TAWAZUN.ID — Hari ini, Selasa (28/02/2023), Imam Akbar Prof. Dr. Ahmad Ath-Thayyib, Syekhul-Azhar, menerima Perdana Menteri Hongaria Viktor Orbán dan segenap rombongan kenegaraan di Masyakhah Al-Azhar, Kairo, Mesir. Kunjungan ini dilaksanakan guna membahas peningkatan kerja sama antara Hongaria dan Al-Azhar Asy-Syarif.
Di awal pertemuan, Imam Akbar menyambut Perdana Menteri Hongaria serta rombongan kenegaraan yang berkunjung ke Al-Azhar. Imam Akbar memperkenalkan Al-Azhar sebagai lembaga akademis dan kebudayaan yang berakar historis panjang serta menjadi tujuan bagi penuntut ilmu dari seluruh dunia. Selain itu, Al-Azhar juga menjadi tujuan para sarjana dan peneliti dalam berbagai keilmuan Islam, Arab, maupun ilmu terapan.
Syekh Ahmad Ath-Thayyib dalam kesempatan itu menekankan inti dari misi Al-Azhar adalah mencari perdamaian dan menyebarkannya berdasarkan filosofi Islam. Filosofi Islam inilah yang membuat Al-Azhar kokoh selama lebih dari seribu tahun, dan menjadi rujukan terpercaya bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia.
Imam Akbar juga menekankan bahwa untuk menghadapi ekstremisme, Al-Azhar mengambil strategi secara internal dan eksternal. Pada level internal, Al-Azhar mendirikan Bait Al-'Ailah Al-Mishriyyah, bekerja sama dengan gereja-gereja Mesir. Lembaga ini didirikan untuk memerangi paham radikal dan ekstremisme agama yang telah menjadi fenomena nyata di masa modern ini. Selain itu, Al-Azhar juga mendirikan sebuah observatorium untuk memerangi ekstremisme dalam 13 bahasa dunia. Tugas lembaga observasi ini adalah melawan sebaran-sebaran digital kelompok ekstremis dan juga menanggapinya.
※ Langkah Strategis Al-Azhar Melawan Terorisme
Sedangkan pada level eksternal, secara positif Al-Azhar membuka diri terhadap berbagai institusi keagamaan dari seluruh dunia. Al-Azhar juga mengadakan konferensi dan seminar dengan Dewan Gereja Dunia dan Dewan Gereja Timur Tengah, dan juga mengadakan forum Syabab Shunna' As-Salam (Emerging Peacemakers Forum) yang bekerja sama dengan Katedral Canterbury di Inggris. Upaya ini berujung pada penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia dengan Paus Fransiskus, tahun 2019.
Pada pertemuan ini, Syekhul-Azhar Ahmad Ath-Thayyib menyampaikan apresiasinya atas sikap Hongaria dalam berpegang pada nilai-nilai agama dan moral, serta menolak penyakit dan perilaku masyarakat yang coba dipromosikan oleh beberapa pihak untuk menghancurkan entitas keluarga, mempromosikan hubungan seksual di luar sistem perkawinan, dan menormalkan homoseksualitas dalam masyarakat di bawah slogan hak dan kebebasan. Sikap ini sejalan dengan posisi Al-Azhar dalam menyikapi masalah ini. Masalah yang tak lain merupakan penyakit dan perilaku hina yang bertujuan hanya untuk menyingkirkan agama, mengesampingkan moral, mendistorsi masyarakat, dan menghancurkan manusia dengan mengidolakan nafsu serta semata memuaskan hasratnya.
Imam Akbar menambahkan bahwa para 'penjual' penyakit ini tidak puas dengan mempromosikannya di negara dan masyarakat mereka saja. "Mereka mencoba untuk memaksakannya ke berbagai masyarakat, tanpa memandang pada kepatuhan masyarakat di suatu negara itu terhadap nilai-nilai agama dan moral. Mereka memanfaatkan kuatnya pengaruh media, khususnya media elektronik yang lintas batas dan situs jejaring sosial. Mereka berusaha menormalkan homoseksualitas (isu LGBT) dengan berbagai cara. Memaksakannya pada individu, masyarakat, pemuda, dan anak-anak. Bahkan hari ini kita dipaksa untuk berbicara tentang fakta (yang sudah terang) bahwa sistem perkawinan didasarkan pada hubungan antara laki-laki dan perempuan, bukan laki-laki dan laki-laki atau perempuan dan perempuan!" tegas Syekh Ahmad Ath-Thayyib.
Syekh Ahmad Ath-Thayyib menyatakan apresiasinya untuk Hongaria yang memasukkan ketentuan dalam konstitusi dan undang-undangnya untuk melindungi entitas keluarga dan menolak homoseksualitas.
Munakahat
Kumpulan tulisan dengan topik pernikahan dan keluarga islami dapat teman-teman temukan
di siniSementara itu, Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban menyampaikan penghargaan dan rasa hormatnya kepada Syekhul-Azhar Ahmad Ath-Thayyib atas upaya yang dilakukan oleh Syekhul-Azhar dalam menyebarkan perdamaian di dunia yang penuh bahaya. Ia juga mengapresiasi Syekhul-Azhar atas upayanya mempromosikan kesepahaman, persaudaraan, serta membangun budaya koeksistensi dan persatuan yang positif.
Perdana Menteri menekankan bahwa Hongaria berbangga atas hubungan baik dengan Al-Azhar Asy-Syarif serta pertukaran kunjungan dengan para pemimpin dan para ulama dari lembaga keagamaan terpenting di dunia Islam ini.
Perdana Menteri Hongaria menekankan bahwa Hongaria sedang mencoba untuk menolak kecenderungan destruktif dunia yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan moral, terutama mengingat promosi perilaku menyimpang ini di dunia Barat. Seperti penyimpangan seksual, penghancuran nilai-nilai keluarga, dan kampanye hubungan di luar nikah. "Kami menindaklanjuti apa yang Anda upayakan terhadap hal ini, serta meningkatkan kesadaran akan bahayanya perilaku ini. Inilah yang merupakan tugas kita bersama," ujar Perdana Menteri Hongaria.




Ia juga menekankan bahayanya keliru menyebut perilaku ini dengan nama aslinya (LGBT). Kekeliruan ini serta kegagalan untuk menunjukkan bahayanya terhadap masyarakat di bawah slogan kebebasan berekspresi, pada akhirnya akan mengarah pada penipuan dan promosinya di kalangan pemuda dan belia. "Oleh karena itu, peran kita akan semakin besar dalam menghadapi penyakit yang bertujuan untuk merusak masyarakat ini." tegas Perdana Menteri Hongaria.
Dalam pertemuannya dengan Syekhul-Azhar, Perdana Menteri Hongaria Viktor Orbán didampingi oleh delegasi tingkat tinggi negara Hongaria. Mereka adalah Peter Szijjarto (Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Hongaria), Marton Nagy (Menteri Pembangunan Ekonomi), Andras Kovacs (Duta Besar Hongaria untuk Mesir), Palaz Orbán (Direktur Urusan Politik Perdana Menteri Hongaria), József Kovacs (Menteri Negara untuk Penerangan Nasional), dan Miklós Maróth (Utusan Perdana Menteri Hongaria).
Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh para pemimpin dan petinggi Al-Azhar, antara lain: Syekh Prof. Dr. Muhammad Adh-Dhuwaini (Wakilul-Azhar), Syekh Prof. Dr. Salamah Dawud (Rektor Universitas Al-Azhar), dan Qadri Abdulmuththalib (Pejabat Protokol dan Hubungan Eksternal Al-Azhar). [hid]