Rajab dan Momentum Perbaikan Kualitas Salat

Bertepatan dengan momen puncak Rajab, agaknya sangat tepat juga bila kita mengupas perihal ibadah salat kita dan kualitas dari salat kita. Sebab pada bulan Rajab ini dahulu terjadi satu momen peristiwa yang sangat penting bagi umat Islam, yakni Isra dan Mikraj. Dalam peristiwa Isra Mikraj itulah Nabi Muhammad SAW dan umatnya kali pertama diperintahkan untuk melaksanakan salat lima waktu dalam sehari semalam. Sudah sejauh manakah salat kita, apakah masih sebatas sebagai ibadah sekadar penggugur kewajiban? Ataukah sudah lebih khusyuk dari tahun-tahun sebelumnya?

Sebagai sebuah amaliah ibadah, salat adalah ibadah yang pertama akan dihisab kelak di hari kiamat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَاِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ. .... الحديث

Artinya: Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada diri seorang hamba pada hari kiamat dari amalnya adalah salat. Jika salatnya baik, sungguh ia beruntung dan sukses. Jika rusak salatnya sungguh ia menjadi orang yang merugi. (HR Abu Dawud, An-Nasai, dan At-Tirmidzi)

Selain itu, salat itu adalah tiang agama. Sama seperti halnya bangunan, jika sebuah bangunan tiangnya kokoh, maka bangunan itu akan kuat, karena memiliki tiang yang kuat. Baegitu juga agama seorang muslim juga akan menjadi kuat jika ia istiqamah dalam menjalankan salat. Salat adalah ibadah utama yang menjadi tolok ukur kesalehan seorang mukmin.

Oleh karenanya, salat adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Allah SWT bahkan telah memerintahkan hal ini dalam firman-Nya:

﴿ حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ ﴾ [سورة البقرة: ٢٣٨]

Artinya: “Peliharalah semua shalat fardu dan salat Wusṭā. Berdirilah karena Allah (dalam salat) dengan khusyuk.” (Surah Al-Baqarah: 238)

Al-Quran

Kumpulan tulisan dengan kata kunci Al-Quran dan cabang ilmunya bisa teman-teman temukan

di sini

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Marah Labid li Kasyfi Ma'na Al-Qur'anil Majid jilid II halaman 218 menjelaskan bahwa ayat tersebut memerintahkan kita untuk menjaga salat kita dengan menyempurnakan rukun dan syarat-syaratnya. Oleh karenanya, “Jagalah salat yang diperintahkan kepadamu, niscaya Allah akan menjagamu karena engkau menjaga perintah-Nya.”

Demikianlah, adanya perintah salat lima waktu itu menunjukkan betapa pentingnya ibadah salat dilakukan setiap Muslim. Dalam Al-Quran, perintah melaksanakan salat itu diulang sampai lebih dari 80 kali. Dalam hadits juga banyak disebutkan agar umat Islam mendirikan salat dengan baik di mana saja kita berada dan dalam kondisi apapun.

Dalam suatu keterangan yang senada, Rasulullah SAW bersabda:

خَـمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ، فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ، رواه البيهقيّ

Artinya: Ada lima salat yang Allah wajibkan atas para hamba-Nya. Barang siapa melaksanakannya dan tidak melalaikan salah satu darinya, maka ia mendapatkan janji dari Allah akan dimasukkan ke surga. Dan barang siapa tidak melaksanakannya, maka ia tidak mendapatkan janji dari Allâh SWT tersebut. Jika Allah menghendaki, maka Ia menyiksanya dan jika Allah menghendaki, maka Allah memasukkannya ke surga. (HR Al-Baihaqi)

Sebaliknya, para ulama mengatakan, bahwa para ulama Ahlussunnah mengatakan bahwa, jika seseorang meninggalkan salat karena mengingkari kewajibannya atau melecehkannya, maka ia telah kafir. Sedangkan jika ia meninggalkannya karena malas, maka ia tidak kafir, tetapi dihukumi fasiq, pelaku dosa besar. Dalam hidup ini kita bisa saja menunda jadwal perjalanan atau pekerjaan, sedangkan kematian adalah kepastian yang tidak bisa ditunda atau dibatalkan. Rasulullah SAW bersabda:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاةُ، أخرجه أحمد والنسائي والترمذي وغيرهم وقال: حديث حسن صحيح

Artinya: Induk dari segala perkara adalah Islam dan tiangnya adalah salat. (HR Ahmad, An-Nasa'i, At-Tirmidzi, dan lain-lain. At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih).

Dan barangsiapa yang terhadap salat ia lalai, maka terhadap selain salat, pastilah ia lebih abai. Begitu agungnya salat, dalam beberapa ayat Al-Quran (Surah Al-Baqarah: 277), salat sering disebutkan secara beriringan dengan iman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Demikian-lah, pada bulan Rajab yang mulia ini, sudah selayaknya kita mengevaluasi kualitas salat kita. Utamanya menjelang puncak peringatan Isra dan Mikraj ini, mari jadikan ini sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas salat kita.  Salat yang berkualitas adalah salat yang sah dan diterima oleh Allah SWT. Salat seseorang dikatakan sah apabila telah memenuhi seluruh syarat sah dan rukunnya, serta menjauhi semua hal yang dapat membatalkannya.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik Ahmad Muhakam Zein