Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Atas iradah dan inayah-Nya, pada hari yang mulia ini kita dapat berkumpul dalam rutinitas salat Jumat, dalam keadaan sehat wal ‘afiyat.
Hadirin rahimakumullah…
Tidak ada manusia yang lebih pantas dijadikan teladan selain Rasulullah ﷺ. Akhlaknya, budi pekertinya, serta tutur katanya mampu memikat siapa pun yang berada di dekatnya. Bahkan Allah SWT sendiri memuji akhlak Rasulullah ﷺ dalam Al-Quran, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Qalam ayat 4:
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”
Bahkan dikatakan bahwa akhlak Rasulullah ﷺ adalah Al-Quran. Artinya, beliau adalah sosok yang benar-benar mengamalkan ajaran Al-Quran dalam seluruh aspek kehidupannya. Hal ini ditegaskan oleh Sayyidah ‘Aisyah RA ketika beliau berkata:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak Rasulullah adalah Al-Quran.”
Hadirin rahimakumullah…
Jika kita berbicara tentang akhlak Rasulullah ﷺ, maka tidak akan pernah ada habisnya karena begitu mulia dan agung. Namun pada kesempatan ini, khatib akan menyoroti dua akhlak Rasulullah ﷺ sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Barzanji karya Syekh Jakfar Al-Barzanji:
“Rasulullah ﷺ adalah sosok yang sangat pemalu dan tawaduk.”
Dua akhlak inilah yang sangat penting untuk ditanamkan di era digital ini, yaitu rasa malu dan sikap tawaduk.
Kemajuan teknologi memang memberikan banyak kemudahan, namun juga menghadirkan tantangan dan dampak negatif, terutama bagi generasi muda. Tidak jarang kita menyaksikan di media sosial perilaku yang jauh dari adab dan etika. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ
“Malu itu sebagian dari iman.”
Maka jika seseorang telah kehilangan rasa malu, patut kita bertanya: masih adakah iman yang tersisa dalam hatinya?
Tafsir
Kumpulan tulisan bertema tafsir Al-Quran dapat teman-teman baca
Rasulullah ﷺ adalah sosok yang sangat pemalu, namun tetap tegas dalam kebenaran. Rasa malu beliau tidak pernah menghalangi untuk menyampaikan kebenaran, menegur kesalahan, atau membela yang hak. Inilah rasa malu yang terpuji, yaitu malu yang disertai keberanian dalam berbuat baik.
Beberapa bentuk malu yang patut kita teladani dari Rasulullah ﷺ antara lain:
Malu kepada Allah, sehingga beliau sangat menjaga waktu, amal, dan ibadah.
Malu kepada manusia, sehingga tidak menyakiti, merendahkan, atau menyinggung orang lain tanpa alasan yang benar.
Malu untuk berbuat dosa, sekecil apa pun, karena merasa selalu diawasi Allah SWT.
Malu meninggalkan kewajiban, meskipun dalam kondisi sulit.
Hadirin rahimakumullah…
Selain sifat malu, akhlak lain yang harus kita teladani dari Rasulullah ﷺ adalah tawaduk.
Tawaduk adalah sikap rendah hati, tidak sombong, tidak merasa lebih baik dari orang lain, serta mau menerima kebenaran dari siapa pun. Tawaduk bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan, tetapi menempatkan diri dengan adab yang baik tanpa kehilangan harga diri.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 63:
“Tidaklah seseorang bersikap tawaduk karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim)
Rasulullah ﷺ tidak suka diperlakukan seperti raja. Beliau senang duduk dan bergaul bersama rakyatnya, mendengarkan keluhan siapa saja tanpa merasa terganggu, menjahit pakaiannya sendiri, serta menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan.
Bukan karena beliau tidak mampu, melainkan karena tawaduk beliau dan sebagai teladan nyata bagi umatnya.
Hadirin rahimakumullah…
Inilah dua akhlak agung Rasulullah ﷺ yang sangat relevan untuk kita teladani di era modern ini. Boleh mengikuti perkembangan zaman, boleh bergaul, tetapi akhlak harus tetap saleh.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk umat yang mampu meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.