Rajab dan Eskalasi Salat
Tak terasa, waktu telah bergulir cepat membawa kita masuk ke dalam momentum Rajab nan mulia. Yakni salah satu bulan yang diistimewakan dan diharamkan terjadinya perang di dalamnya. Di bulan Rajab ini pula kita awal mula dikenalkan dengan kewajiban salat fardu yang jumlahnya ada lima waktu. Oleh karenanya, kita kerap kali mendengar nasihat atau ceramah agama agar kita mengevaluasi ibadah salat begitu bulan Rajab mulia ini tiba.
Islam sebagai agama langit identik dengan pengimanan sesuatu yang gaib. Dalam Islam memang kita banyak diarahkan untuk mengimani sesuatu yang gaib nan transenden. Termasuk ihwal ketuhanan dan kenabian. Di bulan Rajab, terdapat pula momen peristiwa Isra Mi’raj sebagai salah satu media untuk lebih menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada hal-hal yang gaib, utamanya kemukjizatan Nabi Muhammad SAW terkait perintah salat. Tersebab titah salat lima waktu memang turun pada saat Rasulullah melaksanakan Mi’raj di bulan Rajab.
Begitu istimewanya salat, sehingga Allah SWT mewahyukan perintah salat tersebut di momen dan tempat yang istimewa, yakni pada saat Mi’raj di atas Sidratul Muntaha. Di sebuah tempat yang tidak pernah sekali pun terjadi kekufuran, syirik, dosa, ataupun maksiat-maksiat lainnya.
Salat sebagaimana kita tahu adalah satu laku ibadah transendental yang kali pertama akan diaudit oleh Allah SWT. Bahkan, selain akan diaudit pertama, salat juga akan menjadi parameter pertama dan menjadi tolok ukur pertama seorang hamba di hadapan Allah. Ini senada sabda Rasulullah SAW: “Inna awwala ma yuhasabu bihi al-‘abdu yaumal qiyamati min ‘ilmihi shalatuhu, fain shaluhat faqad aflaha wa anjaha, wa in fasadat faqad khaba wa khasara; Sesungguhnya hal pertama kali yang akan dihisab pada diri seorang hamba pada hari kiamat dari amaliahnya adalah salatnya. Jika salatnya baik, sungguh ia beruntung dan sukses. Jika rusak salatnya, sungguh ia menjadi orang yang merugi. (HR Abu Dawud, An-Nasai, dan At-Tirmidzi).
Salat juga merupakan pondasi atau pilar yang sangat penting agama Islam. Disebutkan bahwa, “Ra-sul amri Al-Islamu, wa ‘amuduhu As-Salatu, akhrajahu Ahmad wa Nasai wa Tirmidzi wa ghairihim, wa qala hadits Hasan Shahih; Induk dari segala perkara adalah Islam dan tiangnya adalah salat” (HR Ahmad, An-Nasaa’i, At-Tirmidzi, dan lain-lain. At-Tirmidzi berkata: Hadits ini Hasan Shahih).
Di bulan yang notabene menjadi tonggak sejarah permulaan perintah salat ini kiranya sangat relevan untuk kita mengevaluasi sejauh mana kualitas keimanan dan salat kita. Sudah baik dan tinggikah level kualitas salat kita? Sudah adakah eskalasi atau kenaikan level atas amaliah salat kita? Atau malah kita masih melaksanakan salat untuk sekadar menggugurkan kewajiban salat semata.
Nah, selanjutnya demi meningkatkan kualitas salat kita, seyogianya kita semua senantiasa fokus meningkatkan kualitas salat, tidak semata kuantitas salatnya sahaja. Sebab sampai sekarang masih cukup banyak umat Islam yang fokus dan terobsesi untuk lebih meningkatkan kuantitas salatnya. Misal dari yang awalnya hanya salat fardu, lantas ia menargetkan diri untuk melaksanan juga salat rawatib, salat duha, salat hajat, salat tasbih, salat taubat, hingga melaksanakan salat witir yang berjilid-jilid. Padahal jika salatnya terlalu difokuskan kepada kuantitas, bisa jadi itu justru akan menjadikan beban dalam menjalankannya. Salatnya pun menjadi sekadar “kaya” akan kuantitas, tapi fakir kualitas. Ini sebagaimana sabda Rasulullah dalam Haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: “Ya-ti ‘ala an-nasi zamanun yushalluna wala yushalluna; Akan datang suatu masa menimpa manusia, banyak yang melakukan salat, padahal sebenarnya mereka tidak salat”.
Ibadah salat sebagaimana diterangkan dalam berbagai sumber adalah amaliah ibadah personal yang ketika telah benar-benar memenuhi syarat, rukun, dan berbagai ketentuan yang melingkupinya akan bisa menjadi katarsis diri. Bahkan salat diyakini bisa membawa dampak perubahan sosial jika memang umat Islam telah fokus memperbaiki aspek kualitas salat, bukan semata kuantitasnya. Hal ini selaras dengan dawuh Gusti Allah SWT dalam Surah Al-Ankabut ayat 45: “Wa Aqim as-salata inna as-salata tanha ‘anil fahsya wal munkar; Dirikanlah salat, karena sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”
Dari ayat tersebut di atas, bahwa orang yang melakukan salat dengan benar, maka akan membuahkan komitmen untuk tidak berbuat keji dan mungkar. Jika semua orang punya komitmen tidak berbuat keji dan mungkar, niscaya akan segera tercipta ketenteraman dan kenyamanan bersama. Keadaan seperti ini bisa terjadi jika orang-orang telah fokus untuk melaksanakan kewajiban salat secara berkualitas, maka salat yang dilakukan akan benar-benar bisa dinikmati, khusyuk, efektif, dan akan berdampak pada perilaku, serta kualitas kehidupannya.
Dari perspektif hakikat, salat juga memiliki dimensi transendental, karena merupakan amaliah kulminasi yang di dalamnya berisi doa-doa untuk mendatangkan ketenangan dan ketentraman jiwa. Dalam Al-Quran Surath At-Taubah, Allah SWT berfirman: “Wa shalli ‘alaihim, inna salataka sakanun lahum, wallahu sami’un ‘alimun; Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surah At-Taubah:103).
Dalam keterangan berbeda, disebutkan juga bahwa salat yang dilaksanakan akan bisa membasuh kegersangan (jiwa) ibarat sungai yang mengalir airnya. Yaitu sebagaimana dari riwayat Jabir RA, ia berkata: bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Matsalu as-shalawatil khamsi kamatsali nahrin jarin ghamrin ‘ala babi ahadikum, yaghtasilu minhu kulla yaumin khamsa marratin, rawahu Muslim; Perumpamaan Salat lima waktu adalah ibarat sungai yang melimpah airnya, yang mengalir ke arah pintu rumah salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air tersebut setiap hari sebanyak lima kali.” (HR Muslim).
Pun tidak jauh berbeda, Rasulullah SAW dalam salah satu Haditsnya bersabda: “Wa ju’ilat qurratu ‘aini fis-shalati, akhrajahu Ahmad fi musnadihi wan-Nasai wal-Baihaqi fi Sunan wa shahahahu Al-Hakim fil mustadrak wa ghairihim; Telah dijadikan kesejukan mata dan jiwaku (kebahagiaanku) pada salat” (HR Ahmad dalam Musnadnya, An-Nasaa’i, Al-Baihaqi dalam As-Sunan, dan Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).
Tapi tak sedikit pula, orang-orang yang salat, namun dalam melaksanakannya masih belum sempurna rukun, syarat, dan sunnahnya, tidak pula menghayati arti dan tahu tujuan salatnya. Orang-orang yang salatnya seperti itulah orang-orang yang kemudian divonis termasuk orang yang celaka. ini sebagaimana dawuh Allah dalam Surah Al-Ma’un 4-7; “Fawailul lil mushallina alladzina hum ‘an shalatihim saahun, alladzina hum yura-un wa yamna’una al-ma’un; Celakalah orang yang salat, tetapi lalai akan (makna) salat mereka, yakni mereka yang riya' dan menghalangi pemberian bantuan.” (Surah Al- Ma’un 107: 4-7).
Wabakdu, mari kita tingkatkan terus kualitas keimanan, mari senantiasa kita perbaiki kualitas salat kita, begitu juga kualitas ibadah-ibadah kita yang lain. Terkhusus di bulan Rajab ini, mari kita perbaiki, kita evaluasi dan naikkan level kualitas ibadah salat kita. Agar salat menjadi ibadah yang benar-benar bisa membuahkan hasil nyata yang berdampak pada kehidupan diri, pun berdampak positif pada lingkungan dan masyarakat sekitar kita.