Skip to content

Rektor Universitas Al-Azhar: Membangun Manusia Jasmani dan Rohani Adalah Fondasi Syariat

Konferensi Al-Azhar menyoroti perlunya keseimbangan fisik dan spiritual dalam membangun manusia di tengah tantangan global dan krisis moral.

FOTO Rektor Universitas Al-Azhar Prof. Salamah Dawud.
FOTO Rektor Universitas Al-Azhar Prof. Salamah Dawud.

TAWAZUN.ID — Rektor Universitas Al-Azhar Prof. Dr. Salamah Dawud menegaskan bahwa membangun manusia secara utuh—baik fisik maupun spiritual—merupakan dasar yang menjadi pijakan semua agama-agama samawi. Hal ini ia sampaikan saat membuka Konferensi Internasional Kelima Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Azhar di Kairo (23/04/2025), yang tahun ini mengangkat tema “Membangun Manusia dalam Perspektif Tantangan Kontemporer.”

Dalam pidatonya, Prof. Salamah Dawud menjelaskan bahwa perhatian terhadap pembangunan manusia bukan sekadar slogan, melainkan inti ajaran agama. “Sebagaimana tubuh memerlukan vaksin dan perlindungan, jiwa pun memerlukan kekuatan yang bersumber dari akhlak mulia, nilai-nilai kemanusiaan, dan ajaran luhur agama,” ujarnya.

Ia juga mengajak agar pendidikan akhlak dimulai sejak usia dini, seraya mengutip syair Arab klasik yang menggambarkan pentingnya pendidikan karakter sejak masa kecil, karena ibarat tanaman, air yang disiram sejak awal akan menghasilkan tunas yang segar dan kuat.

Rektor Universitas Al-Azhar menyatakan bahwa institusi yang ia pimpin, khususnya Fakultas Syariah dan Hukum, merupakan pionir dalam pengembangan keilmuan Islam. Ia menyebut fakultas ini sebagai "induk dari seluruh fakultas syariah di Universitas Al-Azhar" dan menyebut sejumlah tokoh besar alumninya yang turut hadir dalam konferensi, seperti Syekh Dr. Muhammad Adh-Dhuwaini (Wakilul-Azhar), 2 Mufti Agung Mesir terdahulu Dr. Nashr Farid Washil, serta Dr. Syauqi ‘Allam.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa para dosen syariah Al-Azhar adalah ujung tombak ijtihad dan pembaruan, yang tetap menjaga prinsip-prinsip agama. Ia menilai Al-Azhar mampu menghadapi segala bentuk penyimpangan pemikiran yang mengancam keamanan masyarakat. “Sejak berdiri, Al-Azhar adalah benteng yang kokoh bagi integrasi antara orisinalitas dan modernitas,” tuturnya.

Biografi

Sepilihan riwayat hidup para tokoh dapat teman-teman temukan

di sini

Dalam konteks global, Prof. Salamah turut menyuarakan keprihatinan terhadap tragedi kemanusiaan di Gaza. Ia memanjatkan doa, “Ya Rabb, penduduk Gaza adalah pihak yang tertindas. Maka, berilah mereka kemenangan.” Ia menekankan bahwa ada tingkat kejahatan manusia yang tidak bisa dihadapi kecuali dengan perlindungan Tuhan semesta alam.

Prof. Salamah juga menyoroti perhatian besar Al-Quran terhadap manusia. Kata "insan" disebut dalam 56 ayat dan "nas" dalam 172 ayat, yang menunjukkan perhatian Tuhan kepada manusia secara individu maupun kolektif. Ia menggarisbawahi makna yang dalam di balik penutupan mushaf dengan Surah An-Nas yang mengajak perlindungan dari bisikan jahat, baik dari golongan jin maupun manusia. “Enam ayat terakhir dalam surat itu semuanya diakhiri dengan kata ‘nas’, menegaskan bahwa perlindungan hanya ada pada Tuhan manusia, Raja manusia, dan Ilah manusia,” tegasnya.

Syekh Prof. Salamah Dawud pun mengingatkan bahwa pembangunan manusia dalam Islam dilandasi oleh lima prinsip perlindungan utama: jiwa, agama, akal, kehormatan, dan harta. Lima prinsip ini menjadi dasar dalam ilmu maqashid syariah yang telah dikembangkan mendalam oleh para ulama. Ia menambahkan bahwa di saat dunia kontemporer menyaksikan bahwa semakin maju peradaban Barat secara ilmiah, semakin merosot pula ia secara moral, salah satu negara adidaya bahkan sibuk membangun tembok besar yang tidak dapat dipanjat oleh para penyerang. Namun, ketika para penyerang putus asa untuk memanjat tembok tersebut, mereka justru menyuap beberapa penjaga tembok, lalu berhasil masuk ke kota-kota tanpa perlu memanjatnya. Sebab negara besar itu membangun tembok, tetapi tidak membangun manusia yang menjaga dan menopangnya.

Dalam penutup pidatonya, Prof. Salamah Dawud mendorong Fakultas Syariah dan Hukum beserta fakultas lain di Al-Azhar untuk merancang kurikulum fikih yang responsif terhadap kebutuhan zaman. Di antaranya, ia mengusulkan dibentuknya program kajian fatwa serta pengajaran fikih yang relevan untuk fakultas-fakultas baru seperti kecerdasan buatan (AI), arkeologi dan warisan Islam, serta kedokteran hewan.

Menurutnya, inisiatif ini menjadi ciri khas Al-Azhar yang mampu menggabungkan kekayaan tradisi keilmuan Islam dengan tantangan dan peluang era modern.


💡
Baca juga warta lain di rubrik BERITA atau pilih ragam tulisan lain di Situs Tawazun ID

Latest