Khutbah I
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Segala puja dan puji sukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memuliakan manusia dengan ilmu dan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu di antara hamba-Nya. Shalawat beserta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW sang teladan agung yang diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang diwujudkan dalam bentuk ketaatan kepada perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hanya dengan takwa, kita akan meraih kemuliaan sejati di sisi Allah SWT, bukan karena harta, jabatan, ataupun nasab keturunan kita.
Ma’asyiral Muslimin Hafidakumullah…
Dalam bermasyarakat, terkadang kita melihat sebagian orang membanggakan nasab, silsilah keturunan atau asal usul keluarganya. Mereka merasa lebih tinggi daripada yang lainnya karena merupakan keturunan ulama, keturunan pejabat atau berasal dari keluarga terkenal. Padahal sejatinya Islam justru mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh nasabnya, melainkan oleh ilmu dan adab yang ia miliki. Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian. (HR Muslim nomor 2564)
Dalam hadits di atas tersebut, Rasulullah SAW menegaskan bahwa rupa, harta atau jalur keturunan bukan tolok ukur kemuliaan seseorang, melainkan pada hati dan amal perbuatan seseorang. Dan hati yang bersih serta amal yang benar hanya bisa tumbuh dari ilmu yang benar dan adab yang mulia.
Perihal adab, Imam Malik pernah berkata kepada seorang pemuda Quraisy yang sedang menuntut ilmu. "Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu." Begitu pentingnya adab dalam proses menuntut ilmu, sebab ilmu tanpa adab akan membuat seseorang sombong, merasa tinggi, dan mudah meremehkan orang lain. Lebih lanjut, Allah SWT memerintahkan kita untuk mengucapkan perkataan yang baik, sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah ayat 83:
Artinya: “Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”
Di ayat selanjutnya karakter mereka ditegaskan, yaitu orang-orang yang di dunia diberi petunjuk untuk mengucapkan ucapan-ucapan yang baik, Allah ber firman dalam Suraا Al-Hajj ayat 24:
Artinya: “Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.”
Di ayat lain Allah menegaskan agar orang-orang beriman untuk berkata-kata yang baik, baik kepada sesama muslim maupun non-muslim. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra' ayat 53:
Artinya: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Allah melarang umat manusia membangga-banggakan keturunan, sebagaimana telah disampaikan oleh Rasulullah dalam haditsnya:
Artinya: Dari sahabat Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, ‘Sungguh akan sampai zamannya nanti kelompok orang yang membanggakan orang tua mereka yang telah wafat. Mereka itu arang neraka Jahannam, dan sungguh mereka lebih rendah di sisi Allah daripada kumbang yang menggulirkan kotoran dengan hidungnya.
Jangankan cuma seorang Gus yang keturunan Kiai, bahkan seorang keturunan Nabi pun, jika ia tidak memiliki takwa, ilmu, dan adab, maka ia tidak lebih mulia di sisi Allah dibandingkan orang biasa yang bertakwa. Allah berfirman:
Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha teliti. (QS Al-Hujurat: 13)
Dalam sejarah, kita mengenal sahabat Bilal bin Rabah RA, seorang budak berkulit hitam yang dijadikan muadzin pertama oleh Rasulullah SAW. Bilal dimuliakan bukan karena nasab, melainkan karena iman, ilmu, dan adabnya yang luar biasa. Sementara ada pula orang Quraisy yang sombong karena nasab, justru tidak mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Allah SWT berfirman:
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Mujadilah: 11)
Ayat di atas ini menegaskan bahwa derajat manusia diangkat oleh ilmu dan iman, bukan oleh keturunan atau silsilah. Maka siapa pun kita, dari keluarga manapun kita berasal, selama kita berusaha menuntut ilmu dan menjaga adab, Allah akan angkat derajat kita.
Ma’asyiral Muslimin Hafidakumullah…
Mari kita renungi kembali bahwa ilmu dan adab (akhlakul karimah) adalah kemuliaan sejati. Jangan pernah meninggalkan ilmu dan akhlak, apalagi ditambah menyombongkan nasab. Dalam Islam, yang utama adalah usaha kita memperbaiki diri, menuntut ilmu, dan menghiasi diri dengan adab yang mulia. Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya: "Apakah seseorang lebih utama dengan ilmu atau nasab?" Ia menjawab: "Jika nasab itu tidak disertai dengan ilmu dan adab, maka ia tidak ada nilainya di sisi Allah."
Maka wahai para orang tua, ajarkan anak-anak kita ilmu dan adab. Jangan hanya mewariskan nama besar, gelar, atau harta. Warisan terbaik adalah iman, ilmu, dan akhlak. Dan wahai para pemuda, jangan bangga karena keturunan, tapi banggalah jika kalian mampu menjadi pribadi berilmu dan beradab, karena itulah sebenar-benar kemuliaan.
Oleh karenanya, marilah kita memperkuat ketakwaan kita kepada Allah dengan menjauhi sikap sombong pada silsilah keturunan kita.
Khutbah II
