TAWAZUN.ID — Rektor Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Salamah Dawud, menegaskan bahwa pemilihan Sibawaih sebagai tokoh pada musim kedua kompetisi Ruwad Al-‘Arabiyyah (Para Pelopor Bahasa Arab) merupakan bentuk penghargaan atas jasa besarnya dalam meletakkan fondasi ilmu nahwu sekaligus mengabdi kepada bahasa Arab.
Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Salamah Dawud dalam sambutannya pada penutupan musim kedua kompetisi Ruwad Al-‘Arabiyyah, sebuah ajang yang diselenggarakan Al-Azhar untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa Arab dan khazanah keilmuannya.
Menurutnya, Al-Azhar sejak lama menerapkan metode pembelajaran bahasa Arab secara bertahap, disesuaikan dengan usia serta kemampuan akademik para pelajar. Pendekatan ini bertujuan agar mereka mampu memahami karya-karya besar warisan ulama, terutama Al-Kitab karya Sibawaih yang menjadi salah satu kitab paling berpengaruh dalam sejarah ilmu nahwu.
Prof. Salamah menjelaskan bahwa Al-Kitab menempati kedudukan yang sangat istimewa dalam tradisi keilmuan Islam. Bahkan, para ulama klasik menjulukinya sebagai "Al-Quran-nya ilmu nahwu" karena keluasan pembahasan dan kedalaman metodologinya.
Ia menilai anggapan bahwa kitab tersebut sulit dipahami bukan disebabkan oleh kerumitan isi, melainkan karena disusun dengan gaya bahasa yang sesuai dengan tingkat kebahasaan masyarakat pada zamannya yang sangat tinggi.
Bahasa Arab
Kumpulan tulisan terkait bahasa Arab dan khazanah ilmunya bisa teman-teman temukan
di siniDalam kesempatan itu, Rektor Universitas Al-Azhar juga menyoroti sosok Sibawaih yang meskipun berasal dari Persia, berhasil mencapai kedudukan sebagai salah satu tokoh terbesar dalam sejarah bahasa Arab.
"Sibawaih memang berdarah Persia, tetapi bahasa Arab telah menyatu dengan daging dan darahnya hingga ia menjadi salah satu tokoh besarnya," ujar Prof. Salamah.
Ia menambahkan bahwa Sibawaih berhasil menyusun salah satu "konstitusi" terpenting bagi bahasa Arab melalui kaidah-kaidah nahwu yang dirumuskannya. Sebagai contoh, ia mengutip salah satu pernyataan Sibawaih dalam pembahasan athaf:
"Mengathafkan isim majrur kepada isim majrur lebih aku sukai karena mempertimbangkan hak kedekatan."
Menurut Prof. Salamah, ungkapan tersebut mencerminkan kehalusan rasa bahasa, kedalaman analisis linguistik, sekaligus penguasaan Sibawaih terhadap rahasia-rahasia bahasa Arab.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa Al-Azhar saat ini tengah menjalankan proyek besar untuk mendekatkan kitab-kitab induk warisan Islam kepada para pelajar dan peneliti melalui program Taqrib Kutub At-Turats yang dikelola oleh Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah.
Di bidang bahasa Arab, proyek tersebut diawali dengan penyusunan penjelasan atas Al-Kitab karya Sibawaih. Langkah ini diambil mengingat besarnya nilai ilmiah kitab tersebut, sekaligus untuk membantu para mahasiswa dan peneliti yang kerap menghadapi kesulitan ketika mempelajari naskah aslinya.
Sementara itu, panitia penyelenggara menetapkan Sibawaih sebagai tokoh musim kedua Ruwad Al-‘Arabiyyah sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya yang abadi dalam membangun ilmu nahwu dan melayani bahasa Arab. Pemilihan ini juga sejalan dengan misi kompetisi untuk memperkenalkan para pelajar kepada tokoh-tokoh besar bahasa Arab, mempererat hubungan mereka dengan warisan intelektual Islam, serta menumbuhkan kebanggaan terhadap bahasa Al-Quran.