Shadiq Hasub Al-‘Adawi, Sang Imam Zawiyah Ad-Dardiriyyah

Semua orang yang pernah menyelami lautan ilmu di Al-Azhar pasti sudah tidak asing lagi dengan sosok Syekh Ismail Shadiq Al-‘Adawi, sosok imam dan khatib Masjid Al-Azhar pada masanya sekaligus guru dari guru-guru Al-Azhar yang hidup pada saat ini. Manakibnya sangat masyhur.

Selain itu, ketika pengajian-pengajian (baca: talaqqi) di Masjid Al-Azhar dan sekitarnya masih terbilang sepi pada dua dekade sebelumnya, Syekh Ismail Shadiq Al-‘Adawi sebagaimana diceritakan langsung oleh salah satu murid kinasihnya, yakni Syekh Hisyam Al-Kamil, adalah sosok yang menghiasi majelis talaqqi saat itu. Beliau di Masjid Sayidina Al-Husain dan Syekh Ali Jumu’ah di Masjid Al-Azhar. Jasanya begitu besar. Tak ayal, namanya begitu melekat di sanubari talib Al-Azhar dan masyarakat Mesir pada hari ini.

Di balik sosok tersebut, penulis bertanya-tanya, dari mana sosok ini berasal? Di bawah bimbingan siapa? Ternyata ada sosok ayah yang berada di belakangnya, yang mendidiknya sedari kecil hingga menjadi tokoh yang masyhur. Sosok ayah yang dermawan meski sangat jarang orang yang mengetahui detail kisah hidupnya. Setelah mencari beberapa sumber pustaka yang terbilang minim dan langka di toko-toko buku, penulis menemukan beberapa kisah tentang sosok ayah ini.

Perempuan dalam Lintas Sejarah Peradaban Islam
Ulasan singkat atas karangan seorang alamah Syekh Ali Jum’ah. Buku tipis ini menyajikan bagaimana perempuan dalam lintas sejarah peradaban Islam.

Beliau adalah seorang wali nan saleh bernama Shadiq bin Hasub Al-‘Adawi Al-Maliki Ad-Damardasyi Al-Khalwati Al-Azhari, ayah dari Syekh Ismail Shadiq Al-‘Adawi yang namanya masyhur di kalangan civitas academica Al-Azhar hari ini. Hasub yang ada di akhir namanya adalah nama keluarganya yang dinisbahkan kepada Syekh Hasubah Al-‘Adawi, sosok syekh yang semasa dengan Syekh Abdulfattah Ibrahim Al-‘Adawi Al-Maliki.

Syekh Muhammad Ali Makhluf dalam Tārīkh Banī ‘Adī berkata, “Aku pernah melihat nama mereka berdua bersandingan dalam sebuah dokumen tahun 1128 H (1716 M). Dari keluarga ini, muncul seorang wali saleh bernama Syekh Hasub Al-‘Adawi, imam Zawiyah Ad-Dardiriyyah dan anaknya, alim jebolan Al-Azhar bernama Syekh Ismail Shadiq Al-‘Adawi, imam dan khatib Masjid Al-Azhar pada masa kini (tahun 1405 H).”

Kehidupan dan Pengabdian

Syekh Shadiq Al-‘Adawi dilahirkan di di Desa Bani ‘Adi, Markaz Manfaluth, Provinsi Usyuth, Mesir. Dari desa inilah ia dinisbahkan dengan Al-‘Adawi. Di dalam tubuhnya mengalir darah Imam Ad-Dardir dan Sayidina Umar bin Al-Khaththab. Tidak diketahui pada tanggal, bulan, dan tahun berapa ia dilahirkan, karena minimnya sumber yang bercerita tentang biografinya secara eksplisit.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Meski tidak ada narasi gamblang dalam sumber pustaka, masa kecil Syekh Shadiq Hasub besar kemungkinan layaknya kebiasaan para ulama Al-Azhar ketika masih kecil. Belajar di kuttāb, mengafalkan Al-Quran, mempelajari ilmu-ilmu dasar, hingga kemudian pergi ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar sampai selesai.

Setelah demikian, sebagaimana disebutkan oleh Syekh Muhmmad Hasyim Al-‘Asyiri, murid kinasih Syekh Ismail Shadiq Al-‘Adawi dalam kitabnya Anwār Al-Hubb, bahwa Syekh Shadiq Al-‘Adawi beraktivitas selama jangka waktu yang lama sebagai syekh di Zawiyah Ad-Dardiriyyah, tempat disemayamkan jasad kakek buyutnya, Syekh Ahmad Ad-Dardir. Zawiyah yang kelak dipugar menjadi masjid oleh anaknya.

Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Muhammad Hasyim Al-‘Asyiri dalam kitab Anwār Al-Hubb, Syekh Shadiq Al-‘Adawi memiliki perawakan kurus, jalannya pelan, postur tubuhnya pendek, dan warna tubuh coklat kemerah-merahan layaknya orang Sha’id (daerah bagian selatan) Mesir.

Beliau mengambil Tarekat Ad-Damardasyiyyah, hingga kemudian juga mengambil Tarekat Al-Khalwatiyyah. Buah daripada dua jalan menuju Tuhan tersebut membuat beliau menjadi sosok yang zuhud, bertakwa, wara’, alim, tawaduk, dan memiliki bashīrah (mata hati). Dari siang hingga malam, rumahnya senantiasa dipenuhi orang-orang yang datang, baik itu untuk bertamu, mengadukan hajat, ataupun belajar.

Beliau pernah berkata, “Inilah pekerjaanku. Masyarakat senantiasa datang kepadaku di setiap waktu untuk mengadukan masalah mereka. Terkadang, ketika pertengahan malam aku mendengar pasutri yang gaduh, lalu aku bangun dan mendamaikan keduanya. Terkadang, aku juga dimintai tolong oleh orang pada pagi hari untuk sesuatu yang darurat. Inilah diriku. Aku diberi tanggung jawab. Inilah profesiku.”

Khutbah Jumat Amanah adalah Identitas Umat Muslim
Sikap amanah adalah identitas setiap muslim. Teks khutbah Jumat ini mengingatkan kita kembali bahwa amanah adalah karakteristik umat Islam.

Beliau senantiasa menjadi penengah bagi setiap perkara sulit. Beliau juga sangat dermawan. Beliau memberi apa saja sesuai dengan kebutuhan si peminta. Terkadang ada yang pernah diberi mushaf, sebotol parfum, kitab, ataupun doa.

Sosok Ayah yang Peduli

Syekh Shadiq Al-‘Adawi tak hanya seorang wali yang memfokuskan dirinya untuk ibadah saja, namun juga tetap memenuhi kewajibannya sebagai ayah. Sebagaimana disebutkan dalam Anwār Al-Hubb, Syekh Shadiq Al-‘Adawi mempunyai dua anak laki-laki: Ismail dan Muhammad. Adapun Muhammad, ia bekerja di Percetakan Al-Amiriyyah, Bulaq. Sedangkan Ismail, ialah anak yang menjadi imam Masjid Al-Azhar dan penerus Zawiyah Ad-Dardiriyyah setelah sang ayah wafat.

Dua anaknya ini beliau didik dengan pendidikan yang baik. Mereka dibimbing dalam menghafal Al-Quran, mempelajari beberapa ilmu dasar agama, dan dibiasakan berkumpul dengan ulama-ulama di majelis ilmu, para muhadits, para cendekiawan, serta para tokoh pemikir.

Akhir Hayat

Syekh Shadiq Al-‘Adawi adalah seorang figur dan contoh suri teladan dalam kedermawanan. Hidupnya dipenuhi dengan kebaikan. Bahkan, di detik-detik kewafatannya saja beliau masih sempat bersedekah kepada fakir miskin yang meminta kepadanya, lalu memberikan 20 Qirsy Mesir, jumlah uang Mesir yang terbilang besar pada saat itu. Dengan sedekah terakhir yang diabadikan oleh Syekh Muhammad Al-Masyiri ini dalam kitab Anwār Al-Hubb ini, Syekh Shadiq Al-‘Adawi menghembuskan nafas terakhirnya untuk menghadap Tuhan, tepatnya pada hari Ahad, 26 Zulkaidah 1376 H (23 Juni 1957 M). Jasadnya kemudian dimakamkan di Qarafah Mujawirin, di kompleks pemakaman masyarakat Bani ‘Adi yang menetap di Kairo.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Amirul Mukminin