Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا حَدَّ وَلَا جُثَّةَ وَلَا أَعْضَاءَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَعَظِيْمَنَا وَقَائِدَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، التوبة: ٣٦
Jamaah salat Jumat Rahimakumullah…
Mengawali khutbah yang singkat ini, saya pribadi ingin berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri saya pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri kita dari segala hal yang dilarang dan diharamkan. Alhamdulillah, pada bulan Februari ini kita masih diberi kenikmatan dan kesehatan bisa menjumpai salah satu bulan mulia, yaitu bulan Rajab 1443 H. Hal ini tentu saja senantiasa perlu kita syukuri, terlebih karena bulan Rajab termasuk bulan yang dimuliakan oleh Allah.

Bulan Rajab, sebagaimana firman Allah SWT adalah termasuk salah satu dari bulan-bulan yang populer dengan istilah Al-Asyhur Al-Hurum; bulan-bulan haram, alias bulan-bulan yang mulia. Bulan-bulan mulia tersebut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surah At-Taubat ayat 36:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، التوبة: ٣٦
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah SWT adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah tatkala Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (Q.S. At-Taubah: 36).
Jamaah salat Jumat Hafidhakumullah…
Dalam menyambut dan mengisi bulan Rajab yang mulia ini, ada beberapa amaliah yang sangat dianjurkan oleh syariat Islam.
Pertama, adalah bertobat. Rajab adalah bulan yang sangat tepat bagi kita untuk bertobat dari segala perbuatan dosa dan maksiat yang pernah atau yang masih kita lakukan. Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathaiful Ma’arif juz 1 halaman 122 menganjurkan umat manusia untuk bertobat di bulan Rajab yang mulia ini. Beliau mengatakan, “Putihkanlah lembaran hitammu di bulan Rajab, dengan amal baik yang menyelamatkanmu dari api yang melalap.”
Namun, supaya pertobatan kita bisa diterima oleh Allah SWT, Syekh Abdulqadir Al-Jailani dalam kitab Al-Ghuniyah menjelaskan bahwa ada 3 syarat agar pertobatan kita diterima. 1). Menyesali kesalahan dan kemaksiatan yang telah kita perbuat. 2). Meninggalkan setiap kesalahannya, di mana pun dan kapan pun. 3). Berjanji untuk tidak mengulangi dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan. Jika ingin pertobatan kita diterima, mutlak ketiga syarat tersebut harus kita laksanakan.
Lebih lanjut, Al-Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan kenapa kita di bulan-bulan yang mulia (Al-Asyhur Al-Hurum) ini sangat dianjurkan untuk menyucikan diri, meningkatkan kualitas ibadah dan berusaha sekuat mungkin untuk menghindari berbuat maksiat. Yaitu karena di bulan-bulan mulia ini amaliah baik akan dilipatgandakan pahalanya, sementara perbuatan dosa juga akan dilipatgandakan siksanya kelak.
وَمَعْنَى الْحُرُمِ: أَنَّ الْمَعْصِيَةَ فِيهَا أَشَدُّ عِقَابًا، وَالطَّاعَةَ فِيهَا أَكْثَرُ ثَوَابًا
Artinya: “Yang dimaksudkan dengan bulan-bulan yang dimuliakan di sini, sesungguhnya maksiat dalam bulan ini siksanya akan lebih berat. Sementara jika menjalankan ketaatan, maka pahalanya akan dilipatgandakan.” (Tafsir Ar-Râzi).
Kedua, adalah melakukan puasa sunah di bulan Rajab. Terkait kesunahan melaksanakan amaliah puasa di bulan Rajab, sumber dalilnya adalah sebuah Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Sahih Muslim juz 2 halaman 811:
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ، عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، يَقُولُ: " كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ "
Artinya: “Utsman bin Hakim berkata: saya bertanya kepada Sa’id bin Jubair tentang puasa Rajab, ketika itu kami berada di bulan Rajab. Sa’id menjawab: saya mendengar Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW berpuasa (berturut-turut) hingga kami menduga beliau tidak pernah tidak berpuasa, dan beliau tidak berpuasa (berturut-turut) hingga kami menduga beliau tidak puasa.”
Dari Hadits sahih yang termaktub dalam kitab Sahih Muslim tersebut, tertera jelas bahwa Nabi Muhammad SAW memang berpuasa berturut-turut tatkala bulan Rajab, seakan-akan beliau berpuasa sebulan penuh di bulan Rajab. Akan tetapi di Rajab lain hari, beliau Nabi Muhammad sama sekali tidak berpuasa, meski itu masih bulan Rajab. Bisa diartikan, bahwa Nabi Muhammad SAW tatkala sedang berada di bulan Rajab beliau banyak melakukan ibadah puasa, tapi pernah juga beliau tidak berpuasa, sehingga seakan-akan tidak berpuasa sama sekali. Ini secara tersirat bisa diartikan bahwa melaksanakan puasa di bulan Rajab itu hukumnya adalah sunah semata, karena tidak ada nash sharih yang secara eksplisit menganjurkan (mewajibkan) atau melarang untuk berpuasa.
Menurut Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, juz 8 halaman 38, Hadits di atas artinya tidak menunjukkan adanya kesunahan khusus atau larangan khusus puasa di bulan Rajab. Oleh karenanya, hukum kesunahan puasa di bulan Rajab ini disebabkan karena melihat adanya 2 aspek, pertama hukum asal puasanya yang adalah sunah. Kedua, perintah Nabi Muhammad memang menganjurkan puasa di bulan-bulan mulia (Al-Asyhur Al-Hurum), bulan Rajab adalah salah satunya. Hal ini sebagaimana bunyi salah satu Hadits dalam Sunan Abi Dawud, bahwa Rasulullah SAW menyatakan kesunahan puasa pada bulan-balan haram (Al-Asyhur Al-Hurum; empat bulan yang dimuliakan), Rajab adalah salah satu dari empat bulan mulia itu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Amaliah ketiga yang dianjurkan Islam tatkala kita berada dalam bulan Rajab adalah meningkatkan kualitas salat lima waktu kita. Syekh Musthafa As-Siba’i dalam kitabnya, Sirah Nabawiyyah, Durus wa ‘Ibar, jilid 1 halaman 54 menjelaskan, bahwa jika Nabi melakukan Isra’ dan Mi’raj dengan ruh dan jasadnya sebagai mu’jizat, maka menjadi sebuah keharusan bagi tiap muslim untuk menghadap (mi’raj) kepada Allah SWT lima kali sehari dengan khusyuk, serta kuantitas serta kualitasnya salatnya yang penuh.

Tersebab dengan salat yang khusyu’, seseorang akan merasa diawasi oleh Allah SWT, sehingga niscaya ia akan malu untuk menuruti syahwat hawa nafsunya, malu untuk berkata kotor, malu untuk mencaci orang lain, malu untuk berbuat bohong, malu untuk merugikan orang lain, bahkan malu untuk berbuat jahat kepada siapapun. Ini tentu saja akan senada dengan Surah Al-‘Ankabut ayat 45, “Innasshalata tanha ‘anil fahsya-i wal munkari; bahwa sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuata keji dan mungkar.”
Ma’asyiral Muslimin Hafidhakumullah…
Marilah bertepatan dengan memomentum bulan Rajab ini kita senantiasa perbaiki diri kualitas keimanan kita, kualitas shalat kita dan kualitas ibadah-ibadah kita. Terkhusus kualitas ibadah shalat kita. Karena sudah sangat banyak keterangan, nas Al-Quran dan Al-Hadits yang menjelaskan keutamaan tentang ibadah shalat. Bahkan, disebutkan bahwa ibadah shalat adalah parameter pertama dan ibadah pertama yang akan menjadi tolok ukur seorang hamba di hadapan Tuhan. Ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَاِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ.
Artinya: Sesungguhnya hal pertama kali yang akan dihisab pada diri seorang hamba pada hari kiamat dari amaliahnya adalah salatnya. Jika salatnya baik, sungguh ia beruntung dan sukses. Jika rusak shalatnya, sungguh ia menjadi orang yang merugi. (HR Abu Dawud, An-Nasai dan At-Tirmidziy).
Semoga kita semua di bulan Rajab ini menjadi hamba yang terhindar dari segala kejelekan dan kemaksiatan, menjadi hamba yang selalu beruntung dengan melakukan banyak amaliah-amaliah ibadah positif yang berlipat pahalanya, pun menjadi hamba yang selalu mendapatkan keridlaan dari Allah SWT. Amiiin ya Rabbal ‘Alamiiin.
جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمانِ الرَّحِيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
