Skip to content

Syekh Abbas Syuman: Dari Isu Perempuan hingga Game, Umat Butuh Solusi Berbasis Nilai

Ketua OIAA Pusat Syekh Abbas Syuman soroti isu perempuan, gaya hidup, dan game. Solusi umat harus kembali ke nilai agama dan kesadaran bersama.

FOTO Syekh Abbas Syuman saat menyampaikan pidato di forum.

TAWAZUN.ID — Ketua Organisasi Alumni Al-Azhar Internasional (OIAA) Pusat dan Sekjen Dewan Ulama Senior Al-Azhar Syekh Prof. Dr. Abbas Syuman menegaskan bahwa banyak pendekatan terhadap isu perempuan dan keluarga dewasa ini justru memperburuk keadaan dan membawa lebih banyak mudarat ketimbang maslahat. Hal itu ia sampaikan di hari kedua dalam forum Multaqa Asy-Syabab wa Tahaddiyat Al-‘Ashr (Forum Pemuda dan Tantangan Zaman), Senin (14/7), di bawah naungan Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah bekerja sama dengan Dewan Pemuda Mesir untuk Pembangunan.

Dalam sesi bertajuk Penyimpangan Kontemporer Terkait Isu Perempuan dan Keluarga serta Bahayanya bagi Masyarakat, Syekh Abbas Syuman menyebut bahwa sebagian solusi yang ditawarkan hanya berpihak pada kepentingan golongan tertentu dan mengabaikan prinsip-prinsip syariat. Ia mencontohkan polemik soal warisan dan seruan pernikahan muslimah dengan nonmuslim, yang menurutnya “justru bertentangan dengan hukum Islam dan merugikan perempuan dalam jangka panjang.”

"Klaim kesetaraan mutlak dalam warisan memang tampak memberi kelebihan dalam dua kasus," ungkap Prof. Syuman, "tetapi ia juga menimbulkan kerugian dalam lebih dari tiga puluh perkara lain."

Ia mengkritik lembaga-lembaga yang menangani isu perempuan karena seringkali kurang cermat membaca realitas sosial dan dimensi keagamaannya, sehingga solusi yang mereka usulkan semakin mempersulit perempuan dan meretakkan struktur keluarga.

Lebih lanjut, Syekh Abbas Syuman menyampaikan keprihatinan atas maraknya gaya hidup konsumtif, pola pakaian yang tidak pantas, dan istilah vulgar yang digunakan kalangan muda. Ia menyebut fenomena itu sebagai “ancaman nyata terhadap nilai keluarga dan masyarakat.” Menurutnya, keasyikan pada tren asing dan fesyen terbuka bukanlah kebebasan, melainkan “pembiaran yang membahayakan identitas umat.”

“Bagaimana kita bisa berharap mereka kelak menjadi orang tua yang baik dan mendidik generasi masa depan?” tanyanya retoris.

Ia juga menyoroti bahaya kecanduan game daring dan narkoba, menyebutnya sebagai "musuh yang merusak secara total." Syekh Abbas Syuman menilai banyak keluarga tanpa sadar ikut andil dalam kerusakan itu. Beberapa orang tua bahkan membayar utang game anaknya, alih-alih membiarkan mereka belajar dari kesalahan dan mendorong mereka bertanggung jawab atas tindakannya.

Perempuan

Kumpulan postingan tulisan yang mengangkat isu perempuan dalam pandangan Islam

di sini

Dalam narasi yang menyentuh, Syekh Abbas Syuman menceritakan kisah klasik tentang penyair Al-Ashma’i yang bertemu seorang pemuda pembersih WC namun bersyair indah. Pemuda itu menjawab bahwa lebih baik membersihkan WC daripada “mengemis kepada orang-orang sepertimu.” Kisah ini, menurut Syekh Syuman, mengajarkan pentingnya martabat lewat kerja yang halal, sekecil apa pun itu.

Ia mengajak para pemuda untuk tidak menunggu pekerjaan impian atau jabatan tinggi tanpa usaha. “Tidak ada aib dalam pekerjaan halal. Aib adalah ketika seorang pemuda menolak bekerja dan membiarkan ibunya membersihkan rumah orang demi menafkahinya,” tegasnya.

Syekh Prof. Dr. Abbas Syuman juga menegaskan perlunya pendidikan karakter berbasis agama yang tidak hanya berhenti di masjid. "Agama bukan hanya di tempat ibadah. Tapi juga dalam etika, kejujuran, dan semangat mencari nafkah halal," ujarnya.

Sebagai penutup, ia mengingatkan tentang bahaya penjajahan pemikiran yang lebih menghancurkan daripada penjajahan fisik. Menurutnya, musuh-musuh umat berusaha mengalihkan pemuda dari produktivitas dan memecah-belah masyarakat melalui hiburan kosong dan kemewahan semu.

“Kalian, wahai para pemuda, adalah harapan untuk mengembalikan masyarakat kepada jalur yang benar,” seru Syekh Syuman, “tapi itu hanya bisa dicapai dengan kesadaran, kerja keras, dan komitmen terhadap nilai-nilai luhur.”

Acara ini merupakan bagian dari kerja sama strategis antara Al-Azhar dan berbagai lembaga nasional dalam upaya memperkuat peran generasi muda dalam membangun masa depan bangsa.


💡
Baca juga warta lain di rubrik BERITA atau pilih ragam tulisan lain di Situs Tawazun ID

Latest