Di bait ke lima Al-Hikam, Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata, “Ijtihaduka fima dhumina laka, wa tarkuka fima thuliba minka, dalilun ala inthimas al-bashirati minka.” artinya, “Upaya keras (ijtihad)mu dalam hal-hal yang telah terjamin darimu, dan lalaimu terhadap apa-apa yang diperintahkan untukmu (yang belum terjamin) adalah tanda akan butanya mata hati dirimu”.
Aforisme (kebijaksanaan) Ibnu Athaillah di atas amat relevan untuk kita renungkan di penghujung akhir tahun 2024 dan membuka lembar-lembar baru awal tahun 2025. Mengingat, di zaman ini banyak orang mengalami overthinking saat mencemaskan masa depan kehidupan dunianya. Lebih tepatnya, kita hidup di zaman dimana mental mudah lemah dan overthinking dalam menjalani kehidupan. Mari kita refleksikan.
Rasa Cemas yang Berlebihan Akan Dunia
Saya kira tepat rasanya sekarang dan di tahun yang akan mendatang, penyakit dan tantangan terbesar kita semua adalah menghadapi penyakit overthinking atau—dalam bahasa sufi— rasa cemas berlebihan akan dunia. Masalah ini akan terus kita hadapi—terutama di era medsos yang rentan menjadi akarnya— sebagai masalah internal yang muncul dari dalam: lemahnya mental dan pola pikir dalam menyikapi kegagalan dalam hidup. Kita hidup di era di mana manusia bisa saja terbunuh oleh dirinya sendiri: akibat tekanan mental dan pikirannya.
Selain pengaruh media maya, orang lain: ucapan dan pencapainnya, menurut saya overthinking sebenarnya lahir dari pola pikir yang salah dalam melihat dan menyikapi kehidupan dunia. Yaitu pola pikir yang melihat manusia sanggup mengendalikan kehidupannya, harapannnya, pencapaiannya, masa depannya. Termasuk pola pikir menempatkan dunia sebagai satu-satunya realitas, satu-satunya kenyataan.
Pola pikir semacam inilah yang akan rentan mengalami stress dan overthinking saat menjalani hidup. Oleh sebab itu, hadirnya agama, khususnya Islam, mengajak dan mengajarkan umatnya untuk menolak pola pikir semacam itu dan mengajarkan bahwa manusia tidak akan pernah bisa mengendalikan hidupnya, atau paling tidak memastikan secara akurat masa depannya. Manusia hanya bisa merencanakan masa depannya, bukan memastikannya. Mari pahami lebih dalam melalui ajaran Ibnu Athaillah dalam aforisme-nya.
Mengubah Pola Pikir
“Upaya keras (ijtihad)mu dalam hal-hal yang telah terjamin darimu, dan lalaimu terhadap apa-apa yang diperintahkan untukmu (yang belum terjamin) adalah tanda akan butanya mata hati dirimu”.
Sebagaimana bait yang saya kutip di atas, Ibnu Athaillah menyindir kita semua bahwa kita lebih banyak ‘sibuk’ memikirkan dunia yang sebenarnya sudah dijamin oleh Allah. Sebaliknya, kita lalai pada hal-hal yang diperintah/belum terjamin dalam hidup kita. Menurut Syekh Asy-Syarqawi dalam syarahnya, jaminan Allah itu adalah rizki, jodoh, tempat lahir dan kematian. Sedangkan apa-apa yang diperintah dan belum terjamin adalah amal ibadah, ilmu yang akan mengantarkan diri kita sampai kepada Allah SWT. Makna ‘al-bashirah’ itu bermakna mata hati yang dapat melihat hal-hal secara ma’nawi.
Sikap overthinking terhadap urusan dunia inilah yang dimaksud Ibnu Athaillah sebagai matinya/butanya mata hati manusia. Inilah pola pikir yang cacat (buta mata hati) dalam melihat dunia. Sebab kita terlalu memprioritaskan dunia dan terus mencemaskannya, padahal ia sudah berada dalam tanggungan dan jaminan Allah. Sebaliknya, Ibnu Athaillah mengajak kita untuk ‘lebih mencemaskan’ perkara yang belum terjamin. Yaitu mencemaskan kualitas hubungan kita dengan Allah, mencemaskan nasib ukhrawi kita, mencemaskan tugas sejati kita di dunia.
Oleh sebab itu, cara satu-satunya mengatasi penyakit overthinking –atau rasa cemas berlebihan akan dunia— hari ini adalah dengan mengubah pola pikir kita sendiri dalam melihat dunia. Sebagaimana di atas, kita perlu menempatkan ibadah dan kualitas hubungan kita dengan Tuhan sebagai skala prioritas dan primer, sedangkan dunia sebagai yang sekunder. Dengan demikian, overthinking tidak akan muncul.
※ Hukum Bunuh Diri dalam Islam
Tahun Baru: Tak Hanya Resolusi Dunia, Akhirat Juga
Berangkat dari refleksi sufistik tersebut dalam rangka menyambu tahun baru 2025, selain resolusi dunia, kita juga perlu membuat draft resolusi akhirat kita. Yaitu mengatur kembali, mendisiplinkan dan memanfaatkan sebaik-baiknya waktu di dunia untuk bekal di akhirat. Hal itu bisa berupa resolusi ibadah, resolusi ngaji, resolusi bersedekah, dan sebagainya. Apa pencapaian yang harus kita hadiahkan kepada Allah selama di dunia? inilah pertanyaan penting yang juga perlu masuk draft resolusi kita.
Wal-Hasil, setiap hamba yang sudah mencapai kedekatan kepada Allah, tidak akan ada rasa cemas dan overthinking dalam dirinya. Ia hanya akan merasakan ketenangan dan rasa aman berada di sisi dan bersama Allah SWT. Sebagaimana komentar Imam Al-Qusyairi dalam ayat 62 Surah Al-Baqarah, “Hakikat orang mukmin itu adalah orang yang berada dalam rasa aman bersama Allah SWT. Orang yang berada dalam rasa aman Allah itu tentunya ia akan dijamin “tidak ada rasa cemas dalam diri mereka pun tidak pula mereka bersedih”.
