dari hidayah. Mereka mengambil warna emas seperti ini, lalu sesuatu yang berwarna merah. Maka warna merah menunjukkan apa menurut salafusholih? Ia menunjukkan keindahan.
Al-Azhar memilih keindahan. Untuk menunjukkan bahwa kita tidak tertutup, seperti sebagian kelompok. Jangan tertawa... Kita beribadah dengan cara tersebut. Kalian membuat wajah orang lain tersenyum. Allah berkata melalui Nabi-Nya, "Senyum di hadapan saudaramu adalah sedekah."
Ini adalah perkataan Allah. Apa yang dikatakan Nabi adalah dari Allah. Tetapi tidak dibaca (seperti mushaf). Tetapi Nabi adalah pemilik dua wahyu (Al-Quran dan Hadis)
"...dan tiadalah ucapannya itu dari hawa nafsunya. Itu tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya, yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat (Jibril)." [Surah An-Najm: 5]
Dengan begitu, warna putih yang dililitkan ini dari Syam. Mengandung arti jernih dan keindahan. Dan warna merah... Merah itu yang menunjukkan keindahan. Berarti indah. Lalu zir (tali di atas Tharbus) berwarna hitam.
Kenapa zir berwarna hitam? Kemuliaan ilmu di atas seluruh kemuliaan.
Siapa yang mencicipinya akan merasakan. Siapa yang merasakannya akan mengambilnya.
"Yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama." [Surah Faathir: 28]
Ulama jamak dari apa? Alim (عالم).
Salah. Aliim (عليم). Ia bukan jamak dari عالم (orang yang tahu). Tetapi عليم (orang yang berilmu).
Di atas semua yang berilmu ada siapa? عليم, bukan عالم.
Berarti عليم jamaknya adalah علماء (ulama).
Seperti خبير jamaknya adalah خبراء.
Seperti شريف jamaknya adalah شرفاء.
Sementara عالم jamaknya adalah عالمون.
Tetapi عليم jamaknya adalah علماء.
Siapa yang takut pada Allah? Ulama. Karena ulama memiliki kejernihan.
Dan mereka memiliki keindahan. Mengajak manusia pada kemudahan, seperti halnya Rasulullah SAW juga mengajak pada kemudahan. Mereka juga memiliki kehormatan. Lalu, mereka membuat simbol dari hal itu dan meletakkannya pada imamah yang kalian lihat sekarang. Indah?
Mereka tidak menunggu saya untuk menjelaskannya mereka ingin kita mencela. Tapi saya tidak akan melakukannya. Mereka mengatakan kita setan.
Lihatlah kebutaan ini. Lihatlah. Dan lihatlah yang saya katakan.
Tidak buta. Tapi manis, baik. Kalian sudah tahu rahasia warna merah pada imamah? Wahai orang bodoh.
Bagaimana caranya saya sehari puasa dan sehari tidak, bersamaan dengan puasa Senin-Kamis? Tidak mungkin. Kalian melakukan keduanya? Lalu hari Jumatnya kosong dari puasa? Tentu ini satu cara dan ini cara lainnya.
Penerjemah: Ahmad Nasrullah
Penyelaras bahasa: M Ali Arinal Haq