Rokok, Teh, dan Cahaya Seorang Ulama Buta

Ada orang yang ilmunya bukan hanya terang, tapi juga menyalakan hati orang.

Salah satunya, Prof. Dr. Ibrahim Abdurrahman Khalifah — guru besar saya di Al-Azhar di tahun 90-an abad silam. Seorang alim besar; ahli tafsir, balaghah, ilmu kalam, dan seabrek ilmu lainnya. Wafat 12 thn yg lalu. Pada 22 Juni 2013 di Kairo. Dalam usia 72 tahun. Tiba-tiba saja saya merindukannya.

Beliau buta sejak kecil, tapi dari kegelapan matanya justru terpancar cahaya yang menuntun banyak murid. Hafalannya luar biasa. Pikirannya tajam. Dan, tutur katanya lembut tapi dalam. Kalau menjelaskan ayat, rasanya seperti sedang membuka lembaran kitab hidup. Yang tersusun rapi di kepalanya.

Yang unik, beliau perokok berat. Kami para mahasiswa dulu bisa tahu berapa lama kuliah akan berlangsung, bukan dari jam dinding. Tapi dari jumlah batang rokok yang dihisapnya. Biasanya lima atau enam batang. Diselingi dua gelas teh dan satu gelas minuman herbal hilbah. Saat rokok ke-5 atau ke-6 menyala dan gelas ke-3 kosong, kami tahu: kuliah akan segera berakhir.

Lingkungan

Kumpulan tulisan yang menyoroti isu lingkungan dapat teman-teman baca

di sini

Meski buta, hobinya tak biasa: memperbaiki televisi dan radio rusak. Ia membongkar, menyolder, lalu merakit kembali. Saya dengar cerita itu dari dua guru mulia saya: Prof Abdulhayy Al-Farmawi dan Prof. Abdulfadhil Al-Qushi. Mereka dulu pernah bersama. Mengajar di Universitas Ummul Qura Makkah di awal thn 80-an. Saya dulu heran. Bagaimana mungkin orang yang tak bisa melihat justru begitu teliti mengutak-atik kabel? Saya menduga beliau berpikir, “Setiap benda punya logika. Kalau paham logikanya, kita bisa memperbaikinya.”

Saya pikir, itulah juga cara memahami Al-Quran. Menyingkap logika wahyu untuk memperbaiki hidup manusia.

Sulit mencari sosok seperti beliau. Kuat dalam teks dan konteks; logika dan wahyu. Syekh Said Fudah, seorang ulama kalam dan ushul masa kini, menyebutnya “baqiyyat as-salaf min al-muhaqqiqīn” — sisa dari para ulama salaf sejati, pentahkik ilmu, di zaman modern.

Kini, setiap kali saya mengingatnya, saya teringat aroma teh panas, kepulan asap rokok, dan suara tenangnya yang menembus dinding waktu. Para penentang rokok mohon jangan menghujat. Di balik kebiasaan yang sederhana, tersimpan keikhlasan yang besar.

Beliau sudah tiada, tapi setiap nasihat dan senyumnya masih tinggal di hati banyak muridnya.

Ada yang belajar dari buku. Ada yang belajar dari hidup. Saya beruntung pernah belajar dari beliau. Seorang guru yang mengajarkan keduanya.

Sengkang 5 Oktober 2025


💡
Simak rubrik KHAS atau tulisan menarik Dr. Muchlis Hanafi