Saat Media Sosial Kehilangan Arah, Akhlak Menjadi Kompas Kita

Hari-hari ini, kita menyaksikan media sosial yang semakin bising dan kacau. Riuh dengan ujaran kebencian, caci maki tanpa arah, dan hilangnya rasa cinta serta nilai-nilai etika. Banyak pengguna seolah kehilangan kesadaran dalam bermedsos—hingga hilang pula rasa malu. Tak segan mengumbar aib saudaranya sendiri, seakan tak takut pada azab hari pembalasan yang pasti datang.

Inilah wajah media sosial hari ini. Maka, pertanyaannya adalah: akankah kita—yang masih memiliki akal sehat dan hati nurani—ikut terjerumus dalam gelombang keburukan ini? Dan di mana suara para tokoh agama? Akankah mereka diam saja, membiarkan ruang digital yang kian kehilangan etika ini tanpa upaya dakwah dan perbaikan?

Media sosial kini telah kehilangan tujuan awalnya—dari ruang silaturahmi, koneksi, dan literasi, menjadi arena yang menakutkan. Bagi mereka yang masih menjaga harga diri dan kehormatan, media sosial justru terasa seperti jebakan: satu kesalahan kecil bisa berujung pada pembantaian karakter secara massal.

Apa yang seharusnya menjadi tempat pertumbuhan, kini berubah menjadi ladang perusakan. Ketika etika disingkirkan, ruang digital menjadi hutan belantara tempat manusia saling menerkam demi sorotan semu.

Mengembalikan Akhlak sebagai Kompas Digital

Dalam bermedia sosial, kita perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga nilai-nilai etika. Etika yang dimaksud di sini adalah nilai-nilai akhlak yang menjadi pondasi umat Islam—nilai yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Tanpa kesadaran akhlak, kita bisa dengan mudah tergelincir: mengunggah tanpa berpikir, menyebar hoaks, melanggar privasi orang lain, mempermalukan, atau nyinyir tanpa empati.

Kita harus ingat bahwa setiap kata yang kita tulis—yang mungkin menyakiti hati orang lain—akan dimintai pertanggungjawaban di hari pembalasan. Bukankah nanti di akhirat, seluruh anggota tubuh kita akan menjadi saksi atas perbuatan kita selama di dunia?

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Yasin ayat 65:

﴿ اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ﴾ [سورة يس: ٦٥]

"Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka. Tangan merekalah yang berkata kepada Kami dan kaki merekalah yang akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (Surah Yasin: 65)

Rasulullah

Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan

di sini

Sebagai seorang muslim, Rasulullah SAW adalah teladan dalam bersosial. Beliau tidak mencela, tidak berkata sia-sia, menghormati sesama, menolak kezaliman, penuh kasih sayang terhadap manusia, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Hadis yang Relevan untuk Bermedia Sosial

Ada hadis yang begitu relevan dengan bermedia sosial kita hari ini. Hadis ini seharusnya menjadi pegangan bagi kita yang merindukan ajaran Rasulullah:

"أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُه"

"Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar, dan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun hanya bercanda, dan sebuah rumah di surga paling tinggi bagi orang yang akhlaknya baik." (HR. Abu Dawud)

Hadis ini mengajarkan kita untuk menjaga sikap dalam setiap perkataan, termasuk di dunia maya. Meninggalkan perdebatan yang tidak perlu, tidak berbohong, dan menjaga akhlak yang baik, adalah nilai-nilai yang harus kita pegang teguh dalam berinteraksi, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

Menjadi Manusia yang Tetap Manusia, Meski di Balik Layar

Maka, mari kita bermedsos dengan akhlak. Gunakan kata-kata yang membawa manfaat. Jaga lisan di dunia maya sebagaimana kita diperintahkan untuk menjaga lisan di dunia nyata.

Dunia digital boleh terus berkembang, tetapi akhlak kita tetap menjadi pilihan yang nyata. Mari hadirkan ruh etika dalam bermedsos—karena di balik layar, kita tetap manusia. Kelak, yang dipertanggungjawabkan bukanlah jumlah likes atau followers, melainkan akhlak dan amanah setiap kata yang kita sebarkan.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik OPINI atau tulisan menarik Irfan Rifqi Fauzi